
"Wanita sial, selalu membuat kesialan di hidupku. Kau harus bertanggung jawab atas ini," ucap Radit sambil menunjuk kepalanya yang di perban.
Di ruang tamu apartemen Radit, kini Nada duduk di depan Radit. Matanya menunduk, tak ada percakapan sedikitpun. Rasa sakit menghujam hatinya. Syok juga masih melanda.
Ayah Hasaan dan Arfan saling bersebelahan. Dani duduk di sebelah Radit. Radit memandang pemandangan di depannya, wanita cantik dengan bibir ranum merah muda, hidung mancung, wajah putih bersih meski tanpa riasan sedikitpun, dan di kepalanya berhias hijab yang menyembunyikan rambut indahnya.
Nada mendongak mendapati Radit yang memandangi nya, sesegera Radit mengalihkan pandangannya.
"Apa yang ingin anda bicarakan Tuan Dani?" tanya Arfan dengan sorot mata tanjamnya.
"Tandatangani berkas ini, dan tinggalkan tempat ini sekarang juga. Kalian tidak punya pilihan. Besok pagi aku akan mengurus segala keperluan pernikahan. Datang tepat waktu di tempat yang di tentukan. Jika kalian macam-macam, ibu anda yang akan menanggung akibatnya," ucap Dani lagi.
Nada terkejut dan membelabakkan kedua matanya. Apa pernikahan ini bukan lelucon? Apa orang seperti Radit yang dianggap baik, ternyata seperti iblis ini yang akan menjadi suaminya?
Arfan tampak mengepalkan tangannya. Ayah hanya bisa menghela napas panjang dan menatap putri semata wayangnya yang tampak menghapus air matanya.
Radit tampak terdiam. Mempunyai asisten seperti Dani memang tak diragukan lagi. Ketika Radit begitu kejam, maka Dani bisa lebih dari itu.
"Tandatangani persetujuan itu atau aku akan menghancurkan kalian sekarang juga!" suara Dani terdengar lantang. Arfan melirik ke arah Nada.
"Tidak akan pernah aku lakukan, hancurkan saja. Jangan karna kalian mempunyai kekuasaan lalu kalian bisa seenaknya," ucap Arfan kemudian berdiri. Ayah juga melakukan hal yang sama. Arfan juga menarik tangan Nada untuk keluar dari tempat itu.
"Baik, sepertinya kalian memang ingin bermain-main dengan kami!"
Dani mengambil ponselnya dan meletakkan di telinganya.
"Lakukan seperti yang saya intruksikan, pastikan Ibu Lisa Amelia menghembuskan napas terakhirnya," ucap Dani dengan seringai tipisnya.
Deg
Langkah mereka terhenti. Jantung Nada seakan terhantam batu besar, air matanya mengalir deras. Ayah tampak memegang dadanya. Arfan mengepalkan tangannya. Mereka tidak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
Nada yang khawatir terhadap keluarganya tampak melepas tangan kakaknya dan kembali ke tempat asal kemudian meraih berkas yang berada di atas meja.
Kini ia berjalan ke arah Radit, melewati Dani yang berdiri di sampingnya. Nada melempar berkas itu pada Radit. Radit sontak berdiri dan menatap tajam ke arah wanita yang mengalirkan tetesan air mata di pipinya.
"Kita menikah besok," cetus Nada.
"Kau, lelaki jahat yang pernah hidup di dunia ini. Ku pikir satu milyar uangmu adalah bukti kebaikan dan ketulusan hati manusia sepertimu. Ternyata kau tidak lebih dari manusia bejat, aku akan mengembalikan uangmu," ucap Nada.
"Ciihhh, bahkan kau masih sesombong itu Nona!" ucap Radit sinis, Nada hanya memalingkan wajahnya enggan membalas apa yang diucapkan Radit.
Radit tampak mengepalkan tangannya. Gadis itu benar-benar membuat dirinya emosi.
"Aku akan mengirimkan berkasku di ponselmu Tuan Marvel Raditia Dika," ucap Nada tegas.
Nada melangkahkan kakinya. Namun, langkah Nada terhenti dan kembali memutar langkahnya. Dia menghampiri Dani yang memandangnya dengan wajah angkuhnya.
"Kau, mulai besok aku adalah istri dari bosmu. Lakukan semua perintahku, termasuk membuat ibumu menghembuskan napas terakhir," ucap Nada kemudian melangkah pergi.
Dani tersedak udara, bahkan sebenarnya dia tadi tidak benar-benar menelpon orang. Itu hanya strategi untuk menggretak Nada saja. Radit mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah Dani. Ternyata ancaman gadis itu mampu membuat Asistennya itu gentar.
"Gadis yang istimewa, jika banyak orang diluar sana yang kagum, bahkan berebut untuk mendapatkan pernikahan denganku, lantas dimana letak hatimu? Apa tidak tertarik sedikitpun denganku?" lirih Radit sambil menatap punggung Nada yang hilang di balik pintu.
Radit dan Dani saling berpandangan, Radit tersenyum dan mendorong pundak Asistennya.
"Sepertinya mulai besok aku akan mempunyai bos yang sangat dendam denganku, aku harus berhati-hati," keluh Dani.
Radit tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tenang saja, pernikahan ini tidak akan lama. Kau tidak akan lama mempunyai bos sepertinya, bos galak, jutek, sombong dan..."
"Dan cantikkan? Dia juga begitu mempesona. Kau bisa memberikannya padaku bila nanti kau mencampakanya," ucap Dani.
__ADS_1
Deg,
Mendengar ucapan Dani membuat jantung Radit berdetak hebat. Namun, dia segera menepis perasaan itu.
"Kau berharap sisa dariku?" tanya Radit. Dani tersenyum dan memandang Radit.
"Kalau sisanya seperti dia, dengan senang hati." ucap Dani.
"Kau bosan hidup?" ucap Radit tampak emosi.
"Mana berani mati sekarang," sewot Dani. Radit tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Istirahatlah, besok kau harus menikah," ucap Dani.
"Oke, nanti aku kirim berkas wanita itu untuk mengurus persaratannya, kau istirahatlah juga," ucapnya. Dani mengangguk dan melangkah pergi.
Radit mengambil ponselnya di nakas, ponsel yang dibiarkan mati sejak beberapa hari yang lalu.
Radit menghidupkan ponselnya dan banyak sekali pesan dan panggilan masuk di sana. Nomer baru yang kini menjadi pusat pehatiannya. Nomor yang menampilkan profil kupu yang indah.
Segera Radit membuka pesan di sana.
Assalamualaikum, Maaf Tuan Radit, apa anda sibuk? Aku akan membayar hutang, boleh aku ke kantormu?
Tuan Radit, aku sudah di depan. Atau mungkin kirim no rekening saja, jika aku menganggu?
Dan masih banyak lagi pesan dari nomor itu, panggilan tak terjawab bahkan voice not. Terakhir Radit membuka file dokumen yang baru saja di kirim pemilik nomer. Radit membuka file itu dan membaca sekilas.
"Nada Aira Azzahwa," lirih Radit. Seulas senyum terbit di bibir indahnyanya.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1