
Vino memejamkan matanya sejenak, jantungnya berdetak hebat. Vino memandang wajah cantik di depannya, wajah seseorang di hadapannya yang menatapnya dengan sorot mata yang teduh. Sejenak Vino terpesona, senyum tipis menghiasi bibirnya.
Wajah itu begitu cantik dan sanggup mendebarkan hatinya. Tetapi, lama memandang wajah itu mengingatkan nya pada seseorang yang dia tunggu. Seseorang yang membuat hatinya berdebar tak menentu, orang yang sedari kemaren membuatnya jatuh dalam sebuah rasa gelisah yang sangat menyiksa.
Vino menatap lekat wajah cantik itu dengan binar mata yang bahagia. Dia ikut kesini papanya karna Willy memberikan informasi keberadaan Micel Adelia yang dia cari, gadis kecil itu berada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang dituju papanya.
Alangkah terkejutnya dia saat dia mengetahui jika gadis cantik di depannya adalah gadis cantik yang dicari. Dan hal yang mencengangkan adalah ketika mengetahui gadis yang dia cari adalah adik dari sahabatnya sendiri.
"Micel," ucap Vino.
Radit membelalakkan matanya mendengar samar suara Vino yang menyebut nama adiknya. Padahal dirinya tak pernah memberi tau, bagaimana bisa Vino tau nama adiknya?
Micel menerbitkan senyum indahnya, kepalanya seakan ringan ketika mendapatkan bayangan orang yang menyiksa kini berada di depannya. Satu wajah yang begitu memenuhi otaknya sedari tadi. Micel tampak bahagia dan menatap Vino dengan tenang.
"Kak Vino," ucapnya. Nama itu terngiang di benaknya. Kafe Mawar, Vino, Nada. Hanya itu yang mampu diingatnya. Kenapa dan mengapa? Dia juga tak tau.
Deg
Jantung Vino berdetak hebat, saat mengingat Radit mengatakan jika adiknya amnesia. Lalu, bagaimana bisa gadis kecil di depannya mampu menyebutkan namanya? Vino menghela napas dalam-dalam. Perasaan apa ini? Khawatir, bahagia, semua bertumpu menjadi satu dalam benaknya. Sesak sekali rasanya.
Uhuk, uhuk,
Radit tampak tersedak udara, bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana bisa Micel mengenal Vino dan mampu mengingatnya saat dirinya amnesia? Ada hubungan apa adik cantiknya denga Vino sahabatnya? Radit memejamkan matanya.
Suara sedakan Radit membuat Vino menoleh ke arah nenek dan juga Radit berada. Vino tampak bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Dia melihat Radit yang memandangnya seolah meminta penjelasan padanya dengan tatapan tajam yang mendominasi.
"Kau bisa jelaskan?" tanya Radit. Vino menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan dia juga bingung bagaimana menjelaskan karna keterkejutannya. Bagaimana hubungannya dengan Micel? Bahkan mereka belum memulai apapun. Hanya entah kenapa Micel selalu ada di kepala Vino.
Micel adik Radit? Adik ipar dari Nada? Wanita yang sempat singgah di hatinya. Lalu apa tidak salah dengan hatinya? Kenapa hatinya sanggup berdebar hebat saat melihat tatapan mata Micel? Keadaan macam apa ini? Kanapa dia harus teejebak dalam situasi yang sangat menyedihkan seperti ini?
"Kak Vino?" tanya Micel lagi. Gadis cantik yang tadi tampak berbinar kini tampak kecewa karna orang yang ada di depannya seakan mengabaikan pertanyaanya.
Micel memejamkan matanya, entah rasanya hatinya sakit. Entah kenapa bahkan dia tak mampu menerjemahkan rasa sesak yang menyeruak di dadanya. Rasa sesak yang mendorong matanya untuk mengeluarkan setitik air mata.
Radit menatap ke arah dua orang itu bergantian, dia tau arti pandangan mereka. Ada rasa yang menyelinap dan keadaan yang membuat sesak. Vino pernah menyukai Nada, dan beberapa waktu yang lalu baru saja patah hati mungkin karna mengetahui status Nada yang menjadi istrinya. Mungkin waktu itu tampak biasa, tapi hati tak ada yang tau.
