
"Hentikan!!!"
Micela berteriak lantang, mencoba menghentikan aksi saling adu kekuatan itu. Vito maju, menarik tangan Nicho. Nicho menepis tangan kakaknya, menyiku dada Vito sehingga Vito mundur beberapa langkah sambil memegang dadanya yang terasa sesak akibat pukulan Nicho.
Nicho kembali maju dan melemparkan satu bogem mentah dan berhasil mendarat di pipi Vino, Vino tak tak tinggal diam. Dia membalas pukulan Nicho. Namun yang membuat nya terkejut adalah ketika dia sadar bahwa yang tengah dia pukul adalah wanita cantik yang kini berdiri diantara dirinya dan Nicho, sambil memegang pipinya yang memar akibat bogem mentah yang di lontarkan Vino.
"Mama,"
"Kakak,"
"Sayang,"
Micel, Alda, Aldi dan Vito berucap serempak.
Vino yang masih terkejut tampak terpaku dan mematung. Bagaimana bisa wanita cantik itu tiba tiba berdiri diantara dirinya dan Nicho? Siapa mereka. Bagaimana bisa wanita itu membahayakan dirinya?
"****," kesal Vino.
Vino dan Davina saling menatap, Entah apa yang menjadikan suasana tampak sesak. Davina terhuyung mundur, segera Vito menyambar tubuh istrinya yang tengah tak sadarkan diri dan membawa tubuh wanita itu ke dalam Vila diikuti dua anak kembarnya.
Micela menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Segera dia mendekat ke arah Vino dan Nicho, mencoba melerai dua orang yang bersahabat itu.
"Hentikan," ucap Micel panik.
Namun Nicho yang tengah emosi melihat kakaknya tak sadarkan diri, segera memberi tendangan di dada bidang Vino dan membuat Vino mundur.
Semburan darah keluar dari mulutnya, Nicho mengeluarkan tenaga dengan ekstra dan ingin melihat Vino habis di tangannya kali ini juga.
Vino, menatap tajam ke arah Nicho dengan mengeratkan rahang tegasnya. Mengepalkan tangannya dan memberikan tendangan juga.
Micel, mencoba untuk tetap tenang, sesak sekali melihat perkelahian ini. Micel menggelengkan kepalanya bagaimana caranya untuk menghentikan aksi mereka? Micel memejamkan mata indahnya. Segera Micel mendekat, memasang kuda kuda dan berlari dengan cepat. Sebenarnya dia ragu, tapi dengan kemampuan waktu itu melawan penjahat, dia tau dia bisa melakukannya. Dia yakin dia menguasai ilmu bela diri.
Micel melompat, menendang dada Vino dan juga Nicho sehingga mereka terhuyung mundur dan tumbang bersama sama.
__ADS_1
Micel berdiri diantara Vino dan Nicho yang tengah terbaring di tanah itu.
"Aku harap Tuhan masih menyayangi kalian sehingga kalian hidup tanpa kekurangan apapun," ucap Micel.
"Selesaikan masalah kalian, aku pusing melihat tingkah konyol kalian ini, benar-benar memalukan," gerutu Micel kemudian melenggang pergi menuju ke arah Vila. Vino dan Nicho saling berpandangan. Sama sama merasakan sakit, kini duanya berbaring dengan sempurna.
"Apa kau tau kesalahan mu?"
tanya Vino dingin.
"Tidak, aku tidak tau, aku tidak melakukan apapun," jawab Nicho. Vino mengepalkan tangannya geram.
"Kau mendekati istri orang lain, mencari kesempatan mendekatinya, mencoba merayunya. Apa kau pikir tak ada wanita lain selain istriku untuk mendapatkan rayuanmu?" ucap Vino panjang lebar.
Nicho terkekeh lirih,
"Apa kau cemburu?"tanya Nicho menarik sambil menarik lengan Vino, Vino menghempaskan tangan Nicho dengan tersenyum sinis.
"Aku sudah katakan, jika kau membuatnya menangis, maka kau berhadapan denganku. Aku tidak bermaksud merebutnya, aku hanya ingin melihat nya bahagia,hanya itu," ucap Nicho kemudian bangkit dan berdiri.
"Siapa aku? Itu tidak penting," desis Nicho.
