Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Alhamdulillah Cuman Satu


__ADS_3

Sore hari Jihan sudah bersiap. Ia akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Wanita itu akan di temani suami dan anak anak sementara Papa dan Mark di rumah. "Kita berangkat dulu ya." Ucapnya berpamitan. "Hati hati. Jangan lama lama. Angin malam nggak baik." Pesan pria paruh baya itu mengantar sampai ke depan. "Iya Pa. Assalamualaikum." Mereka mencium tangan papa bergantian. "Waalaikumsalam." Jawab Mark dan Papa. "Hati hati." Ucap Riza menggandeng tangan istrinya menuruni tangga. Ia menghela napas. Kenapa Jihan membuat rumah dengan banyak tangga. Dari teras ke halaman saja harus melewati tangga. Pergi ke taman juga banyak tangganya. Kan jadi melelahkan. Kalau dia sih tidak apa hitung hitung olahraga. Nah kalau istrinya kan beda cerita. Jihan tidak boleh kelelahan. Harus menjaga kondisi tetap stabil apalagi dalam masa kehamilan seperti sekarang.

__ADS_1


Jihan menggandeng kedua tangan anaknya memasuki ruangan dokter kandungan. Wanita itu duduk mengobrol sebentar kemudian di arahkan untuk berbaring. "Itu Adek kita ya Bu?" Tanya Jaffan melihat layar monitor. "Iya." Jawab Riza. "Alhamdulillah cuman satu." Jihan terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut putrinya. "Kalau dua kenapa?" Tanya Wanita itu. "Enggak boleh. Satu saja." Jawabnya. "Semuanya baik dan berkembang sesuai usia kehamilan. Jangan kelelahan ya Bu. Perbanyak makan makanan yang bergizi." Kata Dokter menjelaskan dan memberi saran.

__ADS_1


Selesai dari rumah sakit mereka langsung pulang seperti yang dikatakan Papa. Jihan dan yang lain ikut duduk bergabung di ruang keluarga. "Masih kecil ya." Ucap Mark memperhatikan foto hasil USG. "Iya lah. Kandungan kakak kan masih muda." Jawab Jihan. "Susu sama vitaminnya di minum dulu Dek." Kata Riza baru kembali dari dapur untuk membuatkan susu sang istri. "Iya. Taro di meja dulu. Nanti aku minum." Pria itu mengangguk kemudian melakukan sesuai dengan keinginan sang istri.

__ADS_1


"Kalian mau berangkat mondok?" Tanya Jihan yang kini sedang tidur bersama anak anak. "Kalau Ibu mengizinkan. Menurut Ibu bagaimana?" Tanya Jalwa. "Ibu ikut bagaimana nyamannya kalian saja. Ibu akan selalu dukung kemauan kalian." Jawab Wanita itu sambil tersenyum. "Kalian tidur disini?" Tanya Riza baru kembali dari ruang kerjanya. "Iya. Ranjangnya kan superrrrr besar. Muat untuk satu keluarga Yah." Jawab Jaffan. "Kalau kalian tidur disini nanti nendang perut Ibu. Biar Ibu di samping Ayah saja." Kata Riza ikut naik ke atas ranjang. "Enggak. Kita nggak banyak tingkah kalau tidur. Iya kan Ibu?" Jihan mengangguk menanggapi putrinya karena memang adanya begitu. "Gitu banget Dek." Keluh Riza terpaksa ikut berbaring di posisi paling samping sementara anak anak di tengah. "Beneran cuman lima hari kan Yah?" Tanya Jalwa. "Iya lima hari. Kalian mau ikut?" Tanya Riza berbinar. "Nanti dulu. Masih di pikirkan." Jawab gadis kecil itu. "Kirain sudah setuju." Gumam Riza sambil menghela napas.

__ADS_1


Mau minta berapa eps hari ini?????🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2