
Riza menghampiri Jihan yang sedang duduk di sofa ruang tengah setelah sarapan. "Dek. Ayo berangkat. Kamu ke cafe kan?" Tanya Riza sambil menyerahkan dasi untuk di pakaikan oleh sang Istri. "Aku ke cafe. Berangkatnya sama Mark agak siangan." Jawab Jihan sambil mengikat dasi untuk suaminya. "Biarkan dia yang bawa mobilnya ya. Kamu jangan menyetir." Pesan Riza dan istrinya hanya mengangguk. "Sudah selesai." Jihan merapikan kerah kemeja suaminya. "Mas berangkat dulu kalau begitu. Kamu nanti hati hati. Kabari Mas kalau sudah sampai. Mas berangkat dulu Dek. Sayang. Assalamualaikum cantikku." Ucapnya sambil tersenyum kemudian di teruskan mengecup bibir istrinya. "Iya. Waalaikumsalam." Jawab Jihan mengantarkan Riza sampai ke luar.
"Astaga bikin kaget saja." ucap Jihan sambil memegangi dadanya melihat Mark tiba tiba sudah berada di depan. "Hehehe maaf." Ucapnya sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Ada apa? Mandi sana. Bukannya mandi. Kamu berangkat jam berapa?" Jihan mulai mengomel melihat adiknya masih menggunakan celana pendek dan kaos. "Bentar lah kak. Nanti aku berangkatnya jam 9 lebih. Ini masih jam 7." Jawabnya ikut duduk di samping sang kakak. "Mau jeruk nggak?" Tawar Mark dan kakaknya mengangguk. Remaja itu mulai mengupas lalu menyuapkan pada Jihan. "Kak. Memangnya kak Riza mau nikah lagi ya?" Tanya Mark membuat kakaknya menggeleng. "Berita darimana itu?" Jihan memicingkan matanya menatap sang adik. "Di kampus lagi gempar katanya Bu Zahra minta Kak Riza buat jadikan dia istri keduanya." Jawab Mark Jujur. "Kakak jangan sedih. Kak Riza nggak mungkin kecewain kakak. Dia orangnya setia kok. Apalagi kakak sedang hamil begini." Lanjutnya sembari mengusap perut Jihan. "Heh. Memangnya kakakmu ini terlihat sedih?" Kesal Jihan tidak terima. "Ya enggak sih. Barangkali kakak memendam rasa." Jawab Mark.
__ADS_1
Pukul 9 tepat. Mobil yang di tumpangi Mark dan Jihan sudah sampai di depan cafe. "Kakak turun dulu." Ucapnya. "Iya. Hati hati. Assalamualaikum." Ucap Mark mencium tangan kakaknya sebelum wanita itu turun. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan sambil tersenyum.
Suasana Cafe agak lengan karena ini sedang jam kantor. Semua pegawai hanya sibuk menyiapkan pesanan. "Eh...Mbak Jihan. Sudah lama ya." Sapa mereka saat wanita itu memasuki dapur. "Baru datang." Jawabnya sambil tersenyum kemudian ikut membantu memasukkan cake ke dalam box. "Tumben Ustadz Riza nggak ngikut sampai dapur." Jihan menggeleng sambil tangan terus bekerja. "Aku berangkat sama Mark tadi. Dia sudah berangkat duluan." Jawab Jihan membuat gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Baru saja selesai menapaki anak tangga terakhir sepasang suami istri itu terkejut melihat suasana di lantai bawah begitu riuh. "Mbak Jihan. Ada cewek yang waktu itu. Dia mengancam mau bunuh diri." Kata seorang pegawai tergopoh gopoh menghampiri keduanya. "Apa lagi sih?" Kesal Jihan melangkah menuju ke sumber kekacauan.
Riza tak berhenti memeluk istrinya. Ia mengabaikan Zahra yang terus mengancam akan bunuh diri jika tidak di jadikan istri kedua oleh sang Ustadz. "Ustadz aku mohon." Ucap Zahra dengan tidak tahu malunya padahal sudah menjadi cibiran semua orang. "Bu Zahra. Saya sudah bilang berkali kali saya sudah punya istri dan cukup satu saja." Tegasnya sambil beristighfar agar tidak lepas kendali. "Bu Zahra pikirkan istri saya. Dia sedang hamil dan Bu Zahra seperti ini. Bayangkan jika Bu Zahra di posisi istri saya. Anda juga wanita tentu tau seperti apa rasanya." Lanjut Riza masih memeluk istrinya. "Dek..." Ucapnya ketika merasakan tubuh istrinya semakin memberat. "Sayang." Panggilnya lagi dengan panik ketika melihat Jihan sudah terkulai lemas dengan mata tertutup rapat dan wajah pucat. Riza panik kemudian langsung menggendong Jihan untuk di bawa ke rumah sakit. Semua orang bergunjing menatap Zahra. Menyalahkan dan mencibir gadis itu karena tingkahnya barusan.
__ADS_1