
Ngebut banget biar cepat tamat..Ini isinya pernyataan cinta Jihan ke Riza..Sweet banget. Bikin......Bikin nangis.....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Dua tahun berlalu begitu cepat. Jihan dan Riza menjalani rumah tangga dengan bahagia dan penuh cinta. Kini Mark sedang menjalani program studi S2 nya yang akan mengikuti karir Riza sebagai seorang dosen ketika lulus nanti. "Dek. Ayo berangkat." Ajaknya memeluk wanita yang sedang sibuk menyiapkan tas sekolah untuk si kembar yang kini duduk di bangku paud. Pria itu mencium pipi istrinya dengan mesra. "Iya." Jihan membalikan badan dan membalas ciuman di pipi suaminya membuat Riza tersenyum bahagia. "Mark. Nanti kalau kamu berangkat jangan lupa kunci pintu dan pagarnya di tutup. Kakak mau berangkat dulu." Pesannya pada remaja yang sibuk bercengkrama dengan dua ponakannya itu.
"Iya. Hati hati." Jawab Mark kemudian mengantar mereka sampai ke depan.
Selesai dari sekolah anak anak Riza melajukan mobilnya menuju cafe sang istri. "Aku turun dulu Mas. Assalamualaikum." Jihan mencium tangan dan pipi Riza ketika sudah sampai. "Waalaikumsalam. Nanti Mas jemput." Ucapnya sembari memeluk dan menciumi seluruh wajah Jihan sebelum wanita itu turun. "Iya." Jihan mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mbak Jihan." Ucap mereka tersenyum melihat bosnya memasuki dapur. "Hay....Ada kerjaan buat aku nggak?" Tanya Jihan sambil terkekeh. "Seperti biasa. Mbak Jihan yang tangani masalah dessert saja." Jawab mereka. Wanita itu mengangguk segera ke tempat biasa Ia membuat hidangan penutup mulut itu.
Di sisi lain seorang wanita tengah mengamati pria yang baru saja memasuki ruangannya. Berpindah pindah kelain hati bahkan menjadi selingkuhan orang tidak menjadikannya lupa dengan sosok laki laki yang Ia puja selama ini. Di hatinya masih setia dengan satu nama. Melihat kehidupan rumah tangga yang bahagia membuat Ia memanas dan tidak terima. "Aku tidak bisa memilikimu maka wanita lain pun tak akan aku biarkan bahagia denganmu." Ucapnya dengan lirih sambil mengepalkan tangan. Cinta membutakan hati dan akal sehat. Karna cinta orang bahagia dan karna cinta pula orang menderita.
Riza baru duduk di kursi kerjanya. Pria itu membuka laci meja kemudian tersenyum mengamati foto keluarganya. "Mas mencintaimu." Gumamnya sambil tersenyum. Ia menggambil buku dan laptopnya kemudian segera pergi ke kelas untuk mengajar.
Lima belas menit perjalanan mereka telah sampai. Mark menggandeng tangan si kembar memasuki cafe. "Kakak mana?" Tanyanya pada salah seorang karyawan. "Sedang di dapur. Sebentar aku panggilkan." Ucapnya bergegas pergi.
__ADS_1
Jihan sedang membungkus kue dalam kotak. "Mbak jihan. Dicari Adek sama anak anak mbak." Ucapnya sambil mengatur napas. "Masih muda sudah ngos ngosan. Rajin rajin olahraga." Ucap Jihan tersenyum menepuk pundak karyawannya sebelum pergi.
"Ibu." Dua bocah itu langsung berlari memeluk Jihan yang baru datang. "Eh sayang. Duduk dulu yuk. Ibu bawa eskrim sama black forest." ucapnya. Wanita itu duduk bergabung dengan Mark juga sambil menyuapi anak anak. "Kalian disini dulu ya. Ibu mau ambil susu di mobil." Kata Jihan dan Keduanya mengangguk dengan patuh.
Jihan berjalan keluar dari cafe melihat Riza yang berjalan ke arahnya. Mata Wanita itu membelalak melihat mobil melaju kencang ke arah Suaminya. Ia dengan cepat berlari mendorong tubuh Riza. "Brak...."Terdengar benturan yang sangat keras hingga menyita perhatian orang orang. Riza tak bisa berkata kata. Tubuhnya lemas melihat sang istri sudah terpental beberapa meter dengan tubuh di penuhi darah.
Jihan masih membuka matanya. "Dek... Bertahanlah." Riza merengkuh tubuh Jihan tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir. Semua orang mengerubungi keduanya dan menelpon ambulance untuk segera datang. "Aku mencintaimu Mas. Sangat. Maaf telah membuatmu menunggu lama. Tapi aku sadar aku telah jatuh cinta padamu sekian lama." Ucap Wanita itu kemudian memuntahkan darah segar sebelum menutup mata dengan sempurna. "Tidak...Tidak....jangan. Bertahanlah. Jangan tinggalkan Mas. Jangan seperti ini. Mas tidak bisa tanpa kamu. Kamu sudah janji akan selalu bersama Mas. Jangan ingkari janji kamu." Riza Menangis kencang dan berteriak. Ia bahagia mendengar pernyataan istrinya setelah sekian lama berjuang untuk membuat istrinya jatuh cinta. Namun bukan situasi seperti Ini yang Riza mau.
__ADS_1