
Jihan menatap kedua putra kembarnya yang sudah memakai celemek. Sesuai permintaan mereka, hari ini Ia akan mengajari memasak. "Ayo siapkan bahannya dulu. Ini daftarnya." Ucap Jihan memberikan secarik kertas pada Jason dan Julian. "Ok Ma." Jawab mereka segera bergegas. "Kalian siap jadi Juri?" Tanya Jihan pada keempat putra putrinya. "Siap Bu." Jawab mereka kompak.
"Cara potongnya jangan begitu. Potong sepanjang tiga senti jangan terlalu tebal." Jihan membenarkan Jason yang sedang memotong daging. "Julian potong kentangnya yang sama. Jangan besar kecil begitu. Kalau besar ya besar semua. Kalau kecil ya kecil semua jadi matangnya barengan. Lagi, masih ada kompor tidak di gunakan itu bisa kalian buat untuk rebus telur jadi efisien waktu. Kalian itu kerja di dapur kejar target. Kalau semuanya nggak kalian handle dan memanfaatkan waktu dengan baik bisa kena protes karena pembeli menunggu terlalu lama." Lanjutnya. "Baik Bu." Sesuai perintah Jason langsung merebus telur. "Jangan di tutup. Biarkan terbuka setelah di matang rendam di air agar mengupasnya mudah." Jason dan Julian mengangguk. Mereka benar benar dapat banyak ilmu padahal baru mulai beberapa menit.
__ADS_1
Jason dan Julian memasak hidangan terakhir yaitu steak. "Jason Julian kalian bisa bagi tugas. Kalau Jason sedang urus dagingnya kamu bisa bikin saus. Jangan satu pekerjaan saja diurus dua orang." Julian mengangguk segera membuat saus sambil memperhatikan resep. "Perhatikan apinya. Jangan besar, pakai api kecil biar matang luar dalam dan tetap lembut dagingnya. Kalau disini beda dengan di luar. Orang disini lebih suka benar benar matang bukan medium. Over cook tidak masalah asal tidak ada bau gosong dan daging yang keras." Riza tersenyum memperhatikan istrinya yang mengomel sedaritadi. Kemampuannya di dapur sudah tidak diragukan lagi makannya Ia tau segalanya dengan detail.
"Kenapa senyum senyum begitu?" Tanya Jihan menatap suaminya sambil bersedekap dada. "Begitu sama suami sendiri." Riza melangkah menghampiri istrinya lalu menggelitik wanita itu. "Ampun Mas." Ucap Jihan tertawa sampai menangis membuat pria itu akhirnya berhenti lalu mengecup pipi sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Ibu sampai kapan jadi remaja?" Tanya Jaffan tiba tiba. "Heh. Ibu sudah tua. Anaknya sudah 6." Jawab Jihan duduk di depan putra putrinya. "Wajah Ibu masih seumuran kita. Makannya kalau sama Ibu dikira saudaranya." Ucap Jalwa membuat mereka mengangguk. "Jangan jangan Ibu Vampir. Juma punya Ayah ustadz tapi Ibu Vampir?" Tanyanya menatap lekat wajah Jihan. "Kamu ngatain Ibu Vampir." Jihan menggendong putranya membuat Bocah tampan itu tertawa kencang. Dika hanya tersenyum memperhatikan keharmonisan keluarga ini. Ia bersyukur bisa ada di tengah tengah mereka. "Strawbery Dik. Manis. Ini dari kebun Ibu." Riza membuka kotak strawbery yang di ambil dari kulkas. Dika mengangguk segera memakannya. "Manis kan?" Tanya Riza di jawab anggukan. "Ibu punya kebun?" Tanya Dika. "Punya. Hadiah dari Kakek. Ditanami banyak buah buahan. Kapan kapan kita kesana." Jawab Riza.
"Gimana? Enak nggak masakan kita?" Tanya Julian. "Lumayan. Bisa dijual." Jawab Papa. "Masih enak masakan Ibu." Kata Juma di angguki yang lain. "Kalau itu ya jangan di bandingkan dong." Jason menghela napas. "Gimana Ma, Enak?" Tanyanya meminta komentar mentornya. "Enak. Pas. Rasanya tidak terlalu strong jadi ga bikin eneg." Jawaban Jihan yang jelas dan berdasarkan pengamatan mendalam menjadi semangat bagi mereka. "Mas mau siomay Dek." Ucap Riza. "Ya ambil dong. Aku lagi menyuapi Juma." Jawab Jihan. "Aku kan nggak bisa pakai supit." Keluh Riza membuat mertuanya menggelengkan kepala. Ada saja tingkah menantunya itu demi mendapat perhatian sang istri. "Pakai garpu Yah." Sahut Jalwa. "Beda rasanya." Bisa saja menjawab seperti Juma. Jihan menghela napas mengambil somay dengan supit lalu menyuapkan pada suaminya. "Ayah senang?" Tanya Juma. "Tidak mungkin kamu tidak tau jawabannya." Ucap Riza meledek.
__ADS_1
Suasana sedikit kalem karena pengacau kecil sudah tertidur pulas di karpet. Jihan sedang berbicara dengan Jaffan dan juga Jalwa. "Kalian mau ke puncak?" Tanya wanita itu di jawab anggukan semangat oleh keduanya. "Besok berangkat ya Bu." Ajak Jaffan yang sedang memangku dan memijit kaki Ibunya. "Besok? Besok hari apa sih?" Tanya Jihan. "Hari Jumat." Jawab Jalwa kebagian memijit lengan Sang Ibu. "Coba tanya Ayah dulu. Eh bukannya besok masih Kamis?" Jihan di buat bingung sekarang. "Iya Bu. Jadi kita ke puncak besoknya lagi." Ia mengangguk paham dengan jawaban putrinya. "Ayah. Ayo ke puncak. Kata Ayah mending ke puncak daripada ke California." Lanjutnya melihat kedatangan Riza. "Iya. Kapan mau berangkat?" Tanyanya. "Jumat Yah. Selesai Jumatan berangkat." Jawab Jaffan dan Ayahnya mengangguk setuju.
Riza memperhatikan putranya yang tergeletak di karpet dengan mulut sedikit terbuka. "Oh. Pantesan senyap." Gumam pria itu mendekat. "Jangan di usilin anaknya nanti bangun." Tegur Jihan karena suaminya itu kadang suka menggoda Juma saat tidur. "Mau nutup mulutnya." Jawab Riza sambil menekan pelan rahan bawah Juma ke atas membuat bocah tampan itu menggeliat. "Huft. Untung nggak bangun." Ia menghela napas kembali duduk di dekat istrinya.
__ADS_1