
Jihan mampir di rumah lamanya yang kini di tempati oleh Mark dan keluarga. Wanita itu langsung berjalan cepat menghampiri Zulfa yang sedang bicara dengan dua orang berbadan kekar. Iparnya itu tampak ketakutan dan anak anak yang menangis. "Ada apa ini?" Tanya Jihan. "Kami menagih hutang. Kalau tidak bayar juga kami akan sita rumah ini." Kata Pria itu. "Berapa?" Tanya Jihan. "300 juta." Ia mengangguk. "Siang pukul 12 nanti datang ke alamat ini. Saya tidak sedang bawa cek atau kartu." Keduanya bergegas pergi setelah menerima kartu nama Jihan.
"Silahkan diminum kak." Zulfa menyajikan teh untuk iparnya yang sedang menyuapi Adam dan Musa cake yang di bawa tadi. "Iya. Makasih." Jawab Jihan. "Apa mereka sering datang?" Tanya Jihan tanpa menoleh. "Sering kak." Jawab Zulfa.
__ADS_1
Hanya tinggal Jihan dan Iparnya karena anak anak sedang main tak jauh dari tempat mereka duduk. "Sebenarnya kalian hutang untuk apa?" Tanya Jihan penasaran padahal Mark mempunyai pekerjaan yang mapan dan juga rumah serta fasilitas sudah Ia sediakan. Zulfa sembari menahan air matanya mulai menceritakan. Mark dan Ia ingin membangun rumah mereka sendiri karena mereka ingin mandiri bukan hanya di bantu Jihan terus. "Nanti suruh suami kamu ke rumah kakak." Kata Jihan menggenggam tangan Iparnya.
Jalwa menghampiri Ibunya yang di ruang kerja wanita itu. "Ibu." Panggilnya sambil mengatur napas. "Ada apa?" Jihan meletakkan berkas yang sedang Ia baca. "Ada om om badannya gede. Katanya cari Ibu." Jawab Jalwa. "Oh. Mereka memang tamu Ibu." Jihan menyambar amplop besar di atas meja kemudian segera pergi.
__ADS_1
"Selamat Siang. Silahkan diminum." Ucap Jihan duduk di dekat suaminya yang sudah mengobrol dengan mereka sedaritadi. Ia juga sudah menceritakan semuanya pada Riza. Apapun itu sebagai suaminya Riza berhak tau. "Iya. Terimakasih." Jawab dua orang pria berbadan kekar itu. "Ini uangnya. Cash 300 juta. Harus ada hitam diatas putih sebagai bukti. Saya akan tandatangani." Salah satu pria itu mengangguk kemudian memberikan selembar kertas bukti pelunasan hutang.
Jason menghampiri Mamanya yang sedang menyiram tanaman bersama Juma. "Ma, pinjam charger laptop dong." Kata Remaja itu. "Ada di kamar. Ambil sendiri ya, nanggung nih." Jawab Jihan. "Iya. Jason ambil." Ia bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan di pipi Jihan. "Harus segera di hapus. Dasar komodo dragon." Kesal Juma langsung mengelap pipi Ibunya dengan tissue basah membuat Jihan tersenyum.
__ADS_1
Empat orang sedang duduk bersama di ruang tengah. "Ngapain kamu hutang di Bank Mark? Bunganya separuh dari yang kamu pinjam. Kenapa nggak bilang kakak? Kamu anggap kakak apa ha?" Tanya Jihan tak kuasa lagi menyembunyikan kekesalannya. "Maaf kak. Bukannya begitu. Aku cuman pengen mandiri. Bukan apa apa kakak yang penuhi. Rumah dan mobil kakak yang kasih dari sekolah juga kakak yang biayai. " Jawabnya sambil menunduk. "Mark. Kakak itu kasih apapun ke kamu ikhlas nggak mikir yang macem macem. Kakak seneng bisa kasih kebahagiaan ke kamu, ke istri kamu, ke ponakan kakak. Kakak demi allah ikhlas. Kakak nggak mau kamu sengsara kaya kakak dulu. Kamu itu sudah di titipkan almarhumah Ibu ke kakak Mark. Kakak akan jaga kamu. Kamu adek kakak satu satunya. Kenapa sih apa apa harus seperti ini? Kamu ragu sama kakak? Kamu mengira kakak nggak tulus? Benar kamu sudah berumah tangga, tapi apa salahnya sih kasih tau kakak segala keluh kesah kamu. Apa kakak udah nggak ada artinya di hati kamu? Lihat Istri sama anak anak kamu di perlakukan seperti itu hati kakak sakit Mark. Kamu mikir nggak sih?" Jihan mengeluarkan semua yang ada hatinya. "Bukan gitu kak. Aku nggak ingin membebani kakak." Jawabnya. "Kalau kamu diam begini malah beban bagi kakak. Kakak rasa kamu sudah lupa sama kakak. Akhir akhir ini hubungan kita jauh Mark. Bukan karena kita sibuk dengan keluarga masing masing. Tapi kamu menghindar. Berapa kali kakak telpon ajak ketemu untuk kumpul sama keluarga kamu selalu bilang nggak bisa. Kakak datang ke rumah kamu hampir setiap hari kamu nggak ada juga. Minta ketemu berdua di luar kamu alasan sibuk ini itu. Kakak maklum. Tapi setelah seperti ini kakak jadi tau posisi kakak sekarang itu bagaimana. Maaf kalau kakak banyak salah. Maaf kakak nggak bisa gantikan posisi Ibu. Kakak nggak akan ganggu lagi kalau itu mau kamu. Berbahagialah Mark." Jihan meninggalkan mereka dengan air mata yang sudah mengalir sedaritadi.
"Kak aku minta maaf. Jangan begini." Mark terus mengetuk pintu kamar Jihan. "Biarkan dulu. Biar tenang. Nanti biar Papa yang bicara." Ucap Pria paruh baya itu. "Pa aku minta maaf." Mark memeluk Papanya yang akhir akhir ini tak Ia sambangi. "Pulanglah dulu. Kasian anak dan Istri kamu." Jawab Papa menepuk punggung pria itu.
__ADS_1