Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Di Sadarkan Jamaah


__ADS_3

Papa menggelengkan kepala melihat menantunya masih duduk dengan sang istri yang sedang menemani anak anak belajar. Padahal Pria itu sudah berpamitan daritadi katanya ingin mengisi acara ceramah di pondok pesantren. "Belum berangkat juga Za?" Tanya Papa ikut duduk. "Tau tuh Pa. Daritadi sudah aku suruh berangkat masih aja duduk disini." Ucap Jihan sambil menghela napas. "Iya Deh. Mas berangkat dulu. Pa Riza berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucapnya kemudian bergegas setelah mengecup kening sang istri dan mencium tangan mertuanya. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan dan Papa bersamaan. "Mark dimana Pa?" Papa tidak menjawab menunjuk ke arah tangga. "Kangen aku ya kak?" Tanya pemuda itu sambil duduk di sebelah Jihan. "Nggak. Baru ketemu tadi masa udah kangen. Kakak bukan Kakak ipar kamu tuh." Ucapnya merujuk pada Riza.

__ADS_1


Di sisi lain Riza baru sampai di tempat acara. Pria itu langsung duduk sembari menunggu acara dimulai. "Ustadz. Tumben nggak di temani istri." Tanya salah seorang pengurus pondok. "Nggak tega buat minta temani. Lagi hamil muda soalnya." Jawab Riza sambil tersenyum. "Wah. Mau punya anak lagi ustadz. Selamat ya." Pria itu mengangguk. "Alhamdulillah." Ucap Riza bersyukur.

__ADS_1


Acara berlangsung dengan lancar. Riza telah menyampaikan tausiyah nya. Sekarang adalah waktu untuk tanya jawab. "Nah. Siapa yang mau bertanya silahkan. Insyaallah akan langsung di jawab oleh ustadz Riza." Kata Seorang pembawa acara. Seorang pemuda mengangkat tangannya. Ia kemudian mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. "Mau tanya nih ustadz. Ustadz kan punya istri yang sangat cantik. Maaf memuji tapi kenyataanya begitu. Pasti kan banyak lah laki laki yang mungkin menggoda atau tidak menjaga pandangannya ke istri ustadz. Nah, apa ustadz tidak cemburu? Jika cemburu, bagaimana cara mengatasinya?" Tanya pemuda itu. "Bismillah saya jawab ya. Jujur nih. Punya istri seperti istri saya itu sebuah nikmat dan juga beban. Nikmatnya ya para jamaah tau sendiri tidak perlu saya jabarkan. Yang punya istri tentunya sudah paham. Bebannya ya itu tadi sama seperti yang dibilang Mas nya. Saya ini orangnya pencemburu lo. Sangat. Kalau istri saya tidak sabar entah bagaimana jadinya. Pernah waktu itu saya marah gegara istri saya sering telponan dengan kontraktor yang menangani pembangunan rumah istri saya. Saya diami. Dengan sabar dia menjelaskan begini begini... Sampai dia pertemukan saya dengan kontraktor itu biar masalah cepat selesai. Bukan hanya itu, masih banyak lagi lainnya yang lebih parah. Rasa cemburu itu di benarkan adanya. Malah jika tidak cemburu itu yang janggal. Cemburu ya lihat lihat jangan cemburu buta. Nah, ini. Saya sering cemburu buta. Tidak di telusuri dulu saya langsung cemburu dan mengomeli istri saya. Ini jangan di tiru. Sangat tidak baik. Cemburu itu boleh bahkan akan mempermanis suatu hubungan. Tapi cemburu juga dengan dasar. Jangan asal cemburu. Karena jika tidak benar seperti yang kita duga akan menimbulkan fitnah. Dosa saya hanya kerena cemburu sudah banyak. Kadang sama anak, Ipar atau papa mertua sendiri saya suka cemburu. Nanti pulang insyallah akan langsung minta maaf sama istri. Terimakasih Mas pertanyaan. In menyadarkan saya juga. Jadi untuk mengatasi cemburu itu lewat diri kita masing masing. Banyak banyak beristigfar untuk meredam emosi. Telusuri dulu jangan asal tuduh. Semuanya di bicarakan baik baik. Kunci sukses dalam hubungan itu selain cinta juga komunikasi yang baik. Terimakasih. Itu jawabnya dari saya." Jelas Riza panjang lebar mendapat tepuk tangan yang meriah dari para jamaah.

__ADS_1


Riza menuju kolam renang yang berada di dalam rumah. Tepatnya di dalam sebuah ruangan besar dekat ruang keluarga. Suara gelak tawa terdengar. "Pantesan." Gumam pria itu menghampiri sang istri yang sedang bermain bilyard dengan mertua dan adik iparnya. "Eh. Sudah pulang Mas." Ucap Jihan masih memegang stik panjang itu sambil memutari meja. Beberapa saat setelah posisi pas Jihan menunduk kemudian memposisikan stiknya pada bola dan mendorong. "Ctak...." Suara itu berhasil mengantarkan beberapa bola masuk ke dalam rongga. Wanita itu mendapat tepuk tangan meriah dari kedua anaknya. "Nah. Papa besok bawa aku jalan jalan. Masuk tuh." Ucap Jihan membuat pria paruh baya itu menghela napas. "Perjanjian apa lagi ini." Batin Riza pusing dengan tingkah mereka. "Mark. Kakak kamu lagi hamil malah di ajak main begitu." Ucap Riza tak berani protes sama mertuanya. "Dia yang minta." Jawab Mark dengan enteng.

__ADS_1


Jihan sedang minum susu yang dibuatkan suaminya. "Maaf ya Dek." Ucap Pria itu tiba tiba sambil memeluk sang istri. "Kenapa pula kamu Za? Ketempelan setan darimana?" Kata papa membuat Mark tergelak. "Nggak ketempelan setan Pa. Riza memang ingin minta maaf karena sering cemburu." Jawabnya. "Kamu maafin Mas kan Dek?" Tanyanya sambil mendongak. "Hm. Iya." Jawab Jihan meletakkan gelas di atas meja. "Awas dulu." Jihan melepaskan diri dari suaminya meraih ponsel yang sedaritadi masuk notifikasi. "Dari siapa?" Tanya Riza penasaran. "Dari kak Meta. Baru minta maaf sudah mulai lagi?" Tanya Jihan mendapat gelengan dari sang suami.

__ADS_1


__ADS_2