
"Weh ustadz. Istrinya sudah pulang ya." Celetuk pak Samsul menghampiri Riza yang sedang berjalan sepulang dari musholla. "Iya." Jawabnya dengan senyuman yang tak pernah luntur. "Saya masuk dulu ya Pak. Assalamualaikum." Ucap Riza sambil membuka pagar rumahnya karena sudah sampai. "Waalaikumsalam." Jawab Pria itu langsung melanjutkan perjalanan.
Hanya melepas peci dan baju kokonya Riza langsung melangkah cepat menuju dapur. "Dek." Pria itu memeluk istrinya dari belakang. "Hm...Mandi sana." Riza menggeleng. "Nanti dulu. Ini masih terlalu pagi." Jawabnya pelan sambil menelusup kan wajah ke ceruk leher sang istri. "Sedang masak apa?" Pertanyaan suaminya membuat Jihan menghela napas. "Ini kan sudah jelas masak nasi goreng. Kamu kenapa sih Mas? Terbentur dimana?" Kata Jihan mematikan kompor lalu membalikkan badan menatap Riza. "Ah. Iya. Saking fokusnya Mas ke kamu jadi tidak memperhatikan yang lain." Nah kumat lagi gombalannya. Semenjak bangun tidur tadi Jihan sudah dapat celotehan tak berfaedah seperti ini dari suaminya. "Bisa bisanya. Ambilin telur sana." Riza mengangguk sambil tersenyum lalu mengecup bibir istrinya dan melesat pergi.
"Dasar Mark." Gumam Jihan melihat remaja itu masih meringkuk dengan sarung dan pecinya di atas sajadah. "Mark. Bangun. Ini sudah jam setengah tujuh." Omel Jihan sambil memukulkan bantal di punggung adiknya. "Um...Kakak galak sekali. Padahal kemarin nggak gini." Ucapnya sambil mengerjapkan mata. "Heh. Kakak galak juga tau waktu. Semalam kalau di bilangi jangan tidur kemalaman nonton bola tidak di dengarkan." Omelan Jihan terus berlanjut sampai Mark berdiri. "Kan seru." Bisa saja menjawab memang. Dasar. "Kan bisa di simpan untuk di toton ulang. Sudah. Jangan banyak alasan kamu. Cepat mandi." Jihan melangkah untuk merapikan tempat tidur. "Iya kak. Maaf. Jangan ngambek lagi. Makin sayang deh." Ucapnya bergegas pergi setelah mencium pipi Jihan sekilas.
__ADS_1
"Kamu Di rumah saja ya Dek. Nanti kalau pergi ke cafe kamu capek." Bujuk Riza sambil berjongkok memasangkan sepatu kets istrinya. Di masa masa mendekati lahiran seperti ini Ia khawatir pada Sang Istri. "Nggak. Dirumah bosan. Kemarin kan aku mau pergi tapi tidak jadi. Nah sekarang waktunya." Jawab Jihan. "Kak. Nanti aku pulangnya agak telat. Mau kerja kelompok di rumah teman." Mark memberi tahu agar kakaknya tidak khawatir. "Iya. Jangan kemalaman pulangnya." Pesan Jihan di jawab anggukan oleh adiknya.
Riza dan istrinya langsung berangkat setelah sarapan. "Kamu jangan ke dapur Dek. Sudah janji tadi kamu sama Mas." Pria itu memberikan peringatan pada sang istri untuk yang kesekian kali. "Iya." Jawab Jihan singkat sambil memandang ke arah luar. "Kamu nggak ada pengen sesuatu dek?" Riza bertanya saat berhenti di lampu merah. "Tidak. Memangnya kenapa?"Jihan mengalihkan pandangan untuk menatap suaminya. "Enggak. Biasanya Ibu hamil akan minta sesuatu yang katanya ngidam. Kamu kok enggak begitu?" Jujur Riza merasa heran dengan istrinya karena tidak pernah meminta sesuatu. "Lagi nggak pengen apa apa." Jawabnya jujur.
Waktu berlalu begitu cepat. Pukul satu siang Riza sudah berada di cafe istrinya. Pria itu langsung melangkahkan kaki menuju dapur membuatkan susu dingin untuk sang istri. "Ustadz." Kata para crew dapur melihat kedatangan istri bosnya. "Mau bikin susu. Tempatnya dimana ya?" Tanyanya. "Disana. Mari saya antar ustadz." Kata salah seorang dari mereka.
__ADS_1
Baru meninggalkan dapur mereka di buat heran dengan kedatangan Riza lagi. "Istriku dimana ya?" Tanya Riza sudah dengan wajah panik. "Duh...Saya lupa beritahu ustadz. Mbak Jihan tadi mau jalan jalan sebentar di taman katanya." Pria itu mengangguk kemudian segera melesat pergi untuk menyusul sang istri.
Riza berlari menghampiri istrinya yang sedang berjalan dengan santai di bawah terik matahari. "Mas." Ia terkejut melihat suaminya dengan napas ngos ngosan sudah memeluknya. "Ayo kembali. Panas banget." Ajaknya sambil memayungi Jihan dengan kedua telapak tangan. "Nggak usah begitu. Ayo balik." Jihan menarik tangan suaminya untuk segera diajak berjalan.
Sepasang suami istri sedang menikmati makan siang bersama di ruang kerja. Riza tak berhenti menyuapi istrinya meskipun wanita itu menolak. "Nah. Sudah cukup Mas. Kenyang aku. Lihat perut aku sudah sebesar ini." Ucapnya membuat sang suami terkekeh. "Kamu kan memang lagi hamil Dek." Jawabnya sambil mengusap perut Jihan. Riza tersenyum melihat istrinya sedang minum es buah. Katanya kenyang. Padahal tadi sudah minum air mineral dan susu sekarang es buah juga tidak tertolak. "Kamu minumnya banyak ya dek. Pasti anak anak kita bisa berenang di dalam." Ucapnya membuat Jihan tersedak. "Hati hati Dek." Riza khawatir lalu menepuk punggung istrinya. Ia menatap pria di depannya dengan heran. Datang darimana teori itu. Bukannya Riza itu dosen. Jika dosennya begini mahasiswanya seperti apa? Mengawatirkan bukan? Jihan benar benar tak habis pikir. "Hanya bercanda sayang." Ucapnya tersenyum kemudian mencium pipi, kening dan bibir Sang istri dengan gemas mupung Jihan masih melongo kan sayang jika tidak di manfaatkan. Nah setelah ini siap siap mendapat omelan ketika istrinya tersadar.
__ADS_1