Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Aku Nggak Ikutan


__ADS_3

Hari ini Jihan dan yang lain berkeliling membagikan sedekah."Jangan bawa. Kalian nggak kuat." Tegur Jihan. "Kuat Ibu." Jawab Jaffan mengangkat tas kain berisi sembako itu keteteran. "Biar Ibu yang bawa." Ia menghampiri putranya membantu si tampan.


Jihan menggandeng tangan anaknya menghampiri tukang becak yang sedang beristirahat. "Permisi pak." Ucap wanita itu ramah. "Ini ada sedikit rezeki dari kami semoga bermanfaat." Pria paruh baya itu tersenyum. "Terimakasih Mbak. Semoga rezekinya lancar dan diberi kesehatan sekeluarga." Jihan mengangguk sembari tersenyum. Ia mengajak anaknya untuk mencium tangan pria yang giat mencari nafkah itu untuk berpamitan. "Semoga bapak juga selalu sehat dan dimurahkan rezeki." Kata Jihan sebelum pergi.


"Ibu. Kenapa mencium tangan bapak itu?" Tanya Jaffan. "Dia orang tua sayang. Sebagai rasa hormat kita harus mencium tangannya. Jangan membedakan status orang. Kaya miskin itu sama saja. Yang membedakan adalah akhlaknya. Manusia akan mulia di sisi Tuhan ketika berbuat baik semasa hidup. Harta itu hanya titipan. Bisa Tuhan ambil kapan saja." Ucap Jihan menuturi putranya. Bocah tampan itu mengangguk kemudian memeluk sang Ibu.


"Kamu kemana sih Dek? Jalwa nangis cariin kamu." Kata Riza menghampiri istrinya. "Maaf Sayang. Ibu sama kakak kesana tadi." Ia buru buru memeluk putrinya. "Sudah selesai semuanya?" Tanya Mark baru datang. "Sudah. Ayo pulang." Ajak Riza takut istrinya yang sedang hamil kelelahan. Harusnya tadi Jihan tidak ikut seperti ini namun wanita itu bersikeras untuk ikut. "Jangan pulang dulu. Beli labu untuk bikin es." Kata Jihan membuat mereka menatap heran. "Kamu yakin Dek mau buat Es dari labu?" Tanya Riza di jawab anggukan. "Apa enak labu di jadikan es?" Jaafar mencubit pipi adiknya. "Enak. Tiap ramadhan kita bikin." Jawabnya. "Hah? Kakak salah kali. Blewah itu bukan labu." Kata Mark baru tersadar. "Iya Dek. Blewah itu bukan labu." Kata Riza. "Apalah itu. Ayo beli dulu." Pria itu mengangguk menuruti istrinya. Ia menggandeng tangan Jihan ke toko buah terdekat.


"Yang ini besar Ibu." Kata Jalwa mengangkat satu buah blewah berukuran cukup besar. "Belum matang itu. Yang lain." Jawab Riza. "Coba kamu pilihkan." Kesal Jihan karena suaminya itu sedaritadi menempel sambil berkomentar saja. "Hehehe...Iya." Pria itu mulai memilih beberapa. "Yang ini harum." Kata Riza memasukkan ke keranjang. "Mau apalagi Dek?" Tanyanya. "Kerupuk rujak. Ambilin lima." Jawab Jihan membuat Riza menyipitkan mata. "Kenapa lihatin aku begitu?" Tanya Jihan garang. "Enggak. Jangan galak galak." Ucap Riza mengecup pipi istrinya kemudian segera bergegas mengambil kerupuk untuk sang istri. "Begitu nggak digalakin." Gerutu Jihan.


Sampai di rumah Jihan dan yang lain langsung Istirahat di kamar masing masing. Anak anak ikut tidur siang bersama sang Ibu. "Ayo tidur. Biar nggak terasa lapar sama hausnya." Tutur Jihan. "Kalian disini ternyata." Kata Riza baru masuk kamar. "Kita mau tidur siang sama Ibu." Jalwa dan Jaffan memeluk Ibunya. "Kalian ini. Punya kamar sendiri juga." Riza ikut berbaring di samping anak anaknya. "Ayah kenapa tidur sama Ibu?" Tanya Jaffan. "Karena Ayah kan Suami Ibu. Kalau Ayah nggak tidur sama Ibu nanti nggak bisa buat kalian. Nggak bisa buat dedek bayi." Jawab Riza membuat istrinya menatap sebal pria itu. Jika sudah begini dapat dipastikan anaknya yang kepo itu akan bertanya lebih lanjut. "Dasar mulut." Gumam Jihan. "Buat Adek? Gimana Ayah?" Tanya Jalwa penasaran membuat Riza kelabakan. "Dek." Ia meminta bantuan. "Aku nggak ikutan." Jihan memejamkan matanya. "Rahasia." Jawab Riza. "Yasudah kita tanya Om Mark." Pria itu menggeleng cepat. "Jangan. Kalian masih kecil tidak boleh tau. Sekarang tidur. Nanti Ibu terganggu kalau kalian nggak tidur." Jaffan dan Jalwa mengangguk kemudian kembali memeluk Ibunya.

__ADS_1


Malam Hari.


Wes tak pupuk winihe katresnanku, kanggo awakmu


Dungoku tuku lemu urip ayem kanggo senengmu


Aku percoyo winih tresnamu, nandes mancep ing ati ku


Opo kurang leh ku ngerteni karepmu


Nek kangen ngomong kangen, rasah tukaran ae

__ADS_1


Mbok di eman eman hubungane


Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran ati


Mbok ojo satru satru ae sayangku


Jajal rasah percoyo nek trimo kabar ko njobo


Aku kerjo, nguripimu nggo makmurne atimu......


Mark dan Jihan sama sama memainkan Piano di ruang keluarga membawakan lagu Jawa yang beberapa hari ini mereka tau. Meskipun tidak begitu fasih tapi suara keduanya sangat merdu. Suara tepuk tangan riuh dari beberapa orang sebagai penonton setia. "Memang tau artinya?" Tanya Riza. "Nggak tau. Nggak mau tau. Kalau pengen tau cari di internet ada." Jawab Jihan cerdas seperti biasanya membuat Riza cemberut. Dia kan ingin sesekali menjelaskan. Sebagai orang Jawa asli tentunya Ia tau arti lagu itu.

__ADS_1


Jihan duduk bersama mereka menikmati kerupuk rujak yang dibeli tadi. "Itu pakai sambel pecel enek lo. Tapi yang belum ada bumbunya." Kata Papa. "Sambel pecel?" Jihan bertanya tanya. "Iya. Lain kali Papa bawakan." Pria itu mengusap kepala Jihan dengan lembut. "Pedes." Kata Jalwa meminum air. "Ada yang nggak pakai sambel sayang. Ibu bukain." Kata Jihan meraih kerupuk di depannya. "Nah ini nggak pedas." Ucap gadis kecil itu.


Papa menghela napas membayangkan jadi putrinya. Semuanya manja. Jihan harus melayani ini itu dalam kondisi hamil seperti ini. Sangat kerepotan pastinya. Namun wanita tangguh itu sama sekali tak pernah mengeluh. "Puasa hari ketiga gimana?" Tanya Mark. "Biasa saja Om. Kalau siang kita tidur jadi nggak lapar." Jawab Jaffan. "Ibu. Mau es tadi masih?" Tanya Jalwa. "Masih. Ayo Ibu ambilkan." Kata Jihan. "Biar aku aja Dek." Riza bergegas pergi karena tak mau istrinya berdiri dari duduk nyamannya.


__ADS_2