
Kejutan........
Tahan napas kalau baca ya.....
Harap jangan panik dulu....
__ADS_1
Jihan tersenyum menatap kamar anak kembarnya yang baru saja selesai di tata. Semuanya sudah lengkap mulai dari pakaian, box bayi dan semua keperluan lain. Ia bergegas keluar dan masuk ke kamarnya yang berada di sebelah untuk segera mandi.
Seperti biasanya Riza pagi pagi sudah datang ke rumah sang istri berharap mendapat kabar dari wanita itu. "Assalamualaikum." Ucapnya melihat Mark baru saja keluar. "Waalaikumsalam." Remaja itu tersenyum menatap Kakak ipar. "Bagaimana? ada kabar?" Tanya Riza menatap Sang adik Ipar dengan binar di mata. Jujur Mark begitu prihatin menatap pria di depannya itu. "kakak sudah pulang. Dia sedang mandi." Lirihnya. Riza tersenyum sambil mengangguk. Lalu buru buru melangkahkan kaki dengan cepat memasuki rumah tak sabar ingin berjumpa dengan istrinya.
"Aku bisa buat mie instan untuk makan. Beristirahatlah. Pasti lelah." Ucap Riza sambil memeluk istrinya yang sedang memotong sayuran. "Aku tidak lelah." Jawab Jihan singkat. "Maafkan Mas." Ucap Riza sambil menenggelamkan wajah di ceruk leher sang istri. "Mas Mohon. Mas minta maaf." Ucapnya lagi karena tak mendapat jawaban. Jihan mengangguk tanpa bersuara. Tenggorokannya tercekat tak tau harus berkata apa.
__ADS_1
Jihan menemani suaminya makan. Pria itu begitu lahap menyantap hidangan yang dibuatkan istrinya. "Memangnya kamu tidak makan berapa hari Mas?" Tanya Jihan heran. "Semenjak kamu pergi aku hanya makan mie. Itupun sehari sekali." Ucapnya membuat hati Jihan teriris. Sebegitukah. Ia semakin merasa bersalah. "Hm. Mulai sekarang jaga pola makannya. Kalau aku tidak ada kan beli di luar bisa." Ucapnya menuturi. "Beda dengan masakan kamu Dek. Tidak ada yang bisa menyamainya." Jawab Riza tersenyum kemudian melanjutkan makannya lagi.
Selesai makan Jihan berjalan jalan dengan suaminya di taman belakang. Riza tak berhenti menggenggam tangan sang istri. Bahkan sangat erat seakan takut wanita itu pergi lagi. "Duduk Mas. Aku ingin bicara." Ajaknya menarik tangan Riza untuk menuju ke bangku yang berjarak tak jauh dari keduanya.
Jihan menatap suaminya dalam dalam kemudian menunduk. "Mari bercerai." Ucapnya dengan berat hati membuat Riza membeku di tempat. "Kenapa Dek? Karena kesalahan itu? Karena surat wasiat itu atau ada yang lain yang tidak kamu suka dari Mas?" Tanya Riza bertubi tubi sambil menahan air matanya. Memberikan waktu Jihan untuk sendiri pikirnya akan menjadikan keadaan lebih baik. Ternyata malah sebaliknya. Sang istri meminta untuk berpisah dan dia tak rela. "Bukan Mas. Mas sangat baik. Hanya saja aku minta maaf karena belum mencintai Mas. Aku sudah mencoba dan berusaha tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada yang mengisi hatiku. Daripada bersama kita tersiksa. Aku pikir berpisah adalah jalan yang paling baik." Ucapnya sambil berdiri. "Aku harap Mas bisa hidup dengan baik setelah ini. Jaga kesehatan Mas." Ucap Jihan melepaskan genggaman tangan suaminya. "Mas tau kamu sudah berusaha Dek. Mas paham ini sulit. Tapi Mas akan menunggu kamu. Mas maklum belum ada cinta di hati kamu karena semuanya begitu mendadak dan tak terencana. Tapi Mas akan menunggu." Ucapnya mencekal tangan Jihan tak membiarkan wanita itu pergi. "Mas. Ini akan sia sia dan membuang waktu. Mas bisa cari kebahagiaan lain. Mungkin jodoh Mas bukan aku. Jadi jangan memaksakan karena akan menyakiti kita." Riza menggeleng menatap Istrinya. Pria itu berlutut memeluk pinggang Jihan. "Mas mohon jangan seperti ini. Mas tidak bisa Tampa kamu. Mas tersiksa Dek. Hidup Mas mulai kacau semenjak kamu pergi. Jangan seperti ini. Jangan menyiksa Mas. Jangan meninggalkan Mas." Ucapnya semakin lirih dan merosot jatuh ke bawah. "Mas...Mas." Jihan mulai panik mencoba membangunkan suaminya.
__ADS_1