
"Selamat pagi, Tuan Marvel, selamat datang di MRD group," sapa Ersa dengan ramah.
Radit mengangguk pelan kemudian melangkah pergi, Ersa dan dani juga beberapa staf lainya mengikuti langkah tuan mudanya. Tuan Muda Marvel Raditia Dika, CEO MRD group sekaligus ouner.
Sambutan begitu meriah, para staf dan karyawan berjejer rapi di kanan dan kiri, mereka tampak terpesona dengan ketampanan Big Bos yang selama ini tak pernah datang ke kantornya itu.
Bisik-bisik para karyawan terdengar memuji ketampanan dari Big Bos yang kini berjalan menuju ke ruangan dimana acara penyambutan di gelar.
"Wah, tampan sekali. Aku pikir Asisten Dani tidak ada yang menandingi. Nyatanya Big Bos yang aku pikir sudah tua, ternyata lebih tampan darinya," bisik salah satu karyawan.
"Iya, aku pikir Big Bos sudah tua juga," timpal salah satunya lagi.
Tak berselang lama sampailah mereka di tempat yang di tuju, semua mata mengarah ke arah Radit yang kini berjalan menuju ke kursi kebesaran yang dipersiapkan untuknya.
Dengan langkah elegan, Radit terus berjalan. Sesekali dirinya berhenti kemudian berjabat tangan dengan beberapa staf direksi dan petinggi perusahaan.
Radit juga menyempatkan diri menjabat tangan beberapa teman yang datang di acara penyambutan tersebut.
"Vino, apa kabar?" sambutnya saat dia berada di hadapan Vino pradikta. Sahabat karib yang dulu seperjuangan dengannya. Mereka saling berangkulan sejenak dan melepas rindu.
"Kabar baik Marvel, bagaimana denganmu?" ucapnya dengan senyuman yang mempesona.
"Aku baik, Vino," ucapnya dengan wajah berkarisma.
"Apa kabar Marvel?" Suara itu membuat Radit dan Vino menoleh.
Dilihatnya Delon sahabatnya juga menimbrung ke arah mereka. Dia juga bersama dengan Niko sahabatnya juga, mereka ber empat saling berangkul sejenak.
"Okey, kalian nikmati makanan. Aku akan kembali kesini nanti, aku akan menemui klien yang lain dulu," ucap Radit kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
Mereka bertiga tampak mengangguk dan menatap punggung Radit yang mulai menjauh.
"Tak disangka, Marvel sehebat itu. Dia yang hobby bergonta ganti wanita nyatanya mampu memimpin perusahaan sehingga sukses seperti ini," ujar Niko dan diangguki oleh Vino dan Delon.
"Ya, Marvel memang hebat. Bahkan dirinya mampu hidup bersusah payah, meskipun dia mempunyai segalanya," puji Demon.
Mereka bercengkrama dan saling bertukar pengalaman dan cerita karna lama tak jumpa.
Sedangkan Radit, kini menuju ke atas panggung setelah seorang moderator mempersilahkan dirinya untuk memberikan sambutan.
Dengan gagahnya Radit berjalan dan naik di atas show. Dengan penuh wibawa dia memberikan sambutan kepada para hadirin. Memberikan ucapan terimakasih atas kerjasama dan kesetiaannya pada MRD group.
Setelah beberapa waktu berlalu, sampailah mereka di penghujung acara dan penutupan.
Radit turun dari show dan kembali mendekat ke arah dimana tiga sahabat karibnya berada.
Mira dan Nenek Amy juga turut bergabung dengan jajaran direksi dan petinggi perusahaan itu.
"Sayang, kau sangat hebat. Mama bangga sekali padamu," Mira menyambut Tuan Muda, lebih tepatnya menyambut putranya di bawah panggung.
Radit tersenyum dan mencium pipi kanan dan kiri omanya. Nira mengepalkan tangannya, bagaimana bisa Radit mengabaikannya di tempat umum seperti ini?
Setelah menyambut neneknya, kemudian dia berdiri tegak melirik ke arah Mira yang kini menatapnya dengan senyum yang palsu bagi Radit.
Mira melangkah mendekat dan mendekatkan mulutnya ke telinga Radit, seakan memberikan ciuman pada putranya.
"Ini di tempat umum, Marvel. Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan mengabaikan keberadaanku," ucap Mira dengan tegas tepat di samping telinga Radit.
Radit mengepalkan tanganya dan menghela napas kasar, wajahnya tampak memerah menahan marah. Namun, segera dia menguasai keadaan.
__ADS_1
"Oh, jadi kau ingin aku memainkan sandiwara, Nyonya?" dunianya di telinga Mira. Mira menghela napas kasar. Sesak menyeruak di dadanya.
Sesaat kemudian, dia mencium dan merangkul ibu kandungnya, sama seperti yang dilakukannya kepada Nenek Amy.
Mira tersenyum sinis, kemudian melambaikan tangannya pada manusia di depan sana. Mira melepas pelukan putranya dan tersenyum ke arah Radit.
"Marvel sayang, lihatlah dia adalah Zifana," ucap Mira sambil menunjuk ke arah wanita cantik yang berjalan ke arahnya.
Wanita cantik yang baru saja datang, memakai dres panjang berwarna merah menyala dengan bagian atas yang terbuka sehingga memperlihatkan wajah yang tampak mempesona, sangat glamor, cantik dan anggun.
Wanita yang berprofesi sebagai Desainer itu tampak elegan dengan gayanya. Wanita cantik itu bejalan ke arah Radit dan Nyonya Mira beserta Nenek Amy berdiri.
Radit menghela napas kasar, terus berpikir apa yang akan dilakukan ibunya itu untuk menghancurkan hidupnya?
Zifana? Wanita itu adalah putri dari teman dekat mamanya yang pernah di bicarakan mamanya beberapa tahun yang lalu. Akankah Zifana dijodohkan dengannya? Menikah? Bahkan tak sedikitpun dirinya memikirkan hal itu setelah cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan.
"Siang tante, nenek," sapa Zifana dengan mencium punggung telapak tangan nenek dan juga Mama Mira kemudian memeluk wanita itu bergantian.
"Siang, sayang. Apa kabar kamu?" tanya Mira antusias.
"Zifa baik, bagaimana dengan Nenek dan tante?" tanyanya kembali sehingga tampak hangat dan sangat dekat.
Zifana pernah juga datang ke rumah beberapa kali sehingga membuat nenek juga mengenal baik dirinya.
"Ehem, nampaknya aku harus pergi. Silahkan menikmati kebersamaan kalian," suara itu membuat Mira antusias menatap ke arah CEO perusahaan MRD Group itu.
Zifana juga menatap ke arah di mana Radit berada. Nertranya mendapati wajah tampan yang begitu mempesona. Zifana enggan mengedipkan matanya, pandangannya terpaut pada sosok gagah yang pasti sangat di dambakan oleh setiap wanita.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1