Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Nasi Pecel Tengah Malam


__ADS_3

"Dek. Mas minta maaf." Kata Riza memeluk istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. "Mas salah. Mas minta maaf." Jihan menatap suaminya dalam dalam untuk menelisik ekspresi pria itu. Ada rasa penyesalan yang dalam dan Ia menyadari itu. "Ya. Lain kali jangan seperti ini lagi." Jawab Jihan membalas pelukan suaminya. "Terimakasih." Riza lega sekaligus senang mendapat maaf dari sang Istri.


Jihan menatap anak bungsunya yang sedaritadi diam tak menyentuh makanan. "Kenapa nggak sarapan?" Tanya Wanita itu. "Pengen roti bakar Ibu." Jawab remaja itu sambil tersenyum. "Makanlah." Ucapnya menggeser piring di depan Juma. "Kamu selalu mengganggu Ibu Jum." Kesal Jaffan namun adiknya tidak peduli dan meneruskan makannya dengan lahap.


Riza memeluk dan mencium istrinya lama. Keduanya kini sedang berada di halaman rumah untuk berpisah sebelum menuju mobil masing masing. "Hati hati di jalan." Kata Pria itu mengecup kening sang istri dengan lembut sebagai penutup pamitan yang berlangsung cukup lama. "Kamu juga Mas." Riza mengangguk kemudian membukakan pintu mobil sang istri mempersilahkan Jihan masuk.

__ADS_1


Sampai di kantor Jihan langsung menuju ke ruangannya. Wanita itu duduk di kursi kemudian segera mengecek berkas yang sudah bertumpuk di atas meja. Pintu ruangannya terbuka. Sosok wanita berjalan masuk ke dalam. "Bu. Saya mengantarkan kopi." Ucap Dina sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja. "Terimakasih Din." Kata Jihan sambil tersenyum. "Sama sama Bu." Jawabnya. "Oh iya Din. Berikan dua berkas itu di devisi keuangan. Suruh merevisi karena ada beberapa kesalahan." Dina mengangguk kemudian segera berpamitan untuk segera melaksanakan perintah Bosnya. Jihan menyerap kopinya lalu melanjutkan pekerjaan yang harus Ia selesaikan. "Waalaikumsalam." Jawabnya menerima panggilan dari sang suami. "Gorengan saja. Sama mie ayam. Aku pengen makan itu Mas. Sama bawakan es kelapa muda juga. Cuaca panas. Haus banget." Kata Jihan. "Ya. Waalaikumsalam." Lanjutnya kemudian mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung.


Riza telah sampai di perusahaan Istrinya bersama Juma. Ia dan putranya langsung masuk ke ruangan Jihan setelah menaiki Lift. "Ibu." Ucap Remaja itu menubruk dan memeluk tubuh Jihan yang sedang berdiri. "Bikin kaget saja." Jihan membalas pelukan putra bungsunya. "Mas." Wanita itu tersenyum mendapat kecupan dari sang suami. "Ayo makan. Sudah Mas bawakan pesanan kamu." Kata Riza mengajak Istrinya untuk duduk. Meskipun agak berat hati tapi Ia tetap menuturi keinginan sang istri. Hitung hitung sebagai permintaan maafnya.


Sore hari Jihan memacu kudanya mengelilingi lintasan. Beberapa hari tak bersama Lucifer karena sibuk dengan kegiatannya membuat wanita itu tak memperdulikan cuaca yang sedang mendung. "Dek. Berhenti. Sebentar lagi hujan." Teriak Riza memperingati sang istri. "Nanti. Sebentar lagi." Jawab wanita itu.

__ADS_1


Semuanya sedang makan malam bersama. Jihan juga makan dengan lahap dan tenang berbanding terbalik dengan kakinya yang nakal memainkan milik suaminya yang berada di bawah meja. "Kamu kenapa Za?" Tanya Papa melihat raut wajah menantunya yang aneh. "Kepedesan mungkin Pa." Jawab Jihan meledek. Padahal Ia tau suaminya sudah menegang karena benda yang di belainya itu mengeras dan mungkin terasa sesak di dalam. Riza tersenyum lalu menambahkan lagi lauk di piring istrinya. "Kamu harus makan banyak Sayang." Ucapnya penuh makna.


Pukul 9 malam Riza baru masuk ke kamar setelah mengobrol sebentar dengan Papa mertuanya. Pria itu langsung menaiki ranjang mengungkung tubuh istrinya yang sedang bersandar. "Kenapa hm?" Tanya Jihan menutup buku yang sedang Ia baca dan meletakkan di atas nakas. "Kamu tegang ya Mas. Mari aku beri servis lengkap. Kamu pasti suka." Bisiknya sensual di telinga suaminya. Ia melepaskan pakaian Riza hanya menyisakan boxer yang masih menutupi aset pria itu. "Ouh...Sudah tidak sabar rupanya." Ucap Jihan membuat Suaminya mencium bibir mungil itu penuh hasrat.


Riza menindih tubuh Jihan. Mencumbu seluruh tubuh wanita itu dengan lembut dan penuh cinta. "Sudah tidak tahan." Ucapnya serak sembari memasukkan benda tumpul itu ke dalam milik istrinya. "Biar aku yang bekerja." Kata Jihan mengambil alih. Wanita itu menggerakkan pinggulnya membuat Riza merem melek merasakan kenikmatan yang luar biasa. "Oh Sayang. Lebih cepat." Ucapnya memenuhi ruangan.

__ADS_1


Jihan berbaring dengan tubuh polos di bawah selimut dalam dekapan suaminya. "St...Jangan di gigit." Kesal Jihan memukul lengan Riza. Pria itu menggigit dadanya hingga meninggalkan bekas merah disana. "Maaf." Jawabnya sambil tersenyum. "Mas aku pengen nasi pecel." Ucap Jihan tiba tiba. "Jam segini? Mana ada yang masih buka Dek." Riza heran karena ini sudah hampir jam 12 malam. Ia membelai perut rata yang seakan belum kenyang padahal sudah makan banyak tadi. "Jadi kamu nggak mau beliin aku nasi pecel." Ucap Jihan sambil cemberut. "Iya. Mas belikan. Ayo mandi dulu. Jangan cemberut begitu." Riza mengecup kening dan bibir istrinya.


__ADS_2