"Kau itu manusia menyedihkan. Aku tidak sudi bersahabat dengan manusia licik seperti mu. Ku harap kau pergi dari hadapan ku jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapan ku!"
Mata keduanya merah berkaca, Vino berdiri juga, menatap wajah di depannya.
"Setidaknya aku bahagia kau memukulku, kau hampir menghabisi dengan tanganmu, hanya karna Micela. Kau itu cemburu, Tuan Alvino pradikta. Aku harap perbaiki kelakuanmu, sekali lagi aku melihatnya kecewa, jangan pernah kau berpikir aku membiarkan dia pergi bersamamu," ucap Nicho kemudian melangkah pergi.
Vino mengepalkan tanganya, memandang punggung Nicho yang menjauh dari pandangannya.
❤❤❤
Davina sudah siuman dan memandang ke arah Micela. Menatap Vino membuat dirinya merasakan desiran aneh. Apa yang dia rasakan? Dia sudah bersuami. Kenapa ada perasaan aneh pada lelaki yang telah menjadi suami dari Micela?
__ADS_1
"Adel, sebaiknya kamu pulang sekarang. Suamimu sangat emosi, dan pastinya kalian butuh waktu untuk saling berbicara," ucap Davina. Micel terdiam.
"Kakak tidak papa?" tanyanya.
"Aku sudah membaik, lagi pula ada Kak Vito dan Nicho juga di sini," ucapnya. Micel mengangguk pelan kemudian pamit pulang.
"kalau begitu aku pamit Kak," ucapnya dan diangguki oleh Davina.
Micela melangkah pergi, Davina merasa lega Dia tidak mau perasaannya semakin kacau karena bertemu dengan Vino. Tidak mau juga suaminya salah paham dengan perasaannya. Hampir saja Micel keluar, dia berpapasan dengan Nicho yang hampir saja masuk.
Keduanya saling berpandangan, Micel berhenti sejenak dan menatap wajah banyak lebam itu.
"Kak, maafkan aku. Aku..."
"Sudahlah, ini tidak papa. Pulanglah, selesaikan masalahmu dengan suamimu," ucap Nicho sambil mengusap pelan pipi Micela kemudian melenggang pergi dengan perasaan yang tak karuan.
Micela memejamkan matanya, sekarang dia yakin bahwa Nicho menyimpan perasaan padanya. Apa di kehidupan sebenarnya memang seperti ini keadaannya? Ada hubungan apa dia dan Nicho?
Tuhan, Kenapa bukan Kak Nicho saja yang menikah denganku? Kenapa aku menikah dengan Kak Vino yang jelas jelas tak memperdulikan aku?
Mucel melanjutkan langkahnya, keluar dari Vila itu.
"Ayo pulang sekarang juga, jangan memperlambat waktu." ucap Vino saat Micela keluar dari Vila.
Micel menoleh, dilihatnya Vino bersandar di dinding dengan kedua tangan di saku celana. Berdiri dengan satu kaki, satu kaki lainya terangkat dan bertumpu di dinding.
Keduanya saling berpandangan, untuk keduanya Vino melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Micel memang menguasai ilmu bela diri. Apa sebenarnya yang terjadi? Belumkah dia mengenal Micel luar dalam?
Micel melirik wajah lebam Vino dengan dongkol, entah kenapa di dekat Vino selalu saja membuatnya sesak. Tak mau menjawab apapun, kini Micela melangkahkan kaki jenjangnya ke bawah dan menuju ke arah parkiran. Bayangan wajah hawatir Mama Elina sudah memenuhi otaknya. Dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Mama mertuanya itu.
Micel melangkah dan segera masuk ke dalam mobil, Vino mengikuti langkah Micela dan masuk ke dalam mobil juga.
Vino melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 20.00. Kembali ke kota X? Sepertinya sangat memakan waktu, Tanpa berpikir apapun, Vino melajukan mobilnya. Micel hanya berdiam dan tak mau membuka pembicaraan. Mulutnya yang sejak tadi diam, terasa gatal jika terus saja berdiam ketika otaknya melihat Vino malah melajukan mobilnya ke arah lain.
__ADS_1
"Kenapa tidak pada jalur pulang? Mau kemana ini Kak?" sentaknya. Vino terdiam tak menjawab ucapan Micela.
❤❤❤❤