
Jihan sedang duduk berdua di restorannya bersama seorang wanita sembari menikmati makan siang. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan. "Kapan kamu akan bertemu dengan Peter?" Tanya Carissa. "Nanti." Jawab wanita itu setelah menelan makanannya. "Jangan sampai gegabah. Jangan sampai jadi fitnah dan jangan sampai juga suamimu itu salah paham." Tuturnya menasihati. "Iya. Sudah aku pikirkan itu." Jawabnya santai.
Selesai dengan makan siangnya Jihan bergegas pergi. Wanita itu mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Beberapa kali Ia terlihat menghela napas merasa tidak nyaman dengan situasi yang akan di hadapi. Namun sebisa mungkin terlihat tenang dan santai persisi seperti kepribadiannya yang seperti biasa.
Mobil Jihan berhenti di sebuah gedung pencakar langit. Tanpa melepas kacamata hitamnya wanita itu turun sembari membawa beberapa map di tangan kanan dan tangan kiri menjinjing tasnya. "Selamat siang." Sapa resepsionis dengan ramah. "Selamat Siang. Saya ingin bertemu Tuan Peter." Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk. "Silahkan Nona. Mari saya antar. Tuan Peter sudah menunggu anda." Ucapnya begitu sopan. Jihan tersenyum kemudian mulai mengikuti langkah wanita itu.
__ADS_1
Semua mata memandang kedatangan Jihan. Wanita itu menyapa dengan senyumnya yang ramah. "Silahkan masuk Nona. Tuan di dalam." Ucapnya sembari membukakan pintu. "Baik. Terimakasih." Kata Jihan sebelum melangkah menuju ke dalam.
Sosok pria tersenyum melihat kedatangan wanita yang begitu cantik dengan pakaian formalnya. Terlihat anggun dan elegan beda dengan bertahun tahun lalu saat terakhir kali mereka berjumpa. Penampilan yang tertutup tak mengurangi kecantikan yang begitu memancar. Getaran hati yang di rasakan juga masih sama. Kentara jika belum bisa melupakan.
Peter menatap lekat wajah cantik mantan pacarnya. Ekspresinya datar seperti saat wanita itu memergokinya tengah berhubungan badan dengan sahabatnya sendiri. Jihan memang paling ahli dalam bermain mimik muka. Wanita itu mampu menutupi segalanya. "Apa kontrak ini akan berlanjut atau tidak. Jika tidak aku bisa pergi. Anak anak dan suamiku menunggu di rumah. Aku tidak akan membuang waktuku yang berharga untuk hal yang tidak ada keuntungannya seperti ini." Jihan menutup kembali Map yang sempat di bukanya. "Kita bicara tentang bisnis. Lanjutkan pembicaraan kita." Ucap Peter menahan diri untuk meluapkan segala emosi di hatinya yang bergemuruh.
__ADS_1
"Terimakasih." Kata Jihan berdiri dari duduknya kemudian melangkah pergi. "Dia sudah tiada lima tahun lalu. Saat saat terakhirnya Michelle selalu memanggil namamu dan meminta maaf. Aku menghubungimu tapi kau selalu memblokir nomorku. Dia berpesan saat nanti aku bertemu denganmu untuk menyampaikan maafnya. Tidak ada cinta di hatiku untuknya meskipun kami sudah hidup bersama dalam jangka waktu yang lama. Aku bertahan demi anak anak sebagai tanggung jawabku. Setidaknya kau harus tau itu." Jihan tak menjawab maupun menoleh. Wanita itu melanjutkan langkah berlalu pergi meninggalkan pria yang masih berdiri memandanginya.
Juma berlari memeluk ibunya saat wanita itu baru saja turu dari mobil. "Ibu kenapa pulangnya sore sekali." Jihan tersenyum membalas pelukan putranya. "Ibu masih ada urusan tadi. Ayo masuk." Ajaknya menggandeng tangan Juma untuk masuk ke dalam.
Selesai mandi dan berganti baju Jihan menghampiri suami dan anak anaknya yang sedang sibuk di dapur. "Ibu." Jaffan dan Jalwa memeluk dan mencium wanita itu diikuti Ayahnya. "Lagi bikin tape goreng ya?" Tanya Jihan. "Iya. Kemarin belum sempat bikin. Ini bikin pisang goreng juga." Jawab Riza. "Sini aku bantu." Jihan mengupas membuat adonan dan mengupas pisang di bantu anak anaknya. "Dapat pisang darimana?" Tanya nya. "Meta tadi kesini. Eh kamu belum pulang." Jawab Riza. "Oh kesini. Tadi aku ke rumahnya nggak bilang apa apa." Kata wanita itu. "Kamu kesannya kapan?" Riza mengusap pipi istrinya yang kotor karena tepung. "Pagi tadi. Ambil sambel pecel titipan Ibunya Om Rudi." Jawab Jihan. "Kesininya jam 3 tadi Dek." Pria itu mengecup gemas pipi sang istri. "Oh. Jam tiga." Kata Jihan sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1