Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Pulang


__ADS_3

Pukul 7 pagi tiga laki laki beda usia sudah berada di bandara. Mereka masih menunggu sosok wanita yang tak kunjung muncul juga. Rasa rindu sudah membucah dan ketiganya tidak sabar ingin segera memeluk wanita yang tengah berbadan dua itu. "Kenapa lama sekali." Ucap Riza tak sabaran ingin bertemu dengan istrinya. "Iya." Mark juga ikutan tak sabaran ingin berjumpa dengan sang kakak.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu sosok wanita berjalan dengan anggun sambil menyeret kopernya. Tak perlu basa basi Riza diikuti adik dan mertuanya segera berlari menghampiri dan memeluk Jihan dengan erat. "Wow...Kalian membuatku sesak." Ucapnya mendapat pelukan erat yang bertubi tubi. "Mas rindu kamu Sayang." Ucap Riza memeluk istrinya lagi kali ini dengan sangat lembut dan hati hati mengingat Jihan sedang hamil. Mereka memberikan ciuman bergantian hingga membuat Jihan kegelian. "Jangan lama lama disini. Ayo pulang." Ajaknya langsung mendapat anggukan.

__ADS_1


Baru pulang dari bandara mereka langsung mengobrol di ruang tengah. "Tidurlah kalau mengantuk." Ucap Papa menuturi Putrinya. "Nggak Pa. Jihan di pesawat tidur terus soalnya." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Minum dulu Dek." Ucap Riza sambil membawa segelas susu coklat untuk sang istri. Jihan mengangguk kemudian segera meminumnya. Ia tak mungkin tidak menghargai inisiatif suaminya meskipun tadi dia juga sudah minum. Tidak apalah dobel. Biar makin ok. Lagian ini juga dingin jadi lebih segar di cuaca yang panas. "Aku bawa oleh oleh untuk Mas, Papa dan juga Mark." Jihan meraih paper bag dan membagikan dua kotak untuk masing masing dari mereka. "Kan papa sudah bilang jangan bawa apa apa." Keluhnya sambil membuka kotak yang diberikan putrinya. "Wow...Mahal sekali. Kakakku memang tajir." Ucap Mark girang mendapat jam tangan dan parfum mewah dari kakaknya. "Dek..." Riza memeluk istrinya. Meskipun Ia tak tau barang branded namun kalau ini Riza pernah dengar dan harganya sangat mahal. Apalagi sang istri menggunakan uang pribadinya. "Kenapa hm? Tidak suka ya?" Tanya Jihan langsung mendapat gelengan. "Suka. Ini terlalu mahal untuk orang sepertiku." Jawabnya membuat Jihan terkekeh. "Bukan soal barang. Hati seseorang justru lebih bernilai dari apapun." Ucap Jihan begitu menyentuh relung hati mereka. "Sini aku pakaikan." Wanita itu meraih jam tangan mewah dari kotak lalu mengenakan di lengan kiri suaminya. "Nah. Sudah." Ucapnya. "Terimakasih." Ungkap Riza sambil mengecup kening istrinya dengan lembut. "Sama sama Mas." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Tumben macan manis sekali." Celetuk Mark begitu merusak momen bahagia. "Ouh...terimakasih sudah mengingatkan kakak Mark. Kakak sudah bilang akan menarik telingamu sampai putus jika kau ingat." Mark menggeleng lalu kabur begitu saja.

__ADS_1


Mark menghampiri mereka yang sedang bersenda gurau di ruang keluarga. "Kak." Rengeknya sambil duduk di bawah bergabung dengan Jihan dan Meta. "Hm." Jawab Jihan sambil menyugar rambut adiknya ke belakang. "Kenapa ini?" Jihan Melihat memar di kening Mark. "Jatuh dari ranjang." Jawabnya sambil memeluk Jihan manja. "Halah. Tidur kamu berguling guling ya sampai bisa jatuh. Ambil salep sana. Di oles memarnya biar hilang." Jihan melepaskan pelukan adiknya. "Ini sudah bawa." Ucapnya membuat sang kakak menghela napas. "Awas. Badan kamu berat." Keluh Jihan mendorong badan Mark pelan kemudian mengoleskan salep di kening adiknya dengan hati hati. "Kakak sayang nggak sama aku?" Tanya remaja itu sambil menatap Jihan yang masih sibuk. "Kalau tidak sayang sudah Kakak buang. Sana mandi. Masih bau iler kesini. Nggak malu apa?" Mark mendengus sebal kemudian mengecup pipi kakaknya. "Dasar." Gumam Jihan menatap kepergian sang adik.

__ADS_1


__ADS_2