
Riza terbangun dengan napas yang tak beraturan. "Hanya mimpi." Gumamnya sambil menatap wajah Sang istri. Pria itu merasakan jemari Jihan yang sedikit bergerak dalam genggamannya yang longgar. Mata Jihan kemudian mengerjap hingga terbuka sempurna. "Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah." Ucap Riza segera berlari memberi kabar pada semua orang yang menunggu.
Semua alat bantu yang terpasang di tubuh Jihan sudah di lepas. "Masih sakit Sayang?" Tanya Meta. Jihan hanya bisa tersenyum. Tubuhnya masih sangat lemah jadi bicara saja terasa sangat berat. "Sayang." Jihan mengelus lembut pipi kedua anaknya. "Istirahatlah Ibu. Kami akan menunggui Ibu di sini." Ucap dua bocah itu memaksakan senyumnya. "Uhuk...." Jihan tiba tiba saja terbatuk mengeluarkan darah membuat mereka semua panik.
__ADS_1
Dokter menghampiri mereka yang masih menunggu di sofa yang cukup jauh dari tempat Jihan berbaring. "Saya harus menyampaikan sesuatu yang penting." Ucap pria paruh baya itu membuat mereka semua mengangguk. "Ada kerusakan di organ dalam Nona yang bersifat permanen. Terlebih di paru paru dan cedera otak yang cukup parah. Oleh karena itu saya minta dengan sangat ketika sembuh nanti jangan biarkan Nona sampai kelelahan. Sakit kepala mungkin akan dialami jika sampai kondisinya drop. Jangan biarkan terlalu banyak pikiran. Obat juga harus rutin di konsumsi setiap sehari dua kali." Ucap dokter menjelaskan.
Mereka tak menyangka jika Jihan akan menanggung semua penderitaan ini. Tidak bisa sembuh. Artinya wanita itu akan menderita sakit di sepanjang hidupnya. "Oh Ya Allah. Cobaan apalagi ini." Lirih Riza begitu frustasi dengan keadaan sekarang. Tidakkah cukup keluarganya yang sudah menyakiti dan sekarang wanita itu harus menderita seperti ini. Ujian hidup yang begitu berat.
__ADS_1
Riza melipat sajadahnya kemudian menghampiri sang Istri yang sudah tertidur pulas setelah minum obat. "Ummm..." Jihan terbangun merasakan sentuhan di pipinya. "Kamu terbangun Dek." Ucap Riza tak enak hati karena mengganggu tidur sang istri. "Haus." Jawab Jihan. Pria itu dengan hati hati mendudukkan istrinya "Pelan pelan." Ucapnya membantu Jihan untuk minum. "Anak anak mana Mas?" Mata Jihan menelisik ke semua bagian ruangan. "Anak anak pulang bersama Mark dan Papa." Riza duduk sambil menggenggam tangan istrinya. "Kasihan. Semuanya pasti lelah menunggui aku disini." Riza menggeleng pelan. "Yang penting kamu sembuh Dek. Hanya itu yang kami inginkan. Tidak ada yang lain. Semuanya untuk kamu. Jangan seperti ini. Jangan terluka lagi. Maaf Mas membuat kamu kesakitan. Semuanya karena Mas. Andai saja....." Riza menangis tak kuasa menahan air matanya. "Jangan nangis Mas. Jangan temui aku kalau kamu cengeng seperti ini." Jihan menepuk pundak suaminya pelan.
Nah....
__ADS_1
Tak kasih bonus. Biar bisa nyenyak tidur pembaca tercinta.