Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menggobal di Negeri Orang


__ADS_3

Riza tersenyum memperhatikan istrinya yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar bersama sang adik. Keduanya saling berbalas membawakan lagu Jan ganggu. Meskipun tidak begitu tau tapi Riza pernah mendengarnya.


Boh sayang, ko itu sa punya


Jang ada yang mo ganggu tong dua


Karna ko deng sa sama-sama bahagia


Ludah-ludah dong yang tra suka


Oh adoh-adoh jang ganggu

__ADS_1


Yang itu sa punya jang ganggu


Ko pi cari yang lain sudah


Tra usah jadi pengganggu


Sa su stay dengan dia dari lama


Sio tabe sayang ko tabuang..........


Pria itu bertepuk tangan sambil menghampiri istrinya ketika selesai. "Memang tau artinya?" Tanya Riza mengecup kening istrinya. Jihan dan Mark menggeleng kompak. "Tidak semuanya tau. Tapi beberapa kata tau." Jawabnya sambil tersenyum. "Ayo segera sarapan. Hari ini kita jalan jalan." Ajak Wanita itu segera berdiri sambil meletakkan gitarnya.

__ADS_1


Jihan memastikan semua barang yang dibawa sudah lengkap. Ia juga membawa bekal dari rumah untuk suaminya. "Sudah siap semua. Ayo berangkat." Ajak Jihan sambil menggandeng kedua tangan putra putrinya. "Biar aku yang bawa tasnya Dek." Kata Riza kasihan karena istrinya sudah kerepotan dengan si kembar. "Kita mau kemana dulu kak?" Tanya Mark yang sudah duduk di jok belakang mobil. "Hari ini hari ke tiga. Kita ke colloseum dulu setelah itu ke tempat tempat selanjutnya. Untuk belanjanya besok saja. Jadi di hari ke lima kita benar benar istirahat untuk persiapan pulang. "Hm Ok. Terserah kakak. Kita ngikut aja." Jawab Mark.


Hari ke tiga mereka mengunjungi tempat tempat terdekat karena hari sebelumnya sudah mengunjungi tempat wisata yang cukup jauh dari pusat kota. Hanya beberapa tempat karena Jihan takut mereka akan kelelahan. Terlebih anak anak yang masih kecil. Meskipun tidak rewel di perjalanan tetap saja Jihan sebagai Ibu tak mau anaknya kelelahan atau tidak nyaman.


30 menit perjalanan mereka sudah sampai di colloseum. Jihan menggendong Jaffan sementara Jalwa ikut Ayahnya. Mereka berkeliling mengamati bangunan bersejarah yang sangat terkenal itu. Jalwa kali ini tidak menolak ikut Ayahnya. Bocah itu seakan tau situasi. Suasana yang ramai membuat Jihan khawatir akan terpisah. Makannya dia dan suami menggendong anak anak. "Duduk dulu Dek. Kamu capek daritadi jalan sambil gendong Jaffan." Ajak Riza dan wanita itu mengangguk.


Mereka duduk bersama sambil menikmati minum karena sangat haus. "Habis ini kemana Dek?" Tanya Riza mengusap bibir istrinya yang basah. "Setelah ini kita ke Roman forum cepat cepat soalnya sore sudah tutup. Habis dari sana kita makan di Piazza Navona." Jawab Jihan menjelaskan.


Pukul 12 siang mereka sudah selesai sholat di sekitaran kawasan Roman Forum. Riza tak berhenti mengabadikan momen ketika anak anak sedang duduk tenang bersama Ibunya untuk istirahat. "Mark. Jangan jauh jauh. Nanti kepisah bisa repot." Tegur Jihan membuat remaja itu kembali. "Ini tempat apa sih kak?" Tanyanya Ikut duduk. "Ini forum yang selama berabad-abad digunakan untuk berbagai macam aktivitas seperti perdagangan, pengadilan kriminal, tempat pidato umum, dan lainnya." Jelas Jihan sembari memotret sekitar membuat adiknya mengangguk. "Ibu. Minum." Ucap Jaffan yang duduk di pangkuan Ibunya bersama sang adik. "Iya. Mas. Minumnya anak anak." Kata Jihan meminta pada sang suami. "Iya." Riza bergegas duduk di samping sang istri sambil mengobrak abrik isi tas yang sedang dibawanya.


Mereka sudah berada di salah satu restoran terdekat dari Piazza Navona yang merupakan alun alun kota Roma untuk makan setelah lelah jalan jalan. Jihan sudah memesan. Sembari menunggu wanita itu menyiapkan makanan suaminya berupa nasi putih, rendang, acar dan kentang balado. Mark juga ikut ikutan mencomot makanan kakak iparnya itu karena iseng biar makan dobel. "per favore bella signora (silahkan Nona cantik.)" Ucap Pelayan menjanjikan makanan di atas meja sambil tersenyum memandangi wajah Jihan. "Grazie Signore (Terimakasih Tuan)" Ucap Jihan membalas senyuman Pria itu membuat Riza berdehem karena cemburu.

__ADS_1


Riza menyuapi istrinya yang sibuk menyuapi anak anak. "Memangnya enak ya Dek?" Tanya Riza melihat istri, anak anak dan iparnya makan dengan lahap. "Enak. Coba deh kalau nggak percaya." Jawab Jihan namun suaminya menggeleng. "Lidah aku nggak cocok makan begini dek. Makan pizza sama burger saja eneg. Enakan rendang atau sambal terasi." Jawabnya sambil terkekeh. "Untung punya istri jago masak. Iya kan? Nggak cuman cantik dan jago masak tapi juga memuaskan. Jadi makin cinta." Ucap Riza sambil mengecup pipi istrinya yang sibuk mengunyah membuat Mark mendengus. "Ini di Itali kak. Gombalannya jangan di bawa juga kale... Masih saja menggombal di negeri orang." Ucapnya menyindir tanpa menyadari kata 'memuaskan' yang di ucapkan iparnya bermakna apa.


__ADS_2