
Riza menghampiri istrinya yang tampak lemas. Beberapa hari ini selera makan Jihan juga menurun bahkan wanita itu sering melewatkan makan siang dan makan malam. "Kamu kenapa sih Dek? Diajak periksa ke dokter nggak mau." Ucap Riza khawatir. "Nggak mau. Emang beneran nggak papa." Jawabnya sambil tersenyum.
Ponsel Riza berdering. Pria itu mengangkat panggilan yang masuk dari mertuanya. "Waalaikumsalam Yah." Jawabnya. "Za. Beritahu pada Jihan jika Jena kecelakaan bersama suaminya. Kami sedang ada di rumah sakit." Riza mengangguk kemudian menutup panggilannya setelah mengucapkan salam. Ia berat mengatakan. Dulu saja saat istrinya kecelakaan mereka di beritahu namun tidak datang. "Ada apa Mas?" Tanya Jihan yang sedang tiduran di pangkuan suaminya. "Em...Kak Jena kecelakaan bersama suaminya Dek. Ayah suruh kita kesana." Ucap Pria itu sedikit lirih. Jihan mengangguk pertanda setuju akan datang. "Tapi kamu lemas begini." Riza khawatir. "Nggak papa." Jawab Jihan meyakinkan.
"Ibu mau kemana?" Tanya Jalwa dan Jaffan menghampiri Jihan yang berjalan menuruni tangga diikuti suaminya. "Mau ke rumah sakit sebentar jenguk Bibi Jena. Kalian di rumah sama Om Mark ya." Tutur wanita itu dengan lembut. "Kakak kalau lemas nggak usah pergi." Mark khawatir. "Kakak nggak papa kok. Titip anak anak sebentar ya Mark." Ucapnya segera berpamitan.
__ADS_1
Riza menggandeng tangan istrinya memasuki rumah sakit. Pria itu langsung menghampiri kedua mertuanya yang sedang menunggu di depan ruang UGD. "Bagaimana keadaanya Yah?" Tanyanya dengan prihatin. "Masih di tangani dokter." Jawab Ayah. "Terimakasih sudah datang Nak." Ucap Bunda dan Jihan hanya mengangguk. "Duduk dulu." Riza mengajak istrinya untuk duduk agar tidak lelah berdiri. "Sakit ya?" Tanya Ayah melihat wajah putrinya yang pucat. "Enggak." Jawab Jihan singkat.
Beberapa saat kemudian Jaafar datanng. "Kamu pucat kenapa Dek?" Tanyanya mengusap pipi Jihan. "Nggak papa." Jawabnya sambil menggeleng pelan. "Kondisinya bagaimana?" Tanya Jaafar. Kejadian seperti ini mengingatkannya dulu saat Jihan masuk rumah sakit tidak ada satupun yang datang. Namun kini saat Jena dan suaminya mengalami kecelakaan Jihan berbesar hati untuk datang. "Masih belum ada kabar." Jawab Ayah.
Jenazah Jena sudah di bawa pulang ke rumah duka kemudian segera di makamkan setelah di sholatkan. sedangkan Jenasah Amir dipulangkan ke kampung halamannya untuk di makamkan oleh keluarga. Rudi juga ikut datang untuk melayat tanpa membawa istri dan anak anaknya.
__ADS_1
Suasana kembali sepi setelah pengajian selesai di malam hari. Tidak terdengar lagi lantunan ayat suci. Jihan duduk bersama kedua anak dan adiknya. Sedangkan papa dan juga Riza mengobrol bergabung dengan yang lain. "Kalian menginap disini kan?"Tanya Bunda menghampiri Putri dan cucunya. "Kalian mau menginap?" Tanya Jihan namun si kembar dengan cepat menggeleng. "Kenapa?" Tanya wanita itu tatapan sendu. Kehilangan anak dan sekarang hubungan dengan putri dan cucunya tidak dekat juga. "Kita nyaman tidur di rumah milik Ibu." Jawab keduanya Jujur. "Ini rumah Oma, rumah Ibu juga. Mau ya..." Pintanya memohon.
"Ibu. Kenapa kita tidur disini?" Protes Jalwa yang sedang menunggu Jihan menyiapkan susu. "Semalam saja sayang." Jawa wanita itu memberikan keduanya masing masing satu gelas. "Sudah. Terimakasih Ibu." Mereka memberikan gelas kosong itu kembali pada Ibunya setelah selesai.
"Belum tidur ya?" Tanya Riza memasuki kamar melihat istri dan kedua anaknya masih terjaga. "Anak anak nggak bisa tidur Mas." Jawab wanita itu. Riza melepas pecinya dan meletakkan di atas nakas. Pria itu ikut berbaring di posisi paling samping. "Bibi Jena jahat ya Bu. Waktu itu pernah menghina Ibu dan kita." Ucap Jalwa. "Tidak usah diingat. Maafkan semua kesalahannya agar tenang disana." Ucap Jihan membuat suaminya tersenyum. Walaupun keras kepala namun hati Jihan begitu lembut sebenarnya. "Ibu. Oma sama Opa kan sudah tidak punya teman karena Paman Jaafar tinggal sendiri. Kalau Ibu di suruh temani jangan mau ya." Kata Jaffan membuat Riza mengernyitkan keningnya. "Sudah. Ayo tidur. Jangan sampai besok sulit di bangunkan untuk sholat subuh." Ucap Jihan merengkuh tubuh si kembar. "Aku nggak di peluk Dek?" Tanya Riza. "Nggak sampai." Jawabnya sambil terkekeh.
__ADS_1