
Jihan mengajak anak anak dan suaminya ke rumah Meta. Ia baru saja mendapat kabar jika wanita itu sedang hamil. "Weh...Tega ya. Sudah hamil dua bulan baru kasih tau." Ucap Jihan sambil cemberut. "Kamu kan baru sembuh. Lagipula banyak yang harus di urus. Karena tidak mau menganggu. Jadi aku menundanya untuk memberi tau." Jawab Meta berharap adiknya itu tidak marah. "Tau ah." Ucap Jihan yang berada dalam pelukan Meta. "Ustadz. Istrimu marah sama aku." Ia mengadukan Jihan pada suaminya. "Kamu salah mengadukan dia pada ustadz Riza Ma. Dia mana takut." Jawab Rudi sambil terkekeh. "Mas. Kunci mobilnya mana? Aku mau ambil sesuatu di mobil." Ucapnya sambil menengadahkan tangan. "Biar Mas yang ambil." Jawab pria itu bergegas pergi.
Riza kembali lagi kemudian meletakkan beberapa kotak dan parcel buah di atas meja. "Apa ini? Banyak banget." Ucap Meta terkejut. "Lagi hamil harus makan yang bergizi. Ini ada buah sama kurma." Jawab Jihan. "Nggak perlu repot repot bawa. Datang kesini saja sudah cukup." Meta merasa tidak enak. "Em...Mas. Bagi duit merah selembar." Jihan menarik narik lengan baju suaminya. "Buat apa Dek?" Tanyanya sambil mengeluarkan dompet dari saku celana. "Mau beli gorengan sama gado gado di depan." Jawab Jihan. "Biar aku belikan saja." Kata Rudi dan Meta bersamaan. "Kompak banget. Nggak usah. Mau pergi sama anak anak. Kalian di sini saja." Jawab Jihan. "Ini. Nggak usah beli gorengan. Nanti tenggorokan kamu sakit." Tutur Riza. "Nggak. Kata siapa? Kemarin aku makan baik baik aja. Sudah Aku pergi dulu." Jihan mengecup pipi suaminya karena di beri tiga lembar uang seratus ribuan membuat pria itu tersenyum atas tingkah ajaib sang istri. "Gitu ya. Mau cium kalau di kasih duit aja. Dasar." Meta berdiri menyusul Jihan yang entah sudah berjalan sampai mana.
__ADS_1
"Kenapa kesini?" Jihan terkejut melihat Meta sudah berada di belakangnya. "Kan aku sudah bilang di rumah saja." Lanjutnya lagi. "Bawel deh." Jawab Meta. "Yang dua nggak pakai cabe buk. Kita tinggal dulu buat beli yang lain ya." Kata Jihan mengajak anak anak. "Iya Neng." Jawab Ibu penjual gado gado itu sambil tersenyum ramah. Ia sudah kenal dengan Jihan karena sering membeli gado gado nya saat main ke rumah Meta. "Mau kemana lagi?" Tanya Meta sambil mengikuti. "Dibilangin Bumil di rumah aja. Kita tuh mau keliling cari makanan. Nanti kamu kecapean." Tuturnya.
Sampai rumah Jihan langsung makan bersama. "Kamu kebangetan dek. Masa tidak ada pedesnya sama sekali. Aku bukan anak kecil tau. Makan punya kamu aja. Ayo berbagi." Ucap Riza memelas. "Nggak. Makan punya kamu sendiri. Kan aku pesankan nggak pakai cabai biar nggak sakit perut." Jawabnya sambil menjauhkan piring agar Riza tidak ikutan nimbrung. "Ngebantah suami dosa." Ucap pria itu menarik piring istrinya dan mengambil sendok yang di pegang Jihan. "Gini kan enak." Ucap Riza mulai makan sepiring berdua sambil menyuapi istrinya. "Jangan cemberut begitu." Ucap Meta menyindir adiknya sambil terkekeh.
__ADS_1
Sore hari Jaafar menghampiri semua yang sedang berkumpul di halaman belakang. "Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka kompak. "Hy. Paman bawa sesuatu." Kata laki laki itu memberi paper bag pada masing masing ponakannya. "Bilang apa?" Kata Jihan. "Makasih Paman." Ucap kedua bocah itu bareng. "Sama sama sayang." Ia mencium dan memeluk Jaffan dan Jalwa. Melewatkan tumbuh kembang keduanya membuat Jaafar ingi selalu bisa memberikan perhatian pada Si kembar.
"Mas. Itu pisangnya mateng." Kata Jihan menunjuk beberapa buah pisang yang sudah menguning di pojok halaman. "Iya deh. Perasaan kemarin belum. Aku ambil golok dulu." Kata Riza bergegas pergi.
__ADS_1
Mark menghampiri kakaknya setelah beberapa saat mengamati tanaman sayuran yang tumbuh begitu subur. Pemuda itu duduk berjongkok di depan Jihan. "Ada maunya itu." Ucap Papa menyindir. "Kemangi kakak banyak tuh. Sayang kalau di anggurin. Bikin ayam goreng sama sambel terasi kak. Lalapannya pakai kemangi pasti enak." Pintanya sambil tersenyum. "Bener Om. Ternyata ada maunya." Kata Jaafar sambil tertawa kecil. "Minggir. Kakak petik duku kemanginya." Kata Jihan berdiri dari duduk. "Makasih kak. Kakak emang the best." Ucapnya sambil mengecup pipi Jihan. "Kita bantu petik Ibu." Jalwa dan kakaknya menyusul. "Petik yang pucuk. Jangan sampai tercabut." Kata Jihan memperingati. Jaafar tersenyum. Disini begitu penuh cinta dan kehangatan. Beda dengan keluarganya yang hanya memikirkan harta dan tahta. Jihan pantas mendapatkan kebahagiaan dengan di kelilingi orang orang yang begitu menyayangi nya meskipun tidak ada hubungan darah di antara mereka.