
Jihan perlahan duduk di dekat suaminya masih dengan senyum yang belum luntur berbanding dengan isi hatinya yang sedang mengumpat saat ini. Riza menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Istri Ustadz Riza namanya siapa?" Tanyanya mereka di lanjut dengan berpuluh puluh pertanyaan lain yang datang dari penonton juga. "Pertanyaan yang terakhir. Siapa yang mau bertanya silahkan." Kata pembawa acara. "Saya." Suara lantang seorang wanita terdengar sembari mengangkat tangan. Zahra berdiri menatap Jihan dengan tatapan remeh. "Saya Zahra ingin bertanya. Bisakah Jihan membaca Al Qur'an? Jika bisa mohon di praktekkan sekarang." Katanya sengaja ingin menjebak. Riza ketar ketir takut istrinya di permalukan. Jujur selama menjadi suaminya Riza tak pernah sekalipun melihat Jihan membaca kitab suci itu. "Silahkan." Ucap seseorang meletakkan Quran yang sudah terbuka untuk di baca Jihan. Jihan menutup Qur'an itu membuat semuanya saling berbisik sementara Zahwa tersenyum menang. Riza mengusap tangan istrinya dengan lembut sembari menunduk. "audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim......" Suara merdu itu mengalun lembut menenangkan hati semua orang. Mereka terpaku di tempat karena Jihan mengumandangkan surah Al Kahfi tanpa melihat Al Qur'an. Tak jarang air mata mereka menetes mendengan lantunan Ayat suci yang begitu indah itu termasuk juga Riza.
Jihan hanya diam sembari fokus memainkan ponselnya tak menanggapi Riza yang sedaritadi berceloteh. "Istriku ternyata. Suaramu sangat indah Sayang. Sejak kapan kamu menghafal Al Qur'an?" Tanya Riza tak berhenti tersenyum. "Sejak kecil. Dia belajar dari Ibu." Mark yang menjawab karena tau kakaknya sedang bad mood sekarang. "Berhenti di depan. Aku mau pizza." Katanya membuat Sang suami mengangguk setuju.
__ADS_1
Sampai di rumah, ketiganya langsung makan bersama tanpa mengganti pakaian. Jihan hanya melepas jilbabnya sembari menggulung lengan gamis agar tidak kotor. "Mark. Kapan kamu akan periksa mata? Jangan di tunda tunda." Mark mengangguk dengan mulut penuh. "Matanya kenapa?" Tanya Riza. "Buram kalau melihat objek jauh." Jawabnya setelah menelan makanan di dalam mulut. "Besok kakak antar. Kamu ada kuliah jam berapa?" Tanya Jihan. "Besok kosong. Dosennya sedang berhalangan untuk hadir."
Riza menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu ikut naik dan memeluk sang istri. "Kenapa?" Tanya Jihan melihat gelagat aneh suaminya. "Aku mau dek. Aku sudah tidak tahan." Keluhnya menahan sesuatu. "Tidak tahan apa?" Tanya Jihan tidak mengerti. "Ya itu....Aku pengen kamu. Pengen di layani kamu. Pengen itu lo dek....Masa kamu tidak mengerti juga." Riza gemas dengan istrinya. Masa tidak tau kalau suaminya lagi pengen. "Waktu itu sakit." Kata Jihan. "Sekarang sudah tidak karena sudah di masuki." Jawab Riza dengan cepat. "Masa? Awas saja kalau sakit." Ucap Jihan memperingati. "Berarti boleh dong?" Tanya Riza dan Jihan mengangguk. "Terimakasih." Ucapnya begitu bersemangat.
__ADS_1
"Katanya tidak sakit. Ini masih sakit." Jihan protes karena setelah penyatuan mereka berakhir pun miliknya masih nyeri. "Ayo mandi air hangat biar mendingan." Riza meraih jubah tidurnya kemudian menggendong sang istri masuk ke kamar mandi.
Pria berendam sembari memangku istrinya. Menyabuni punggung mulus itu dengan gerakan yang lembut. "Masih sakit dek?" Tanya Riza memastikan. "Mendingan." Jawab Jihan pelan. "Terimakasih." Ucap Riza memeluk erat tubuh polos sang istri. Riza begitu bahagia hari ini. Ia mendapat rezeki dan nikmat berlipat ganda dari istrinya. Istrinya memberikan Ia kejutan tak terduga yang membuatnya senang dan bangga.
__ADS_1