Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 2. Malam Nona Nada dan Tuan Radit


__ADS_3

Di malam yang sama di tempat yang berbeda. Di sebuah kamar yang luas, Radit dan Nada saling memandang.


"Dibuka Dear," ucap Radit sambil mengusap usap perut Nada.


"Sebentar lagi, Yang. Nanggung kan," jawab Nada.


"Biar enak," Radit menggebu.


"Aku pengen posisinya yang seperti ini, Yang. Enggak mau posisi yang lain, Kenapa protes aja sih?" tanya Nada sewot.


"Aku pengenya kamu enak, enggak kerepotan kayak gitu, kalo di bawah kasian kamunya lo Yang," protes Radit sambil menatap ke arah istri cantiknya.


"Tapi aku enak juga kalo seperti ini, aku nggak mau di atas," sanggah Nada.


"Kenapa kamu ngeyel sekali Dear?" sentak Radit.


"Kenapa selalu kamu yang repot Yang? Aku maunya begini, makan seblak sambil duduk di bawah. Aku nggak mau duduk di sofa seperti kamu," Nada membantah dan meletakan seblak yang di pesan dari Online itu di meja dengan kasar.


Nada berdiri dan berjalan ke arah balkon kamar dengan wajah masamnya. Radit menepuk jidatnya dan menghela napas panjang. Selalu seperti ini, Radit dan Nada selalu berantem di saat yang tidak tepat. Selalu berbeda pendapat semenjak emosi Nada yang berubah ubah semenjak hamil.


Radit berjalan ke arah balkon kamar dan mendekat ke arah Nada yang kini sedang memandang ke arah langit malam yang bertabur bintang nan indah.


Radit melingkarkan tangannya di pinggang Nada, mengusap usap perut Nada yang terlihat sedikit membuncit. Perlakuan Radit membuat Nada memejamkan matanya dan merasakan denyutan di perutnya.


Radit meletakan dagunya di pundak Nada, bibirnya menempel sempurna di pipi mulus Nada. Nada yang semula emosi kini menoleh ke arah Radit, hingga wajah mereka saling menyatu. Nada memutar langkahnya hingga keduanya berhadapan dengan sempurna.


Radit meletakan dahinya di dahi Nada, hidungnya juga menempel di hidung Nada. Dirinya menatap ke arah bola mata nan indah milik Nada Aira Azzahwa. Istri cantik yang selalu membuat dirinya jatuh cinta dan selalu jatuh cinta.


"Apa yang membuatmu emosi terus? Apa aku berbuat salah Nona Muda?" Radit merapatkan tubuhnya ke arah Nada dan mengangkat dagu Nada hingga bibirnya mendekat ke arah bibir Nada. Mengecup lembut hal indah yang diciptakan oleh Tuhan YME itu.


Nada meneteskan air mata, menatap Radit dengan sendu.


"Hei, kenapa menangis Dear?" Radit mencium pipi Nada, mencoba menghilangkan lelehan air mata dari pipi istrinya. Mengecup air mata yang luruh di sana.


"Kenapa di kecup?" tanya Nada sambil tersenyum dan mengusap bibir Radit yang basah karna air mata dengan tangan kanannya.


"Supaya air matamu hilang, apa lagi memang?" jawab Radit sambil mengusap pipi istrinya. Nada tersenyum, Radit memang selalu pandai membuatnya bahagia.


"Asin nggak Yang?" tanya Nada dengan wajah imutnya.


Radit terkekeh pelan. Radit memeluk erat Nada dalam dekap hangatnya. Netranya memandang ke arah langit malam yang indah.


"Asin, asin sekali. Seperti air laut, asin tetapi selalu menarik perhatian, membuat orang bahagia," jawab Radit.

__ADS_1


"Oh, jadi maksudmu, kamu bahagia kalau aku menangis begitu?" tanya Nada sewot. Radit membelalakan matanya, bukan itu maksudnya.


Radit melepas pelukanya kemudian mamandang makhluk ciptaan Tuhan YME yang sangat indah baginya itu.


"Bukan begitu," sanggahnya.


"Lalu?" tanya Nada agak sewot.


"Lupakan, yang jelas bagiku kamu adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah, menarik perhatian dan sangat istimewa." Radit tersenyum ke arah Nada dan mengusap puncak kepala istri cantiknya itu.


"Gombal," celetuk Nada kemudian melepaskan dirinya dari dekapan hangat Radit.


Mama Mira yang menyaksikan pemandangan itu dari bawah sana tampak mengusap setitik air mata yang keluar tanpa diminta. Bahagia merayap di hatinya melihat kebahagiaan Radit dan Nada. Tapi, Micela yang kini jauh darinya seakan memenuhi pelupuk matanya.


Putri cantik yang baru saja sembuh, baru saja menjalin hubungan baik dengannya dan kini dibawa pergi suaminya.


"Baik baik di sana Sayang," lirih Mama Mira.


"Mama," Nada yang melihat Mama Mira di bawah kini menatap ke arah Radit.


