
Malam hari suasana tampak sunyi. Hanya ada suara jangkrik yang terdengar. "Kamu belum tidur juga Mas?" Tanya Jihan sembari menutup laptopnya. "Belum Dek. Kan nunggu kamu." Jawab pria itu sambil tersenyum. Riza memeluk istrinya ketika wanita itu sudah sampai di ranjang. Tangannya menjalar ke bawah. "Ini malam Jumat Dek." Ia mengingatkan sang istri. "Nggak malam Jumat juga kamu setiap hari minta." Jawabnya. Riza hanya tersenyum. Pria itu mendorong tubuh istrinya pelan hingga terlentang di ranjang. Jika sudah begini Jihan hanya bisa menurut. Ia tak mau dikutuk sampai pagi gegara menolak melayani suaminya padahal dia sendiri sangat lelah. Baru saja pekerjaannya selesai. Ini sudah jam 12. Harusnya bisa istirahat. Namun apa boleh buat. Jihan hanya bisa berencana sementara suami yang mengacaukannya.
"Disini tidak kedap suara. Awas saja jika anak anak mendengar suaramu itu Mas." Jihan memperingati. Riza hanya mengangguk. Pria itu mulai mengecup ubun ubun sang istri dengan lembut. Ia mencium bibir istrinya dengan sangat bergairah seperti biasa. Dengan tak sabaran Riza melepaskan pakaiannya dan pakaian sang istri. Mereka telanjang bulat namun masih tertutup selimut tebal di suasana kamar yang temaram. Riza menyusuri seluruh tubuh istrinya. Mencumbu dengan penuh cinta. Ia mulai mengarahkan miliknya ke milik sang istri dan...."Akh..." Ucap Riza saat miliknya seperti di gigit nikmat saat melakukan penyatuan. Milik istrinya masih saja sempit padahal sudah melahirkan 3 anak. Ia mulai mendorong pinggulnya maju mundur dengan tempo sedang dan gerakan sangat lembut. "Pelan kan suaramu Mas." Tutur Jihan sambil berpegangan pada lengan Riza. Berbeda dengan suaminya Jihan lebih menahan suaranya sebisa mungkin. Kalau di rumah berteriak dan menjerit pun bebas. Kalau disini kan beda cerita.
__ADS_1
Riza menggulingkan badannya ke samping dengan peluh yang membasahi tubuhnya. "Sayang." Panggilnya memeluk Jihan. "Ya." Jawab wanita itu sambil memiringkan tubuh menghadap suami. "Kenapa milikmu masih sempit? Mas tadi cukup kesulitan memasukinya." Tanya Riza. "Memangnya kamu suka yang longgar?" Tanya Jihan balik. Riza menggeleng cepat. "Enak sempit. Ibu anak tiga rasa perawan memang begini." Jawabnya sambil terkekeh pelan. "Kalau sempit itu rasanya luar biasa. Seperti di gigit nikmat." Lanjutnya. "Ini sangat nikmat." Ucap Riza menatap istrinya sembari tangan membelai di bawah sana. "Kamu akan begadang sampai menjelang subuh nanti." Ucap Riza mulai bangkit dan mengungkung tubuh istrinya lagi. "Mas." Keluh Jihan. "Yang ini bikin candu." Ucap Riza sensual sambil menggigit telinga istrinya nakal.
Pagi hari setelah sarapan Jihan menyirami tanaman di depan rumah. "Ibu. Bikin Es Yuk." Ajak Juma menghampiri ibunya. "Masih pagi loh ini." Jawabnya. "Pengen." Si bungsu langsung menggandeng tangan Ibunya masuk ke dalam rumah. "Ayah." Sapa Juma cengengesan sambil memeluk lengan ibunya posesif. Sengaja dia mau panas panasin Ayahnya yang cemburuan itu. "Bisa nggak. Nggak usah terlalu begitu. Nempel mulu." Tak menjawab remaja tampan itu segera membawa Ibunya pergi.
__ADS_1
"Mau bikin apa Dek?" Tanya Riza menghampiri istri dan anak anak yang sedang berada di dapur. "Mau buat Sop buah." Jawabnya. "Tolong ambilin sirup sama susu kental manis di atas itu." Riza mengangguk kemudian segera melaksanakan perintah sang istri. "Yang ijo apa yang merah?" Tanyanya. "Yang merah. Susunya yang putih." Jawab Jihan.
"Assalamualaikum." ucap seorang laki laki memberi salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab Riza sambil membuka pintu. "Eh pak Santoso. Ada apa ya pak?" Tanya Riza. "Nanti sore ada acara selamatan. Datang ya ustadz." Kata Pria itu. "Insyaallah nanti datang pak." Jawabnya.
Riza kembali lagi menghampiri anak anak dan Istrinya setelah mengobrol sebentar dengan tangganya. "Ibu. Ayo liburan ke Eropa lagi." Ajak Juma. "Kakek kalian mau di tinggal di rumah sendiri?" Tanya Jihan. "Eh iya. Lupa." Jawab Juma terkekeh kemudian memeluk ibunya. "Bisa nggak kalian ini ada kegiatan apa gitu biar nggak nempel terus sama Ibu." Kata Riza sambil menghela napas. "Dekat sama Ibu juga kegiatan. Malah positif." Jawab Si bungsu membuat Jihan tersenyum mengejek suaminya. Kekuatan Jihan dan pendukung Jihan adalah ketiga anaknya. Jika ingin apapun mereka akan selalu menuruti berbeda dengan Suaminya yang ini itu selalu di larang. "Ibu sayang kita atau Ayah?" Tanya Juma. "Sayang kalian dong." Jawab Jihan membalas pelukan ketiga putra putrinya.
__ADS_1