Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Perlindungan Dari Papa


__ADS_3

Sudah lima hari Riza hanyut dalam duka menunggu istrinya yang belum ada perkembangan. Pria itu sibuk bolak balik dari rumah sakit ke rumah untuk mengurus anak dan menunggui Jihan. "Kalian sarapan dulu ya. Segera berangkat sekolah nanti Ayah jemput." Kata Riza dan kedua bocah itu mengangguk. "Tidak usah kak. Nanti biar aku saja. Kakak selesai bekerja langsung ke rumah sakit. Nanti aku bawa Mereka ke sana juga." Ucap Mark. Ia selalu menjaga keponakannya itu karena kasihan Riza yang pontang panting kesana kemari. Apalagi pria itu sedang laporan di kantor polisi. Sang tersangka Zahra sampai saat ini masih dalam pencarian. Wanita laknat itu kabur entah kemana. "Terimakasih Mark. Kakak berangkat dulu." Ucapnya berpamitan pada ipar dan kedua putra putrinya.


Di rumah sakit.

__ADS_1


Keluarga Jihan menghampiri sosok pria paruh baya yang sedang menunggu di depan ruangan ICU. "Mau apa kalian?" Tanya Papa menatap tajam orang orang yang masih berdiri di depannya. "Bagaimana keadaan Jihan?" Salah satu dari mereka balik bertanya. Papa menghela napas kemudian berdiri dari duduknya. "Kemana saja kalian? Kemana saja? Tidak ada gunanya kalian datang. Pergilah." Ucapnya menahan amarah agar tidak terjadi keributan. "Kami baru pulang dari Medan. Kami baru tau. Maaf." Jawabnya dengan lirih. "Jangan uji kesabaranku. Jauhi putriku. Jika tidak. Aku bisa melakukan apapun untuk menghancurkan kalian. Jangan pandang aku sebelah mata. Aku orang yang berkuasa. Kapanpun aku mau Aku bisa meluluh lantahkan kelurga dan bisnis kalian." Ucapnya sambil menatap tajam. "Jihan putri kami. Izinkan kami menunggunya disini." Bunda menangis tersedu sedu. "Dia putriku. Hanya aku orang tua tunggalnya. Hanya aku kelurganya. Pergi sekarang juga. Jangan buat aku melakukan hal nekat." Papa Mengambil ponselnya menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian 9 pria berbadan kekar datang untuk mengusir mereka semua. "Tidak ada keluarga yang mengabaikan putrinya." Ucap Pria itu sambil mengepalkan tangan.


Seorang pria duduk dengan beberapa pria di salah satu bagian rumah sakit yang cukup lengang. "Aku mau kalian menjaga putriku. Jangan biarkan orang orang di foto ini mendekat. Jangan biarkan Putriku terluka." Ucap Papa meletakkan beberapa lembar foto di atas meja kemudian segera berdiri. "Awasi saja. Jangan terlalu mencolok dan menyita perhatian. orang orang." Mereka mengangguk paham. "Baik Tuan." Jawabnya serempak.

__ADS_1


Riza duduk di dekat kedua buah hatinya. "Ustadz. Bagaimana perkembangan kasusnya?" Tanya Meta. "Sudah ketemu orangnya. Besok akan diadakan sidang. Beberapa saksi juga turut di ikut sertakan." Jawab Riza membuat semuanya mengangguk. Meta terpukul dengan kejadian ini. Ia sangat bersedih atas musibah yang menimpa Jihan. Bahkan karena memikirkan adiknya itu Ia tak berselera untuk makan. Air matanya selalu jatuh mengingat kebersamaannya dengan Jihan. Malam sebelum kejadian keduanya sempat melakukan video call. Jihan mengatakan akan pergi ke rumah Meta untuk membuat brownies bersama. Namun siapa sangka hari yang di tunggu ternyata mempertemukan dua wanita itu di dalam duka yang mendalam.


Riza sedang duduk berdua dengan papa mertuanya. Mereka tampak mengobrol serius. "Selalu sepeti ini. Mana pernah mereka ada untuk putrinya sendiri." Ucap Riza begitu kesal dan kecewa pada keluarga istrinya. Satu dua kali Riza bisa maklum. Namun saat ini pria itu tidak percaya lagi. "Bukannya Papa ingin memisahkan anak dengan keluarganya. Namun Papa rasa ini langkah terbaik. Papa tidak mau hati putri Papa tersakiti lagi untuk yang kesekian kalinya." Ucap pria itu begitu serius menatap menantunya. "Papa tak akan membiarkan anak papa terluka lagi. Papa akan melindunginya." Riza mengangguk menanggapi pria paruh baya itu. "Maaf sudah...." Riza tak mampu lagi berkata kata mengingat kejadian dimana Jihan mendorong tubuhnya. Apalagi ketika wanita itu memejamkan mata dengan erat. "Maafkan aku Pa." Lagi lagi Ia lemah dan menangis. "Keluarkan semuanya. Laki laki kadang juga butuh menangis agar lega." Ucap Papa menepuk bahu menantunya.

__ADS_1


__ADS_2