Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Teman Curhat Riza


__ADS_3

Jihan sedang memakai jilbabnya. Tak lain tak bukan karena Riza yang meminta. Pria itu merengek sedaritadi. Daripada mengorbankan pendengarannya yang bisa pengang karena Sang suami. Jihan memilih untuk menurut saja. "Sudah kan. Ayo berangkat." Ucapnya setelah selesai. "Cantiknya istriku." Pria itu tersenyum manis kemudian mengecup bibir istrinya dan mengeluarkan gombalan yang tidak akan berefek apapun pada Jihan. "Daripada kamu membual lebih baik ayo bergegas." Ucapnya sambil bersedekap dada. "Aku tidak membual Dek. Aku serius." Jihan tak peduli langsung melangkah pergi.

__ADS_1


Riza tak berhenti menggandeng tangan istrinya. Pagi ini Ia mengajak Jihan untuk jalan jalan sambil membeli bubur Ayam di tempat langganannya dulu ketika masih membujang. Tidak jauh. Hanya berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. "Kamu lelah?" Tanyanya hanya di jawab gelengan. Riza menatap istrinya. Pipi mulus wanita itu tampak merah muda alami yang membuatnya gemas dan ingin menggigitnya. "Perhatikan jalanmu. Jika sampai tersandung aku tidak akan menolong." Ucapnya mampu membuat pria itu seketika menatap lurus ke depan. Jika sudah mode seperti ini Ia hanya bisa pasrah. Sikap jutek Jihan keluar dan dia bisa apa?

__ADS_1


Beberapa menit berjalan sepasang suami istri itu sudah sampai di kedai sederhana yang cukup ramai. "Ustadz Riza. Lama tidak kemari. Mentang mentang sudah menikah. Ini istrinya ya?" Tanya seorang lelaki paruh baya. "Iya Pak." Jawab Riza sementara Jihan hanya menanggapi dengan senyuman. "Silahkan duduk ustadz dan Mbaknya." Ucap pak Sukur sebelum pergi untuk menyiapkan bubur untuk Riza dan istrinya. "Kamu nggak nyaman Dek? Kalau tidak nyaman aku minta bungkus saja. Kita makan di rumah." Jihan menggeleng pelan. "Kenapa bertanya begitu?" Riza tersenyum menanggapi pertanyaan Istrinya. "Kamu kan biasa makan di tempat mahal Dek." Jihan menghela napasnya pelan. "Kata siapa? Aku sering makan di pinggir jalan. Bahkan yang duduk di bawah itu. Tapi sekarang nggak pernah semenjak buka cafe. Soalnya sibuk." Ucap Jihan menjelaskan.

__ADS_1


Setelah menghabiskan buburnya mereka bergegas pulang karena Mark di rumah sendiri. Mereka hanya pergi berdua karena remaja itu masih tidur setelah bangun untuk sholat subuh tadi. "Kamu mau sesuatu Dek?" Tanya Riza karena Jihan tak pernah meminta apapun darinya. "Yakin boleh minta?" Tanya Jihan membuat suaminya mengangguk dengan. semangat. "Boleh. Insyaallah jika Mas mampu Mas akan penuhi apapun permintaan kamu." Jawab Riza bersungguh sungguh. "Minta buaya buat di pelihara." Ucap Jihan membuat Riza menghentikan langkahnya. "Dek..." Pria itu seperti putus asa. Mau pelihara buaya? Bahaya...Riza takut terjadi sesuatu pada istri tercinta. "Hanya bercanda. Kenapa mukamu begitu." Kata Jihan membuat suaminya lega. Pria itu tersenyum mengecup pipi istrinya. "Ih...Nggak tau tempat ya. Ini di jalan. Dasar. Nggak tau malu." Kesal Jihan mencubit lengan pria itu.

__ADS_1


"Wih. Adek ganteng kakak sudah bangun." Ucap Jihan ikut duduk di sofa bersama adiknya. "Um...Kakak darimana?" Tanyanya sambil mendudukkan diri. "Dari luar beli bubur. Ini. Segeralah sarapan." Jihan memberikan bubur yang di bawanya pada sang adik. "Iya." Mark duduk di bawah menikmati buburnya yang masih hangat. "Kak Riza kemana?" Tanya Mark sedikit heran karena biasanya Iparnya itu selalu menempel pada sang istri. "Lagi di luar ngobrol sama pak RT." Jawabnya sambil menyandarkan punggung di sofa.

__ADS_1


__ADS_2