Radit melihat ke bawah dan mendapati Mama Mira menoleh ke atas.


"Mama kenapa belum tidur?" tanya Nada. Nada membuka pagar pembatas dan menekan tombol otomatis. Pintu rahasia yang menghubungkan dengan taman terbuka. Radit dan Nada segera turun dan menghampiri Mama Mira di bawah sana.


"Mama kenapa belum tidur? Sebaikanya Mama tidur, ini sudah larut malam," ucap Nada sambil menatap ke arah Mama Mertuanya dengan tenang.


"Kamu juga harus istirahat, sudah malam. Tidak baik begadang sayang," ucap Mama Mira sambil tersenyum.


"Aku istirahat jika mama istirahat juga," ucap Nada.


"Okey, mama masuk," ucapnya.


"Ma," panggil Radit.


"Ya," jawab Mama Mira.


"Mama aku titip Nada disini bersama Mama, Marvel ada urusan sebentar ke luar kota besok pagi," ucap Radit sambil berjalan kearah dua wanita berbeda generasi itu dengan tenang. Mama Mira dan Nada menoleh ke arah Radit.


"Mau kemana, Marvel?" tanya Mama Mira sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipinya.


"Aku ada pertemuan dengan klien, Marvel harap Mama mau menemani Nada. Sekarang kan Micel tidak di sini. Aku akan berusaha kembali dengan cepat nanti." ucap Radit. Mama Mira menatap ke arah Nada kemudian mengangguk pelan.


Nada tampak bersedih, rasa hatinya enggan untuk berpisah dari suaminya. Nada sedikit gusar, bersama Radit adalah kebahagiaan baginya lalu bagaimana jika mereka berjauhan?

__ADS_1


"Aku pamit sekarang Ma, karna besok pagi pagi sekali aku sudah harus berangkat," ucapnya sambil mencium tangan ibunya dan mencium pipinya.


"Yang," sapa Nada.


Radit menoleh kearah Nada yang menampakkan mata yang sembab.


"Hemmm," jawab Radit.


"Kamu akan kembali untukku kan?" tanyanya pada Radit.


Radit mendekat ke arah Nada dan mengusap pelan puncak kepala istri cantiknya. Rasa sesak menyeruak di dadanya ketika mendapat pertanyaan dari Nada.


"Aku akan kembali ke rumah. Akan kembali untuk kamu dan juga baby kita, Dear. Lalu, kenapa bertanya seperti itu? Hem?" tanya Radit sambil menatap ke arah Nada.


"Aku takut kamu tidak kembali, aku takut kamu bertemu mantanmu di sana dan melupakan aku," ucap Nada. Radit tersenyum, ada ada saja pemikiran ibu hamil. Pikirnya.


"Bukankah kamu tau aku sangat mencintaimu?' tanya Radit. Nada menundukan kepalanya. Air matanya kembali mengalir. Memang benar jika Radit sangat mencintainya.


"Aku tau. Tapi kamu tega meninggalkanku?" ucap Nada. Dirinya sangat takut berjauhan, bahkan dia sulit tidur jika tidak memeluk tubuh suaminya.


"Aku hanya sebentar," ucap Radit. Radit yang menahan sesak yang menyeruak di dadanya segera mendekati istrinya. Menyadari Nada bersedih sebenarnya membuat Radit enggan untuk pergi.


"Yang, bisakah kamu tetap tinggal? Aku tidak sanggup untuk berjauhan," pinta Nada. Nada sangat manja, memang. Bahkan dia sangat sensitif, cepat marah akan tetapi juga cepat baik lagi.


Belum juga menjawab, perkataanya harus terhenti karna dering ponsel dari Klien. Radit tampak menganggukan kepalanya dan mengakhiri panggilan, kemudian mengembalikan ponsel ke dalam sakunya.


"Aku harus pergi malam ini, Ma." ucap Radit.


Deg


Dada Nada terasa sesak, Nada memeluk erat tubuh Radit dan menumpahkan segala keluh dan kesah di sana. Akan tetapi, karna terburu, Radit melepaskan pelukan Nada.


"Jangan menangis Dear. Aku mohon, Aku akan kembali untukmu secepatnya," ucap Radit kemudian mengusap perut Nada. Mencium perut Nada, puncak kepala Nada dan mencium pipi Mama Mira.


"Titip calon baby dan istriku Ma, aku harus berangkat sekarang juga," ucap Radit dan diangguki oleh mamanya.


Nada mematung di tempatnya, memandang mobil yang kian menjauh dari pandangan matanya. Nada memejamkan matanya. menepis semua rasa sesak yang menyeruak di hatinya.


"Ini menyakitkan.Tapi aku akan baik-baik saja sampai kamu kembali lagi dengan membawa sejuta cinta untukku." lirihnya.


"Sebaiknya kita masuk, Nad. Sudah malam, istirahatlah!" ucap Mama Mira dan diangguki Oleh Nada.


Nada kembali ke dalam Mansion, di tememani ibu mertuanya.

__ADS_1


🎀🎀🎀


__ADS_2