__ADS_1
Kata Dokter Arfan yang mampu diingat Micel adalah sebuah hal indah, jika dia mengingat Vino, apa artinya Vino sepesial di hati Micel. Lalu, apa maksud Vino? Apa Micel adalah pelariannya dari Nada? Radit mengeratkan tangannya dan menatap Vino dengan sedikit geram.
Dilihatnya Vino mengulurkan tangannya, mengusap air mata Micel yang luruh di pipi mulusnya. Micel memejamkan matanya, sentuhan itu mampu membuatnya tenang.
Radit semakin yakin bila ada hal sepesial diantara keduanya. Astaga, dia takut adiknya hanya sebuah pelarian, dia takut pada akhirnya Micel akan patahati. Radit menghela napas panjang.
"Hai gadis, kau sakit?" tanya Vino sambil menatap Micel yang memandangnya dengan tenang.
"Sudah tidak lagi, melihat kakak kepalaku rasanya tidak pusing lagi," ucap Micel.
Vino menyerahkan buket bunga pada Micel, gadis cantik itu menerima bingkisan dengan senang dan bahagia. Micel menerima bunga itu dan menghirup dalam-dalam sehingga membuat Micel merasakan tenang di hatinya.
"Terimakasih Kak," ucapnya.
"Itu pemberian dari adiknya kakak untukmu, aku harap kamu suka dan segera sembuh," ucap Vino sambil tersenyum menatap ke arah Micel.
Micel merasa bahagia, entah perasaan yang bagaimana yang menyelinap di hatinya. Yang jelas melihat Vino menjenguknya adalah hal yang membahagiakan sekali baginya.
"Vino, kita harus bicara," ucap Radit. Vino menatap ke arah Radit. Netranya menemukan sebuah kekecewaan di pandangan Radit. Pasti apa yang ada di pikiran Radit sama dengan apa yang ada di benaknya.
"Micel, aku harus pergi sebentar bersama kakakmu," ucap Vino sambil menatap intens wajah cantik itu.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Vino pada Radit yang kini menatapnya dengan tenang di koridor rumah sakit itu.
"Sepertinya ada hal yang sepesial diantara kalian," ucap Radit sambil menatap gelagat wajah Vino yang khawatir sama sepertinya. Bahkan Vino tak tau bagaimana dengan perasaanya sendiri.
Vino menyunggingkan senyum datarnya dengan mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"Jangan menyimpulkan sesuatu sepihak saja," ucap Vino.
Ucapan Vino seakan menegaskan bahwa yang ada diotaknya tak seperti kenyatan. Lalu, jika Micel mengingat Vino, bukankah Vino sepesial. Lalu, kenapa Vino mengatakan jangan menyimpulkan sepihak? Radit memejamkan matanya sejenak.
"Vino, aku harap kau tidak menyakiti Micel nantinya. Aku tau kau menyukai Nada, bahkan baru saja kau tampak mencoba menerima kenyataan jika Nada adalah istriku. Di waktu yang bersamaan ternyata ada hati yang bahagia saat melihatmu, jangan menjadikannya pelarian. Jangan juga memberikan harapan jika pada akhirnya kau akan mematahkan hatinya." ucap Radit panjang lebar sambil menatap ke arah Vino yang hanya diam.
Vino terjebak dalam hal yang sangat menyakitkan. Bahkan dirinya tak mampu menjelaskan apapun saat ini, akan tetapi ucapan Radit seperti goresan sembilu yang mampu menorehkan kepedihan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Jika niatmu salah dan kamu hanya menjadikannya pelampiasan sesaat, jangan harap aku diam saja. Kau memang sahabatku, tapi aku juga tak rela bila adikku patah hati karnamu," ucapnya.
Vino hanya terdiam, bahkan dia tak tau apapun, pelarian atau bagaimana dia juga tidak tau. Yang jelas saat bertemu dengan Micel adalah hal yang membahagiakan.
