Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Harus Banyak Bersabar


__ADS_3

Pagi hari setelah suaminya berangkat Jihan pergi ke rumah Meta. Wanita itu turun dari taxi kemudian berjalan dengan tongkatnya menuju teras rumah. Ia mengetuk pintu beberapa kali hingga terbuka. Sosok wanita langsung berhambur memeluknya dengan erat. "Kenapa kesini? Kan masih belum sembuh. Kemarin aku juga darisana. Masa sudah kangen." Meta menuntun Jihan untuk masuk ke dalam. "Haish...Tidak kangen. Hanya bosan saja di rumah. Aku mau ke rumah Papa tapi nggak jadi. Takut kena Omel." Katanya sambil duduk dengan hati hati.


Jihan merasa bosan. "Masak yuk. Aku pengen belajar buat jajan pasar yang kamu bawa kemarin." Ucapnya membuat Meta menghela napas. "Nggak ada bahan." Jawabnya agar Jihan duduk tenang tidak macam macam. Ia khawatir karena adiknya itu sedang hamil, puasa dan juga kakinya sakit. Jihan tidak merasa terbebani malah orang orang di sekitar yang kalang kabut menjaganya. "Aku ada bahannya. Tuh di depan rumah. Baru diantar." Ucapnya membuat Meta membulatkan matanya.

__ADS_1


Meta menghela napas Jihan memang tidak main main dengan ucapannya. Ia gemas dengan Jihan. Mau di unyel unyel tapi sedang hamil. Mau di usir tapi sayang. Meta tak tau harus bagaimana menghadapinya. "Aku nggak bisa bikin." Ucap Meta sudah dengan alasan terakhir. "Aku ada resepnya loh. Sudah ayo bergegas jangan malas." Ucapnya berjalan pelan menuju dapur diikuti Meta di belakangnya yang sedang membawa belanjaan.


Jihan hanya duduk membuat kue sambil memperhatikan resep. Sedangkan yang wara wiri hanya Meta saja. Wanita itu dengan sigap mengambilkan semua keperluan yang Jihan mau. "Huft...." Ucapnya ikut duduk setelah semua sudah dimasukkan ke oven dan kukusan. "Kamu sudah izin sama suami kamu?" Meta bertanya pertanyaan yang mendasar yang harusnya di tanyakan tadi. Namun saking terkejutnya Jihan datang Ia sampai lupa. "Enggak. Kalo izin ya nggak di kasih izin dong." Jawab Jihan dengan santai.

__ADS_1


Rudi menghampiri istrinya yang sibuk di dapur


"Kok banyak banget." Kata Rudi mengamati meja yang penuh makanan. "Jihan yang bikin. Ditinggal gitu aja." Jawab Meta. "Kakak tadi dari sini Ma?" Tanya Lita dan Gita. "Iya. Tapi sudah pulang." Meta sibuk membungkus kue untuk dibagikan ke tetangganya. "Yah. Kita nggak ketemu."Keluh keduanya membuat suami istri itu menggelengkan kepala.

__ADS_1


Riza menghela napas memperhatikan istrinya yang sedang tiduran santai dengan Mark sambil menonton Film. Tadi Ia sudah memarahi Jihan tapi rasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Buktinya wanita itu biasa saja tidak ada takut takutnya sama sekali. Jadi suami Jihan harus serba sabar dan lapang dada untuk menghadapi istri cantik dan uniknya. Riza sadar akan itu. Pagi tadi Ia sudah memberi wejangan dan berceloteh panjang lebar agar istrinya duduk diam dirumah jangan kemana mana karena kakinya sedang sakit. Eh tau tau sudah dari rumah Meta. "Apa sih Mas?" Jihan kesal sendiri karena hidungnya yang mancung terus si tarik Riza. "Awas saja kamu ulangi lagi." Ucapannya membuat Jihan memutar bola matanya malas. "Memangnya aku pergi kemana. Cuman ke rumah Kak Meta. Dasar suami menyebalkan." Gerutunya masih di dengar sang suami. "Kamu bilang apa Dek?" Tanya Riza menarik telinga wanita itu pelan. "Enggak. Enggak papa kok." Jawabnya cepat. "Em...Mas." Panggil Jihan mendongak menatap Riza yang tengah memangku kepalanya. Nah jika begini Mark dan Riza pun tau Jihan sedang menginginkan sesuatu. "Iya. Mau apa?" Tanya Riza dengan lembut sembari mengusap kepala istrinya. "Mau jagung rebus. Yang jualan dekat minimarket itu masih ada nggak ya?" Riza mengangguk sambil tersenyum. "Masih. Agak sore sekarang bukanya. Kan lagi puasa. Nanti Mas belikan." Riza mencium pucuk kepala istrinya. Mau semarah apapun juga tidak bisa. Entah darimana sumber kesabaran itu datang untuk menghadapi istrinya yang banyak tingkah dan keras kepala.


__ADS_2