Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kesalahan Dalam Penilaian


__ADS_3

Jena sedang duduk berdua dengan suaminya. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu Amir. "Mas. Kita kok belum di beri momongan ya. Jihan saja sudah. Kan nikahnya duluan kita." Ia mengungkapkan kegundahan hatinya pada sang suami. "Lihat Jihan. Anaknya kembar pula. Dia sangat beruntung." Lanjutnya lagi. "Sabar. Namanya juga belum rezeki. Allah pasti akan kasih kita momongan di waktu yang tepat. Mungkin Allah pengen kita pacaran dulu." Jawab Amir berusaha menenangkan istrinya. "Tapi Mas. Jihan kan suka minum. Dia juga sering pergi ke club'. Yang aku tau...." Jena berhenti saat suaminya membungkam mulut itu dengan telapak tangan. "Jangan begitu. Itu sudah rezekinya. Jangan gibah. Dia saudari kamu sendiri. Dosa. Sudah jangan di bicarakan lagi takutnya menimbulkan rasa iri. Harusnya kita ikut senang." Tuturnya dengan lembut.


Di sisi lain semuanya orang kalang kabut karena Jihan selalu muntah muntah membuat badan wanita itu lemas dan terpaksa di infus di rumah. Jihan menolak makan apapun karena mual. Semua makanan yang masuk selalu keluar lagi. Ia hanya bisa makan buah segar dan minum air putih. "Ini Dek susunya. Di coba dulu." Riza menghampiri istrinya sembari membawa susu dingin untuk ibu hamil. Jihan duduk dengan hati hati di bantu papanya. Ia mencium dulu aroma susu itu sebelum merasakan. "Kamu mual?" Tanya Riza di jawab gelengan. Pria itu tersenyum kemudian segera membantu istrinya minum.

__ADS_1


Jihan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang. Ia lelah sedaritadi hanya berbaring memilih untuk mengganti posisinya. Riza baru datang langsung berbaring sembari mengelus perut Jihan yang masih rata. "Papa sama Mark dimana?" Tanya Wanita itu. "Sedang makan." Jawabnya Riza. "Kamu sudah makan?" Jihan bertanya membuat suaminya tersenyum senang karena merasa di perhatikan. "Belum. Nanti saja." Riza menatap wajah cantik istrinya yang begitu pucat. "Jangan buat Ibu kesulitan ya. Lihat. Wajah cantik Ibu menjadi pucat dan tampak lelah begitu." Riza menuruti calon anaknya membuat Jihan menghela napas.


Riza mengamati istrinya yang sudah tertidur pulas. Tangannya terulur untuk membelai lembut wajah pucat itu. Ia sangat kasihan pada Jihan karena semenjak pulang dari rumah sakit wanita itu tak bisa tidur karena mual dan pusing. Baru kali ini bisa tidur dengan pulas dan tampak nyaman. Tangan Riza turun ke bawah mengelus lembut perut rata istrinya. Ia bersholawat dengan lirih sembari mengecup kening Jihan beberapa kali.

__ADS_1


Pria itu mulai panik karena tak mendapati istrinya di kamar. "Kakak kenapa?" Tanya Mark melihat Riza baru keluar dari kamar dengan wajah khawatir nya. "Istri kakak mana?" Tanya Riza. "Di bawah lagi ngobrol sama Papa." Jawab Mark membuat Pria itu mengangguk kemudian langsung pergi untuk menghampiri Sang Istri.


"Tadi kan sudah aku bilang jangan kemana mana dulu Dek. Kamu itu sedang lemas." Cerocos Riza menghampiri Istrinya yang ternyata sedang duduk sendiri. Jihan memutar bola matanya malas. Riza menurutnya begitu banyak bicara bahkan kadang sangat membuat Jihan risih. Kesan pertama Ia kira pria itu pendiam. Eh....ternyata kesalahan dalam penilaian. "Papa mana?" Tanyanya sembari memeluk Sang istri. "Ih...Jangan peluk peluk." Jihan mendorong tubuh suaminya pelan. "Kenapa sih Dek? Masa suami pengen peluk kamunya nggak mau." Wajah Riza mulai memelas membuat Jihan sebal sekaligus pasrah. "Papa mana?" Tanyanya lagi kembali ke posisi semula. "Sudah pergi." Jawab Jihan. "Dek. Kira kira anak kita cewek cowok, Cewek aja, atau cowok aja ya?" Tanya Riza mengelus perut istrinya. "Mana aku tau. Lahir juga belum." Jawab Jihan menanggapi pertanyaan konyol suaminya.

__ADS_1


__ADS_2