Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mulai Tegas


__ADS_3

Pagi hari Jihan begitu bahagia karna gips yang ada di kakinya akan di lepas. Riza menyempatkan diri mengantarkan sang istri sebelum berangkat berkerja. "Nggak sabar banget ya?" Tanyanya sembari mengusap kepala sang istri saat mobil berhenti di parkiran rumah sakit. "Iya. Ayo turun." Ucap Jihan akan membuka pintu mobil namun langsung di cegah. "Tunggu Mas turun dulu." Tegasnya mengingat Jihan yang ceroboh membuat dia khawatir.


"Nggak sabar banget ya." Seorang dokter tampan seumuran Riza terus mengajak Jihan mengobrol membuat Riza beristighfar dalam hati. Apalagi jarak keduanya begitu dekat saat membuka gips. Itu belum seberapa. Kesabaran Riza harus diuji lagi tatkala Dokter itu memegang pergelangan kaki istrinya yang mulus, mengusap dan menggerakkan ke kiri dan kanan. Itu semua prosedur medis 'Mungkin.' Tapi kenapa hatinya merasa sesak saat Sang Istri di perlakukan seperti itu.

__ADS_1


Baru saja napasnya berjalan lancar harus di buat tersendat lagi karena tingkah Jihan. Wanita itu berjalan cepat padahal baru saja sembuh. Dokter juga sudah memberi wejangan jika harus berjalan perlahan dan hati hati. "Dek. Jangan begitu dong. Jalannya pelan pelan saja. Mas khawatir nanti kaki kamu sakit lagi." Tuturnya sambil mengimbangi langkah wanita hamil itu. "Iya. Ayok." Jihan menarik tangan suaminya tak sabaran.


Jihan sedang sibuk mengenakan sepatunya saat dalam perjalanan. Ia akan pergi ke cafe barengan dengan suaminya yang berangkat bekerja. "Aw." Wanita itu mengusap keningnya karena terbentur mobil berhenti tiba tiba. "Maaf Dek. Mas nggak sengaja." Ucapnya sambil membawa Jihan ke dalam pelukan. "Ish....Kamu ini kenapa? yang sakit kening aku bukan badan aku." Jihan mendorong tubuh suaminya agar menjauh. "Mana? Sini aku lihat." Riza mengusap kening sang istri yang tampak memerah kemudian mengecupnya beberapa kali. "Dasar. Suka cari kesempatan. Aku turun dulu." Ucapnya. "Nah kan suka lupa. Biasakan salam. Cium tangan sama pipi suami." Tuturnya membuat wanita itu menghela napas. "Itu maunya kamu." Jihan mencium pipi dan tangan suaminya. "Assalamualaikum." Ia bergegas turun. "Waalaikumsalam. Hati hati Dek." Pesannya ketika Sang istri berlalu.

__ADS_1


"Wih...Mbak Jihan. Sudah sembuh kakinya?" Tanya para pegawai melihat Bosnya memasuki dapur. "Ya dong. Baru di lepas tadi." Wanita itu tersenyum bahagia. "Nanti kena omel ustadz Riza lo. Mbak Jihan duduk manis saja." Jihan dengan cepat menolak. Sudah lama tidak berada di dapur cafe membuatnya rindu. "Banyak pesanan kan? Ayo kerja." Ucapnya membuat mereka pasrah. Tidak ada yang bisa melawan keras kepalanya si Bos kecuali Papanya. Namun tidak lucu juga mengadukan pada Pria paruh baya itu hanya karena masalah seperti ini.


Di sisi lain Riza sedang uring uringan mencari istrinya. Padahal pria itu tadi sudah bilang untuk menunggu sebentar eh setelah bertanya pada karyawan cafe ternyata Jihan sudah pulang dengan Mark. "Huft....." Ia menghela napasnya sambil mengelus dada "Jadi suami kamu harus banyak sabarnya ya Dek." Gumam pria itu sembari melajukan mobilnya.

__ADS_1


Riza langsung menuju ke halaman belakang ketika mendengar suara gelak tawa dari sana. "Ya Allah. Apa lagi ini?" Keluh pria itu melihat istrinya sedang bermain bulutangkis dengan Mark di cuaca yang begitu terik. "Dek. Kamu baru sembuh dan sedang hamil. Kenapa begini?" Ucapnya sambil melangkah cepat mendekati Jihan. "Begini bagaimana?" Tanyanya sambil mengerutkan keningnya. "Jangan aneh aneh kamu Dek. Kaki kamu baru pulih kenapa main bulutangkis segala sih." Ucap Riza penuh kekhawatiran. "Memangnya kenapa?" Jihan malah bertanya. "Nggak boleh. Dokter kan sudah bilang jangan di buat aktifitas yang banyak gerak dulu." Riza tersenyum menahan gejolak di hatinya. "Nggak banyak gerak kok. Justru aku malah berdiri aja. Kalau tidak percaya tanya Mark." Nah..pintar menjawab, bawa bawa orang lain lagi. "Kok aku di bawa bawa." ucap Mark tak ingin terlibat. "Masuk. Tidur siang." Tegas Riza. "Aku bukan anak kecil." Jihan berdecak sambil membuang muka. "Kamu itu lebih kecil dari anak kecil." Ucap Riza langsung menggendong istrinya untuk di bawa masuk ke dalam.


"Duduk diam disini. Mas harus mulai tegas sama kamu." Ucap Riza berlalu pergi setelah meletakkan istrinya di ranjang. "Mau ngapain?" Tanya Jihan melihat suaminya kembali dengan baskom dan handuk. "Daripada kamu Mas suruh cuci tangan dan cuci kaki lama. Mending Mas saja yang lakukan." Ucap pria itu sambil membersihkan kaki dan tangan istrinya dengan handuk basah. "Sudah. Sekarang tidur." Riza telah selesai mengeringkan kaki istrinya. "Mas." Panggil Jihan pelan. "Makasih." Ia memeluk dan mencium pipi Riza sekilas. "Sama sama Dek." Jawabnya sambil mengecup kening Sang Istri. Riza bergegas pergi sebelum sesuatu hal terjadi mengingat sedang puasa. Ia harus menahan itu. Mendapat perlakuan manis dari Jihan membuat Ia melambung dan bahaya jika terus berada disana.

__ADS_1


__ADS_2