
Pagi hari keadaan Jihan sudah baik baik saja. Bahkan ruam di tubuhnya juga sudah hilang. "Lain kali nggak usah ganti detergen lagi." Tegur Papa pada Putrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Iya Pa. Kemarin kemarin itu kan gara gara yang biasa stoknya belum datang makannya coba yang lain." Jawab Jihan sambil duduk. "Kamu hari ini jadi ketemu kontraktor itu dek?" Tanya Riza membuat wanita itu menghela napas. "Iya lah. Kamu dah tanya berapa kali sih Mas." Kesalnya karena dari bangun tidur tadi Riza selalu menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
Jihan baru saja berganti baju. Ia memadukan vest dengan kaos putih dan jogger pants krem. Sneakers putih jadi paduan yang pas membuatnya terlihat casual dan sporty. "Belum berangkat juga Mas?" Tanyanya Melihat Riza dari pantulan cermin. Pria itu terlihat menggeleng kemudian berjalan dan memeluk istrinya. "Mark sama anak anak sudah berangkat. Kamu berangkat sana." Kata Jihan sambil mengoleskan pelembab bibir agar tidak kering. "Sudah setengah tujuh. Aku berangkat dulu kalo kamu nggak berangkat." Kata Jihan membalikkan badan menatap suaminya. "Perginya sama aku aja Dek. Besok tapi." Ucapnya terlihat tak rela. Apalagi istirnya seperti remaja yang baru puber. Nanti kecantol sama cowok lain bagaimana? Riza kan tak rela. "Dah. Orang kontraktornya bisa ketemu sekarang. Ada yang mau diomongin penting katanya. Aku berangkat dulu." Jihan memeluk suaminya kemudian mengecup pipi pria itu. "Terlalu cepat." Ucap Riza mencium bibir sang istri dalam dalam.
__ADS_1
Mobil mewah berhenti di salah satu cafe. Sorang wanita cantik dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung terlihat turun dan masuk ke dalam. "Pak Ernest." Sapa wanita itu menghampiri seorang pria yang sedang duduk sambil menikmati kopinya. "Mbak Jihan. Silahkan duduk. Saya sudah pesankan capuccino kesukaan Mbak Jihan." Ucapnya sambil tersenyum ramah. Beberapa kali bertemu membuat Ernest tau selera wanita yang sudah duduk manis di depannya. "Terimakasih Pak. Nunggu lama ya?" Tanyanya namun pria itu hanya tersenyum. "Maaf Pak. Ada hambatan." Jawabnya sambil mengingat ciuman panas suaminya yang membuat Ia terlambat. "Tidak masalah." Jawab pria itu. Jihan menyeruput capuccino yang hangat. "Ngomong ngomong ada apa ya pak mengajak saya bertemu?" Tanya Jihan sembari meletakkan kembali cangkir di atas meja. "Begini Mbak. Saya kemarin sudah diskusi dengan Arsitek kepercayaan Mbak Jihan. Katanya Mbak Jihan bilang ada beberapa bagian yang ingin di rubah. Untuk itu saya ingin menyampaikan jika ada material yang perlu di ganti agar konstruksinya lebih kuat...." Ernest menjelaskan melalui gambar di tab yang sedang di pegang nya namun kedua mata Pria itu selalu fokus pada wajah cantik Jihan yang sedang mengamati begitu serius. "Kalau begitu kita bisa lihat sekarang pak?" Tanyanya di jawab anggukan.
__ADS_1
Ernest mengantar Jihan sampai ke mobil setelah puas melihat lihat. "Ah Maaf. Helmnya." Ucap pria itu langsung membuka helm yang masih menempel di kepala Jihan. "Terimakasih Pak. Saya pulang dulu ya." Ucap Jihan berpamitan. "Iya Mbak. Hati hati." Jawab Ernest membantu menutup pintu mobil wanita itu. "Cantik. Aku kok deg degan ya tiap dekat dia." Ucapnya mengusap dada melihat kepergian Jihan.
__ADS_1
"Astaghfirullah." Ucap Jihan terkejut saat membuka pintu ruangannya di cafe sudah ada Riza yang berdiri di depannya. "Kamu di telponin nggak di angkat Dek. Ngapain aja?" Tanya Pria itu sambil cemberut. "Lihat rumah Mas. Tadi kan sudah izin." Jawabnya sambil mengecek ponsel ternyata ada ratusan pesan dan panggilan tak terjawab. "Hehehe. Maap Mas. Jangan ngambek dong. Nanti gantengnya ilang." Kan...pandai merayu sekarang. Galaknya kemana? Di tambah dengan kecupan lembut dan pelukan hangat membuat Riza melunak. "Dasar lemah. Tadinya kan aku mau ngambek." Batin pria itu dalam hati. "Dah... Jangan ngambek Sayangku.....uluh...uluh..Ayo makan siang. Anak anak di bawah." Ajak Jihan menggandeng tangan Riza membuat suaminya tersenyum. "Pandai merayu sekarang. Tapi Mas suka." Ucapnya mengecup pipi Sang istri beberapa kali.
__ADS_1