
"Mau kemana dek?" Tanya Riza melihat istrinya buru buru keluar rumah. "Bikin kaget. Mau ke rumah Bu Siti antar lingerie." Jawabnya membuat Riza melongo. "Bukan untuk Bu Siti. Ini untuk kado nikahan teman anaknya. Kan mau unboxing habis nikah. Ya harus pakai.....Ah udah jadi panjang. Aku berangkat dulu Mas. Assalamualaikum." Jihan mencium tangan suaminya kemudian buru buru pergi. "Waalaikumsalam." Jawab Riza. "Hati hati Dek." Ucapnya melihat Jihan sempat tersandung.
"Assalamualaikum." Ucap Jihan memasuki pekarangan rumah tetangganya. "Waalaikumsalam. Mbak Jihan. Mari duduk. Mau minum apa?" Tawarnya. "Ah tidak usah Mbak Din. Aku mau antar pesanan kamu waktu itu." Ucapnya sambil meletakkan paper bag di atas meja kecil di depan keduanya. "Makasih Mbak. Saya ambil uangnya dulu ya." Ucapnya sambil berdiri. "Eh. Nggak usah." Kata Jihan menahan lengan wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu. "Loh. Kok gitu mbak. Saya nitip lo." Katanya. "Beneran nggak usah. Ambil saja."Jihan meyakinkan membuat lawan bicaranya mengangguk. "Kalau begitu terimakasih ya mbak." Ucapnya kembali duduk.
__ADS_1
Jihan pulang ke rumah setelah urusannya selesai. Wanita itu langsung menghampiri Jalwa yang sedang menangis di gandeng Ayahnya. "Kenapa nangis sayang?" Tanyanya Sambil menggendong gadis kecil itu. "Bangun tidur cariin kamu. Kesandung dia. Orang matanya masih merem di pakai jalan." Jawab Riza. "Ibu lagi ke rumah tetangga sebentar sayang. Ayah mau ambilin mangga itu. Ya nggak yah?" Tanya Jihan agar menghibur anaknya. "Tuh. Mangganya besar besar. Ambilin Yah." Ucap Jihan sambil tersenyum. "Bisa aja kamu Dek." Ucap Riza mengecup pipi istrinya kemudian segera mengambil tangga.
Riza menghampiri istrinya yang sudah berkumpul dengan Mark dan anak anak di teras belakang. Mereka sedang rujakan. Ternyata emaknya yang pengen mangga dan rujak bukan Jalwa. "Jangan pedes pedes Dek. Cabenya satu aja." Tegur Pria itu. "Tiga deh." Tawar Jihan. "Satu atau nggak usah." Tegasnya membuat wanita itu menurut. "Mark. Gimana kuliahmu Boy!" Tanya Jihan. "Alhamdulillah lancar Kak. Besok sudah thesis terakhir. Prediksi aku akan wisuda sebentar lagi." Jelasnya sambil tersenyum senang. "Makasih kak Jihan sama Kak Riza selalu support dan biayain kuliah aku sampai saat ini."Ucapnya menjadikan suasana haru. "Sudah kewajiban kakak Sayang. Kakak seneng kamu raih cita cita kamu." Jihan tersenyum. "Tumben kamu semanis ini Dek." Riza merusak suasana membuat Mark menghela napas. "Kemanisan ya. Ouh...Lupakan saja." Jawab Jihan. "Nggak kok Kak. Makasih atas semuanya. Mark sayang kakak. Meskipun kita bukan saudara sedarah tapi kakak sudah seperti orang tua dan kakak kandung aku. Begitupun Kak Riza." Ucapnya memeluk dan mencium Jihan. "Kakak nggak di peluk nih?" Sindir pria itu. " Eh iya. Makasih Kak." Mark beralih ke iparnya. "Sama sama. Kakak senang kamu berhasil. Kamu sudah seperti adik kakak sendiri Mark." Jawab Riza menepuk punggung iparnya itu. "Nanti malam jalan jalan yuk." Ajak Jihan langsung mendapat anggukan dari suaminya. "Nah sambelnya udah jadi." Kata Wanita itu. "Kalian jangan pakai sambel ya. Nanti kepedesan perutnya sakit." Tutur Jihan pada kedua anaknya.
__ADS_1
Setelah cukup lama berkeliling dan membeli beberapa barang kebutuhan mereka makan bersama di warung nasi bebek sederhana di pinggir jalan dengan Mall. Jihan menyuapi kedua anaknya dengan tangan kosong. "Dek. Perut Mas kok sakit ya." Ucap Riza. "Sudahi dulu makannya. Kamu kebanyakan makannya sambel sih. Minum dulu." Ucap Jihan membantu pria itu minum. "Kita pulang." lanjutnya sambil mencuci tangan.
Jihan menghampiri suaminya yang sudah berbaring di ranjang sesudah memastikan anak anak tidur. "Belum enakan?" Tanyanya duduk di samping Riza. Pria itu sudah minum obat tadi. "Alhamdulillah membaik." Jawabnya sambil tersenyum. "Kalau nggak bisa makan pedes nggak usah maksa " Tutur Jihan sambil mengelus kepala suaminya. Riza bahagia mendapat perhatian dari sang istri. "Sakit malah senyam senyum. Kamu sakit beneran atau nipu aku nih?" Ucapnya curiga. "Ya beneran dong Dek. Mas cuma senang di perhatikan kamu." Jawabnya jujur. "Yaudah di pakai tidur. Aku mau tutup gorden sambil matikan lampu dulu." Ucap Jihan beranjak pergi. "Jangan lama lama." Jihan hanya berdehem menanggapi suaminya.
__ADS_1