Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Lanjut nih.....


__ADS_3

Yang belum bosan. Yang minta lanjut....


Apa menariknya cerita ini ya? Tolong tinggalkan komentar dong. Jadi teka teki buat author nih.

__ADS_1


Pagi hari semua orang di buat panik karena Jihan terus muntah muntah. "Za. Telpon dokter." Ucap Papa langsung di angguki oleh menantunya. "Di pakai berbaring saja dulu kak." Ucap Mark menata bantal untuk kakaknya. "Kok pusing banget. Perasaan semalam tidak apa apa." Kata Jihan begitu lemas. "Masuk angin kali ya. Tunggu deh. Biar di periksa dokter nanti." Ucap Papa. "Mau minum teh hangat?" Tawar Mark namun Jihan menggeleng. Perutnya mual tak mau kemasukan apapun.


Riza menggenggam tangan istrinya. Pria itu menemani Jihan yang sedang di periksa oleh dokter. "Bagaimana dok?" Tanya mereka bebarengan saat dokter melepas stetoskopnya. "Mbak Jihan hamil. Perkiraan usia kandungannya tiga Minggu." Ucap wanita paruh baya itu menyampaikan hasil pemeriksaanya dengan bahagia. "Hamil dok?" Tanya Jihan sambil tersenyum. "Iya. Nanti lebih lanjut periksa di rumah sakit ya. Jangan di buat aktifitas yang berat berat. Hamil di usia seperti ini masih rentan. Saya resepkan saja obat anti mual dan susu untuk ibu hamil." Ucapnya sambil memberi catatan.

__ADS_1


"Kami mau punya adik ya Ibu?" Tanya dua bocah itu. "Iya. Kalian tidak senang?" Tanya Riza balik. "Senang jika Ibu bisa bersikap adil." Jawab Jalwa. "Tentu saja Ibu akan bersikap adil sayang. Kalian sama sama anak Ibu pasti akan mendapat kasih sayang yang sama dari Ibu." Ucap Jihan sambil mencium dan memeluk putra putrinya.


Tidak seperti kehamilan yang sebelumnya kehamilan Jihan yang kali ini membuatnya lemas. Wanita itu tak berselera makan karena merasa mual. Jihan hanya makan buah dan minum susu saja. Sesekali juga makan kue kering. Hanya makanan itu yang dapat di terima oleh perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Siang hari setelah sholat duhur. Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Meta berkunjung bersama kedua anak dan suaminya. Perut wanita itu sudah membulat sempurna karena memasuki usia kandungan yang ke sembilan bulan. "Kamu pucat lo. Mau makan apa sih? Aku Carikan." Ucap Meta mengelus lembut pipi adiknya. "Makannya rewel. Muntah muntah terus. Badannya sampai lemas begitu." Kata Riza duduk bergabung sambil meletakkan eskrim di meja untuk dimakan anak anak. "Aku mana Mas?" Tanya Jihan menengadahkan tangannya. "Loh...Mau eskrim ya? Apa nggak mual nanti?" Tanya Pria itu. "Aku mau." Jawab Jihan sambil tersenyum. Riza mengangguk kemudian berdiri lagi untuk mengambilkan istrinya. "Yang paling besar." Pesan wanita itu pada suaminya.


"Sudah ya." Bujuk Riza yang sedang menyuapi eskrim istrinya. "Itu belum habis Mas." Kata Wanita itu membuat semua orang membelalakkan mata. Bagaimana tidak. Ukuran cup eskrim yang di makan Jihan itu ukuran paling besar. Bisa dimakan tiga sampai empat orang. Wanita itu bilang akan menghabiskan? "Kebanyakan Dek. Kamu lagi hamil." Tegur Riza berhenti menyuapi. Jihan mengambil wafer dan mecolekkan ke eskrim kemudian makan dengan semangat. "Nggak banyak." Jawab Wanita itu sambil terus makan. "Jadi kata dokter lahirannya kapan?" Meta tersenyum. "Seminggu lagi." Jawabnya. "Normal atau Caesar nih?" Ingin sekali Riza mengigit bibir istrinya yang tak berhenti makan sambil terus bertanya. "Kata dokter harus Caesar karena waktu lahiran Lita dulu juga Caesar." Rudi menjelaskan membuat Jihan mengangguk. "Ibu. Ibu mau sesuatu?" Tanya Jaffan tiba tiba. "Boy. Kenapa bertanya seperti itu?" Mark menanggapi keponakannya."Kata Kak Lita. Bibi Meta banyak maunya saat hamil " Ucap bocah tampan itu jujur. "Iya Kak. Kadang Papa suka keluar malam buat beli sate karena Mama yang minta." Lita menimpali. "Belum waktunya Boy. Kandungan Ibu masih muda. Belum waktunya minta minta seperti itu." Jelas Papa Pada sang cucu. "Nanti kalau sudah waktunya kalian lihat saja Ayah akan kalang kabut." Lanjutnya sambil terkekeh. "Enggak dong Pa. Istri Riza nggak pernah minta macem macem kalau hamil. Tapi kalau hamil kali ini begitu malah Riza senang." Ucapnya sambil mengecup kening sang istri. Ia berharap kehamilan kali ini bisa merasakan menjadi bapak bapak yang kerepotan menuruti keinginan istri yang sedang hamil.

__ADS_1


__ADS_2