
Jihan menggerutu sebal harus menuruti keinginan suaminya. Riza sedaritadi begitu memaksanya agar Ia ikut pergi ke dapur. "Nah. Duduk sini. Aku akan buat sesuatu untuk kamu." Kata Pria itu menyuruh sang istri duduk di kursi dengan nyaman. "Mau bikin apa sih? Aku masih kenyang. Jangan aneh aneh deh." Jihan begitu malas harus seperti ini. "Ya kamu liatin aku aja Dek. Aku buat sesuatu yang spesial." Kata Riza penuh percaya diri sembari mengeluarkan beberapa buah buahan dari kulkas.
Jihan meletakkan kepalanya di atas meja karena merasa bosan. Ia hanya menyaksikan suaminya mengupas dan memotong buah buahan. "Lagi ngapain?" Tanya Mark duduk bergabung bersama kakaknya. "Di suruh nonton kakak iparmu itu entah lagi bikin apa." Jawab Jihan membuat Riza tersenyum mendengarnya. "Aku yakin kamu nggak bakal nolak Dek. Soalnya ini bakalan enak banget." Tutur pria itu sembari meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berlalu. Riza menyajikan rujak buah untuk di coba istrinya. "Silahkan dicoba." Ucapnya penuh percaya diri. "Bikin begini aja satu tahun baru selesai." Gerutu Jihan mulai memakan rujak yang di buat suaminya. "Eh..Itu buatnya penuh cinta Dek. Jadi lama. Harus hati hati dan detail." Kata Pria itu membuat tawa Mark hampir meledak. Apalagi melihat respon kakaknya yang tak peduli dengan keromantisan sang suami. "Namanya apa?" Tanya Jihan setelah makan beberapa potong. "Rujak. Enak kan? Tidak mungkin tidak enak. Aku paling jago kalau urusan bikin rujak." Kata Riza membanggakan Skillnya yang biasa saja. "Enak daripada masakan kamu yang kemarin kemarin." Jawab Jihan. "Jujur banget Dek. Nggak ada niatan buat nyenengin suami apa?" Riza cemberut. "Eh pak ustadz. Jangan amnesia ya. Kamu kan kalau ceramah suka ingatkan orang untuk jujur. Kenapa sekarang aku jujur kamu protes?" Kata Jihan membuat Riza terpojok. "Iya bener sih Dek. Tapi bohong kecil untuk menyenangkan hati suami kan tidak ada salahnya." Riza mulai memelas. "Bisa bisanya. Sudah jangan perlihatkan ekspresi itu. Menyebalkan." Jihan memalingkan wajahnya. Mark sudah terbiasa. Sangat terbiasa dengan pertengkaran kecil mereka yang pada akhirnya tetap baik baik saja.
Riza melangkah cepat menghampiri istrinya yang sedang membawa kresek hitam besar. "Dek. Mau kemana?" Tanyanya ketika sudah berada di depan sang istri. "Mau buang sampah. Awas." Riza mengambil kresek itu dari sang istri. "Biar Aku yang buang." Kata Riza bergegas pergi setelah mengecup bibir istrinya dengan cepat.
__ADS_1
Sore hari Riza mengantarkan istrinya untuk cek kandungan. Keduanya sudah sampai setelah menempuh 30 menit perjalanan. Riza menggandeng tangan Jihan memasuki rumah sakit dan segera mengambil nomor antrean. "Kenapa isinya cewek semua?" Gumam Jihan masih di dengar suaminya. "Iyalah Dek. Ini kan tempat periksa orang hamil." Jawab Riza sambil tersenyum. "Bukan itu maksudnya. Kok nggak ada yang menemani. Kok pergi sendiri." Jihan memperhatikan para wanita yang periksa tanpa di temani suaminya. "Sedang sibuk mungkin."
Beberapa menit menunggu antrian akhirnya giliran sepasang suami istri itu. Riza begitu terharu melihat calon anak anaknya yang masih begitu kecil. "Alhamdulillah." Ucapnya tak berhenti bersyukur dalam hati. "Kondisi janin Ibu sehat dan berkembang susuai usia kehamilan. Semuanya normal. Perbanyak makan makanan yang bergizi seperti buah dan sayuran." Pesan dokter dan Jihan hanya mengangguk. Sementara suaminya itu begitu antusias untuk menanyakan kiranya makanan apa yang baik dikonsumsi untuk ibu hamil.
__ADS_1
Riza menghampiri istrinya yang sedang sibuk memperhatikan foto USG bersama sang adik. "Susunya di minum dulu Dek." Kata Pria itu ikut duduk bergabung. "Itu dingin atau hangat?" Tanya Jihan tanpa menatap suaminya. "Hangat." Jawab Riza sambil memeluk manja Sang Istri. "Biarkan dingin dulu." Kata Jihan. "Ih...Awas ah. Kamu berat." Ia mendorong tubuh suaminya pelan agar menjauh lalu bersandar di lengan Mark. "Heh...Kamu kok malah manja sama dia. Aku suami kamu Dek. Sini aja." Riza tidak terima namun sang istri juga tidak peduli.