"Jika kau mencintainya mungkin aku sangat bahagia, tapi nyatanya kau tampak tak serius padanya. Yakinkan dirimu untuk ini semua, jika pada akhirnya kamu tak mampu melupakan Nada dan Micel terlalu menyayangimu, kau akan menghancurkan hubungan baik kami. Micel sangat menyayangi Nada, apa jadinya jika dia tau orang yang dia suka ternyata menyimpan perasaan pada kakak iparnya? Jadi sebelum semua terlanjur, yakinkan dirimu dahulu. Jauhi Micel sebelum kau mampu menekan perasaanmu pada Nada," ucap Radit panjang lebar kemudian hendak melangkah.
Vino menepis tangan Radit sehingga Radit menghentikan langkahnya. Vino yang seakan tak terima dengan ucapan Radit kini menatap Radit dengan sorot mata dingin dan datar. Begiti juga dengan Radit, Pria dewasa dengan segala pesona itu menatap Vino dengan datar dan dingin juga.
"Kau tidak berhak mengaturku Tuan Marvel Raditia Dika, aku tidak berbuat nekat merebut istrimu saja seharusnya kau berterimakasih, lalu kenapa kau ikut campur? Aku kenal Micel jauh sebelum aku tau bahwa dia adikmu. Jangan menghubung-hubungkan ini dengan Nada," ucap Vino.
Radit terlihat mengepalkan tangannya, emosi mulai tumbuh pada dirinya.
"Ini jelas ada hubungannya, jangan membantah apa yang aku mau. Micel adikku, dan Nada adalah istriku, jangan menciptakan api yang bisa membakar ketentraman kami," ucap Radit menegaskan.
Vino memejamkan matanya. Bahkan rasa pada Nada masih membekas, tapi Micel juga ada di pikirannya. Lalu, bagaimana sekarang dirinya harus menyikapi hatinya? Haruskah dia menjauh dari kedua wanita itu? Haruskah dia menuruti apa kata Radit?
"Pergilah, aku akan mengatakan pada Micel kau ada urusan mendadak," ucap Radit.
Radit menepis tangan Vino dari tangannya dan melangkah ke dalam, sedang Vino mengusap kasar wajahnya. Sakit? Sakit sekali, sakit karna Nada atau Micel? Bahkan dirinya sendiri tak mampu untuk menerjemahkan perasaanya. Vino mengeratkan genggaman tangannya.
"****," umpatnya meluapkan segala emosi yang merasuki jiwanya. Vino melangkah pergi, bahkan dirinya baru saja mau menyembuhkan luka, belum saja memulai dirinya harus terluka kembali.
Radit mendekat ke arah Micel dan Nenek yang sedang bercengkrama. Micel tampak bahagia sekali. Saat menyadari kehadiran kakaknya, dia menatap Radit dengan tenang.
"Mana Kak Vino?" tanya Micel dengan binar mata yang bersinar. Radit mengusap pelan puncak kepala Micel dan menatapnya dengan tenang.
"Vino ada acara mendadak, dia pamit pergi," ucap Radit santai. Micel memejamkan mata indahnya. Kecewa? Ya, dia sangat kecewa.
"Sudah malam, Micel. Istirahatlah!" ucapnya sambil mengacak rambut adiknya.
"Dimana Kak Nada?" tanya Radit pada Micel dan Nenek.
"Kak Nada belum kesini sejak pamit membeli roti, mungkin saja di ruang istirahat bersama Mama, Kak," ucap Micel sambil menatap Radit.
Micel mencoba melupakan semua beban yang bertumpu di hatinya. Mencoba bersabar, barang kali memang Vino ada kepentingan yang sulit untuk dijelaskan.
__ADS_1
"Kakak kesana dulu, Sepertinya kakak akan pulang dan kembali besok lagi, kamu istirahat dulu dan semoga dokter lekas memberikan kabar kapan kamu diperbolehkan pulang," ucap Radit sambil menatap wajah cantik adik gadisnya.
🎀🎀🎀🎀