Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Penyelesaian


__ADS_3

Riza sampai di perusahaan istrinya. Pria itu langsung menghampiri Dina yang sedang berbincang bersama Satria. "Istri saya ada?" Tanyanya. "Masih ada urusan dengan Bu Carissa. Bapak tunggu di ruangannya saja." Jawab Dina kemudian meminta Satria untuk mengantar Riza sampai di ruangan bosnya.


"Mau minum apa Pak?" Tawar Satria. "Ah tidak perlu." Jawab Riza kemudian duduk di sofa. "Baik. Saya tinggal dulu. Permisi." Pamitnya di jawab anggukan oleh Riza. Pria itu berdiri lalu berjalan ke meja istrinya. Ia mengamati foto keluarga yang terletak di dekat laptop sang istri. Riza meraih mengusap bingkai itu dengan jemarinya. Senyuman miris terbit di bibirnya mengingat hubungannya dengan Jihan belum menunjukkan kemajuan yang besar.


Di sisi lain Jihan masih berkonsultasi dengan Carissa. "Jadi maunya warna apa?" Tanya Carissa kepada Jihan yang sedang memesan baju untuk dipakai di acara ulangtahun perusahaan. "Aku nggak suka terlalu cerah. Pakai navy aja. Bahannya yang adem dan nyaman." Jawabnya lalu menyeruput teh yang disajikan. "Ouh...Pahit." Keluhnya tidak terbiasa minum teh hijau. "Ukurannya Ji?" Tanya Carissa sambil menuliskan sesuatu di buku catatan. "Pakai ukuran lama. Untuk Jason dan Julian itu samain kaya Jaffan tapi beri lebih 2 cm." Jawab Jihan sambil memakan biscuit green tea. "Kenapa kamu suka teh hijau sih. Kaya Papa." Gerutunya. "Bawel deh. Enak tau." Kesalnya. "Terserah. Kamu datang jangan sampai enggak. Aku mau jemput Juma dulu. Ngambek nanti kalau telat. Dah ya. Tiga hari lagi harus jadi." Jihan berlalu pergi padahal belum mendapat jawaban membuat Carissa berdecak.

__ADS_1


"Jangan lari Sayang." Tegur Jihan karena Juma berlari saat memasuki perusahaan. "Bu Jihan." Panggil Dina menghampiri wanita itu dengan tergesa gesa. "Ada apa?" Tanya Jihan menghentikan langkahnya. "Pak Riza menunggu di ruangan Bu Jihan." Ia menyampaikan. "Sejak kapan?" Jihan mengangguk kemudian segera masuk ke dalam lift setelah mendapat jawaban dari Dina.


Jihan memasuki ruangannya sudah ada Riza yang duduk di sofa. "Kamu darimana Dek?" Tanya Pria itu berdiri kemudian memeluk sang istri. "Dari butik Carissa." Jawab Jihan. "Ibu. Juma mau susu." Ucap Bocah tampan itu sudah berganti baju dari ruang istirahat Ibunya. "Iya." Jihan bergegas mengambilkan anaknya susu dingin dari kulkas. "Sudah makan?" Tanya Jihan di jawab gelengan oleh suaminya. "Kita makan di kantin." Ucapnya sambil menggandeng tangan Juma.


Adella mengurungkan niatnya untuk menghampiri Riza saat bosnya dan seorang bocah tampan ikut duduk bersama pria itu. Ia baru tau barusa jika Riza adalah suami dari seorang CEO di perusahaan tempatnya bekerja. "Ayo duduk." Ajak temannya. Adella mengangguk kemudian ikut duduk untuk makan siang di meja yang tak jauh dari tempat Bosnya duduk sehingga wanita itu bisa mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Ibu." Jaffan mengecup pipi Ibunya kemudian ikut duduk. "Kok disini? Sebentar lagi Ibu mau pulang loh." Ucap Jihan. "Tadi habis dari Mall beli titipannya kak Jason terus mampir karna Ibu masih disini." Jawab Jaffan sembari minum jus milik Ibunya. "Oh. Kamu sudah makan belum? Mau Ibu pesankan?" Tawar Jihan. "Jaffan masih kenyang Bu. Jaffan belum pengen makan." Wanita itu mengangguk melanjutkan menyuapi Juma. "Ompong makannya banyak banget." Goda Jaffan melihat adiknya makan dengan lahap. "Biarin." Jawab Juma tak peduli dengan ejekan sang kakak.


Malam hari Riza menyusul istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu memeluk Jihan yang tidur terlentang menatap langit langit kamar. Ia mengecup pipi dan bibir wanita itu dengan lembut. "Sampai kapan sih Dek akan terus seperti ini?" Tanya Riza sangat berat menjalani hari harinya dengan sikap dingin sang istri. "Kamu harus terbiasa. Mungkin akan berlangsung lama." Jawab Jihan.


Riza membalikkan tubuh sang istri untuk menghadapnya. Pria itu memeluk Jihan dengan erat. "Mas nggak bisa. Mas nggak akan pernah terbiasa dengan sikap dingin kamu seperti ini. Mas minta maaf. Mas salah. Jangan abaikan Mas. Kalau marah jangan seperti ini. Kamu boleh lakukan apapun tapi jangan diami dan tinggalkan Mas. Mas nggak bisa Dek." Riza dan Jihan sama sama menangis atas luka masing masing. "Mas nggak bisa seperti ini. Mas banyak salah. Mas minta maaf. Mas mohon jangan diami Mas. Mas memang tidak pengertian, Mas egois, Mas maunya menang sendiri, Mas salah Dek, Mas minta maaf. Mas hanya bertemu dia itupun tidak disengaja. Mas tidak sapa kamu juga posisinya dia sedang bercerita jadi Mas tidak enak memotongnya. Mas juga juga sudah menceritakan jika mas sudah punya istri dan anak anak ke dia." Air mata Riza mengalir semakin deras. "Mas tidak ada niatan untuk bermain di belakang kamu. Mas tidak ada maksud. Mas cuman cinta sama kamu." Ucap Riza masih memeluk istrinya.

__ADS_1


Satu jam berlalu terdengar napas Jihan yang mulai teratur. Riza mengusap bekas air mata di pipi istrinya yang sudah tertidur pulas. "Memang pernah ada perempuan sebelum kamu. Tapi semenjak hadirnya kamu sudah tidak ada lagi siapapun yang bisa masuk. Adella adalah bagian dari masa lalu yang alhamdulillah tidak ditakdirkan untuk Mas. Dia tidak bisa dibandingkan denganmu dari segi apapun. Kamu sempurna di mata Mas dan di mata orang di luar sana. Kamu tidak perlu takut Mas berpaling. Namun sebaliknya Mas yang setiap hari di hantui ketakutan itu. Hanya kamu masa depan dan hanya kamu seorang yang bisa benar benar membuat Mas jatuh cinta." Ucap Riza kemudian mengecup lembut bibir istrinya.


__ADS_2