
Waktu sahur di buat Riza untuk mengomeli putra bungsunya. "Nggak ada lagi tidur sama Ibu. Kamu mengompol. Sudah di bilang malam malam jangan minum es banyak banyak tidak mau dengar." Cerocosnya sambil membantu Jihan mengganti bed cover. "Ayah sama Ibu malam malam begini jadi mandi kan kena pipis kamu. Bikin repot saja, kasian Ibu belum masak juga sudah di buat repot gegara kamu." Lanjutnya lagi belum selesai. Juma hanya bisa duduk sambil menunduk. Sebelumnya Ia tak pernah mengompol seperti ini. Tapi karna semalam memang minum es banyak jadi pipis di kasur tanpa Ia sadari. "Aku mau masak dulu." Kata Jihan setelah selesai.
__ADS_1
"Ibu subuh subuh subuh begini mau nyuci?" Tanya Jalwa melihat Ibunya turun dari tangga sambil membawa keranjang cucian. "Adek kamu ngompol tuh." Jihan berjalan ke ruang laundry yang ada di belakang. "Juma nya mana?" Jalwa mengikuti langkah Ibunya. "Masih kena omel Ayah. Masih di kamar Ibu." Jawabnya sambil memasukkan cucian ke dalam mesin cuci.
__ADS_1
Selesai masalah cucian Jihan langsung masak dibantu putrinya dan Bibi juga. "Masa Den Juma ngompol Mbak?" Tanya wanita paruh baya itu. "Iya Bi. Kebanyakan minum es semalam. Ayahnya marah terus daritadi perkara harus mandi jam segini." Jawab Jihan menuangkan telur yang sedaritadi Ia kocok ke dalam teflon. "Juma mana Yah?" Tanya Jalwa melihat Ayahnya datang tidak bersama sang adik. "Ayah suruh bangunin kakak kakaknya sampai bangun. Astagfirullah anak satu itu memang menguji kesabaran." Jawab pria itu lalu duduk sambil minum air karena haus baru selesai mengoceh sedaritadi. "Sabar ustadz." Kata Bibi terkikik melihat majikannya pusing. "Sabar kok Bi. Saking sabarnya ngadepin dia sampai tensiku naik." Jihan tersenyum. Ia maklum suaminya berkata begitu karena memang anak bungsunya itu bisa di bilang nakal bahkan sangat nakal. Juma hanya mendengarkan apa yang Ibunya katakan. Namun Jihan kan tidak selalu juga harus menuturi setiap detiknya. Kalau suaminya lebih suka mengomeli makan Jihan lebih suka diam membiarkan Juma mencaritahu dan menyadari kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Siang hari Jihan membungkus sembako di bantu anak anak dan pekerja di rumah untuk sedekah. "Mas. Bayar zakat kapan?" Tanyanya. "Nanti sore aja Dek. Masih panas." Jawab Riza. "Juma jangan di tarik nanti tumpah." Tegur Jaffan melihat adiknya menarik kardus berisi minyak goreng. "Juma. Sini duduk yang baik." Kata Jihan. Bocah itu mendekat langsung duduk di samping Ibunya sambil membantu wanita cantik itu. "Begini kan enak duduk tenang." Ucap Julian. "Ayah masih marah sama Juma?" Tanya Bocah itu menatap sang Ayah yang sibuk membantu memasukkan gula ke dalam tas. "Enggak." Jawab Riza singkat. "Beneran? Kok jawabnya cuek begitu." Jihan hanya bisa tersenyum melihat kelakuan putranya yang sedang menggoda sang Ayah. "Ibu saja tidak marah. Ibu yang bukan ustadzah sabar sama Juma. Kok Ayah marah." Lanjutnya lagi membandingkan. Riza menghela napasnya kemudian menatap bocah tampan yang juga sedang menatapnya itu. "Ayah tidak marah Casper sayang." Jawab Riza jujur karena Ia marah malam tadi dan sekarang sudah tidak. "Aku bukan Casper. Ayah malah ikut ikutan kakak. Masa panggil anak sendiri begitu." Juma sekarang yang jadi kesal. "Nah ini puasa. Katanya ga boleh marah. Kenapa Juma marah?" Riza membalikkan situasi. "Nggak marah. Cuman kesal." Jawabnya. "Sama saja. Jangan ngeles kamu." Ia melanjutkan pekerjaannya kembali. Juma tiba tiba mencium Sang Ibu beberapa kali lalu mencium Ayahnya sekali. "Sebagai permintaan maaf Juma ke Ayah karena Juma ngompol malam tadi." Ucapnya sambil tersenyum. "Lain kali jangan sama ludahnya juga." Riza mengusap pipinya. "Kamu sendiri juga begitu pakai nasihatin anaknya. Mending Juma satu kalau kamu seluruh wajah di bikin kena ludah semua." Kata Jihan menyahuti membuat semuanya tertawa.
__ADS_1
Semuanya sedang berkumpul untuk buka puasa bersama. "Ibu ayo beli petasan." Ajak Juma yang sedang makan kurma. "Minta Ayah." Jawab Jihan. "Yah. Ayo beli petasan." Sesuai keinginan sang Ibu bocah tampan itu meminta pada Ayahnya. "Ayah nggak mau. Petasan itu bahaya." Jawab Riza. "Tahun kemarin boleh." Gumamnya pelan. "Itu kembang api bukan petasan." Jaffan membenarkan. "Kembang api itu lo yah." Pintanya lagi namun Riza tetap menggeleng. "Kamu bandel begitu. Ayah nggak mau beliin. Disuruh mengaji saja malah kabur." Ucap Riza. "Bu. Ayah nggak mau beliin." Ia mengadu pada Ibunya. "Ibu sudah dengar." Jawab Jihan singkat padat. "Ibu beliin ya." Juma tak berhenti berusaha memilih untuk meminta pada Ibunya. "Ibu juga nggak mau." Jawabnya. "Besok nggak kabur lagi Juma janji. Juma cuman bosen harus mengantri. Ayah selalu ajar Juma terakhir." Ucapnya mengadu. "Ya Bu..." Lanjutnya mulai merengek. "Iya iya." Jawab Jihan pada akhirnya. "Makasih Ibu. Juma akan ngaji full." Jawabnya memeluk wanita itu.
__ADS_1