
"Weh....Gantengnya Adek kakak. Sudah jadi dosen sekarang. Selamat ya." Jihan mengecup pipi adiknya sekilas lalu duduk di kursi untuk sarapan. "Terimakasih Kak." Ucapnya sambil mengecup balik pipi wanita itu. Sekarang Mark mulai mengajar di kampus yang sama dengan Riza. Pemuda itu mendapat panggilan kerja beberapa hari yang lalu lewat prestasinya yang membanggakan. "Kamu nggak mau lanjut S3?" Tanya Jihan sambil menyiapkan makan. "Nggak kak. Udah capek mikir." Jawabnya sambil terkekeh. "Cepek mikir atau nggak enak hati karena biaya?" Ucap Riza tau isi hati iparnya itu. "Nggak kak. Sudah sampai titik ini Riza sudah bersyukur. Jika bukan karena Kakak mungkin Mark akan tetap disana dan mendapat penghidupan yang kurang layak." Ucapnya mengingat tidak punya siapa siapa lagi keluarga Ayahnya yang tersisa juga tidak peduli padanya karena hubungan kedua orang tuanya memang tidak di restui.
"Kamu nggak makan kenapa Dek? Sakit?" Tanya Riza mengusap pipi istrinya. "Enggak. Emang nggak pengen makan aja." Jawab Jihan. "Kakak harus minum obat lo." Tutur Mark. "Iya. Nanti Kakak makan roti." Jawabnya sambil tersenyum. "Ibu nanti antar kita kan?" Tanya Jalwa bersemangat. "Iya. Oh iya Mas. Semalam kan aku sudah cerita ke kamu soal rencana bikin rumah itu. Nah hari ini aku mau lihat tanahnya." Ucap Jihan meminta Izin. "Nggak bisa besok besok saja ya Dek? Mas kan bisa temani." Ucapnya namun Sang Istri menggeleng. "Bisanya yang punya tanah hari ini ketemu Mas." Riza tersenyum kemudian mengangguk. Sebenarnya Ia khawatir. Tapi membuat wanita itu terkekang dan membatasi kebebasannya juga tidak baik. Oleh karena itu Ia hanya bisa menuruti asalkan Jihan tidak terlalu kelelahan dan tetap nyaman. "Hati hati ya. Maaf Mas tidak bisa temani. Jangan terlalu lelah." Tuturnya dengan lembut dan Jihan mengangguk setuju.
__ADS_1
Riza memeluk istrinya sangat lama kemudian menciumi wajah wanita itu sebelum pergi. "Sudah. Aku sama anak anak berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Jihan mencium tangan suaminya diikuti si kembar. "Iya. Waalaikumsalam. Ingat pesan Mas." Ucap Riza.
Setelah mengantar anak anak ke sekolah Jihan langsung menuju ke lokasi tempat pertemuannya dengan pemilik tanah. Wanita itu sudah beberapa kali bertemu dengan pria itu bersama suaminya namun Jihan masih memikirkan. "Selamat Pagi Bu Jihan." Ucapnya menyambut ramah wanita cantik dengan kacamata hitam yang baru turun dari mobil mewah itu. "Pagi Pak. Jadi ini tempatnya?" Tanya Jihan. "Iya Bu. Tempatnya tenang dan jauh dari kebisingan seperti yang Ibu mau meskipun terletak di kota. Tanahnya luas dan juga banyak pepohonan menambah sejuk suasana. Kalau Ibu keluar dari jalan ini langsung menuju jalan raya yang dekat dengan supermarket dan klinik kesehatan. Oh iya. Ibu bilang sangat senang berkebun. Tanah di sini juga subur Bu." Jelasnya sambil mengajak Jihan memeriksa.
__ADS_1
Mark dan Riza pulang barengan. "Kemana? Mobilnya sudah di garasi." Gumam Riza karena tidak mendapati sang istri. Pria itu segera naik ke lantai dua setelah berpamitan pada Iparnya.
Riza meletakkan tubuh istrinya dengan hati hati di ranjang. Pria itu tadi mendapati Sang istri tidur bersama anak anak kemudian memindahkannya ke kamar. Ia mengganti bajunya dan bersih bersih sebentar kemudian menyusul Istrinya yang masih tertidur pulas. "Um..Kamu pulang Mas." Jihan menggeliat. "Iya Sayang. Tidur lagi saja Dek." Jawabnya sambil menepuk punggung sang istri pelan. "Mas kepala aku pusing." Ucapnya membuat Riza seketika panik. "Mas ambilkan obat dulu." Ia bergegas pergi.
__ADS_1
Riza di buat terkejut melihat istrinya mimisan. Itu pasti efek cedera otak yang di derita Sang istri. Melihat Jihan seperti ini membuat hati pria itu terluka. Ia mengusap darah yang mengalir di hidung wanita itu dengan sangat lembut sambil menahan air mata. Berat rasanya melihat orang yang di cintai terluka. "Sudah. Sekarang tidur lagi. Mas kan bilang jangan sampai kecapean." Ucapnya membantu Jihan berbaring dengan hati hati. "Masih pusing?" Tanya Riza memeluk tubuh istrinya. "Berkurang." Jawabnya sambil memeluk pinggang suami. Riza mengecup kening kemudian mengelus punggung wanita itu sampai tertidur pulas.