Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Orang Ketiga


__ADS_3

Jihan sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah anak bungsunya. "Mie ayam." Ucap wanita itu yang sedaritadi memandang keluar jendela mobil. Riza hanya tersenyum kecil tak berniat untuk membelikan istrinya karena takut asam lambung Jihan akan kambuh jika makan sembarangan. "Seblak." Ucapnya lagi namun juga tidak direspon sang suami. "Nggak boleh Dek." Jawab Riza pada akhirnya setelah sang istri berceloteh sekian lama. "Sekali saja Mas." Jihan menatap suaminya namun hanya di tanggapi gelengan oleh pria itu. "Makan buah mau? Mas bawa." Kata Riza. "Nggak mau Mas. Bosan. Sudah lama nggak makan mie ayam. Beli ya...." Bujuknya. "Tidak boleh Dek. Sakit perut kamu nanti." Ia tetap tak goyah dan tetap dalam prinsip.


"Ibu." Juma memeluk Ibunya yang baru turun dari mobil. "Kok Ibu sama Ayah." Tanya bocah tampan itu karena biasa di jemput oleh Ayahnya saja. "Mau belanja. Ayah antar Ibu." Jawab Riza. "Ayo bergegas." Kata Jihan menggandeng tangan putranya segera mengajak masuk ke mobil.


Jihan duduk di belakang bersama putranya. Wanita itu kini sedang membantu Juma berganti pakaian. "Ayah jadi supir kalau ada kamu." Ucap Riza sambil berdecak. "Kenapa Ayah tidak bawa pak supir saja kalau tidak mau jadi supir." Jawab Juma. "Karena Ayah mau berdua sama Ibu. Kalau kamu ikut begini jadi gagal." Riza menghela napas. Ada saja jika ingin berdua dengan istrinya. Jika orang ketiga adalah obat nyamuk tapi tidak berlaku dengan Juma. Sebagai yang ketiga dia malah berperan menjadi perebut Istrinya. Bocah satu itu mampu mengalihkan perhatian Jihan.

__ADS_1


Sampai di swalayan Jihan memilih bahan bahan makanan dibantu anaknya sementara Riza mendorong troli mengikuti. "Jangan beli itu Dek. Itu banyak MSG nya. Nggak baik buat kesehatan. Yang lain saja." Tegur Riza saat istrinya mengambil bungkusan makanan ringan. Jihan hanya bisa pasrah dan meletakkan kembali ke dalam rak. "Ini boleh kan?" Tanya Jihan menunjukkan kerupuk ikan. "Boleh." Jawab Riza tersenyum kemudian mengecup kening sang istri. "Ibu. Juma mau itu." Tunjuknya pada popcorn di rak paling atas. "Ayo pilih sendiri. Belikan untuk kakak juga." Jihan menggendong putranya membiarkan bocah tampan itu memilih sendiri.


Jason, Julian, Jalwa dan Jaffan membantu Ayahnya membawa belanjaan. "Popcorn Juma." Juma kembali lagi ke mobil untuk mengambil popcorn nya yang tertinggal. "Bawa juga baju sama tas kamu. Jangan sampai malam malam suruh antar Ayah buat ambil." Kata Riza mengingatkan putranya yang sembarangan taruh barang.


Riza sedang sibuk di dapur. Pria itu sedang membuat tape panggang untuk istrinya. "Lagi buat apa Mas?" Tanya Jihan sambil membuka kulkas untuk mengambil air minum. "Bikin tape panggang. Masih belum matang di oven." Jawabnya sambil memeluk sang istri dan memberikan ciuman penuh cinta di seluruh wajah cantik wanita itu. "Kamu nggak mau makan ya tadi. Ayo makan dulu. Mas siapkan." Lanjutnya menuntun istrinya untuk duduk menunggu.

__ADS_1


"Sudah siap." Riza duduk di samping Jihan setelah meletakkan nasi lembut beserta lauk pauk, salad buah, dan tape panggang yang baru matang. "Mas. Makannya nasi lembek terus setiap hari. Bosen." Keluh Jihan begitu tak berselera menatap menu makanannya. Sejak sembuh Ia tak terlalu di beri kebebasan oleh Riza untuk masak. Jihan hanya boleh masak. Benar benar hanya masak saja. Untuk urusan siapkan bumbu, memotong dan lain sebagainya di siapkan Bibi. Begitu juga dengan nasi. Riza menyuruh Bibi untuk memasak dua macam nasi. Yang satu biasa dan satu yang lembut untuk Jihan. "Perut kamu kan nggak bisa kalau makan kasar. Makannya makan nasi halus begini." Jawab Riza sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk makan istrinya. "Ayo makan." Ia mulai menyuapi Jihan dengan begitu telaten sembari menjawab semua protes yang dilayangkan wanita itu.


"Sudah kenyang Mas." Ucap Jihan meminta suaminya agar berhenti menyuapi. "Baru empat suap Dek. Kamu nggak boleh begini. Lambung kamu kambuh nanti. Ayo makan lagi." Bujuknya namun Jihan tetap tidak mau. Riza menghela napas. Ia pasrah jika sudah begini. Mau dipaksa bagaimanapun juga jika istrinya sudah tidak mau ya akan begitu sampai nanti.


Tengah malam Jihan kena omel suaminya karena sedari sore tadi Ia bersin bersin namun tidak mau minum obat. "Kebanyakan minum air es ya begini. Jadi pilek kan." Ucap Pria itu pelan karena takut Juma yang sedang tidur akan terbangun. Riza membantu istrinya minum obat. "Jangan kebanyakan minum es Dek. Pilek begini sekarang." Ia mengusap hidung Jihan yang memerah lalu mengecup kening dan bibir mungil milik sang istri dengan lembut. "Dingin Mas." Keluh Jihan. "Ayo tidur lagi." Ajak Riza. Pria itu menggeser Juma agak jauh kemudian berbaring di belakang istrinya sambil memeluk wanita itu dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2