Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Hadiah Dari Suami


__ADS_3

Jihan tersenyum menghampiri anak anak dan suaminya yang sedang mencuci mobil. Karena hari ini belum ada supir yang pulang Jihan sebagai orang yang sangat perhatian dengan kuda besinya itu tentu tidak akan membuat koleksi berharganya berdebu. Bukan menyuruh namun Riza dan anak anak memang berinisiatif untuk mencuci seluruh mobilnya. Untung saja punya pencucian mobil sendiri di rumah jadi tidak repot pergi keluar. "Belum selesai ya ya?" Tanya Jihan. "Belum Dek. Tenang saja. Sebentar lagi juga selesai." Jawab Riza sambil mengecup pipi sang istri. "Ibu. Ayo ke kandang Lucifer naik itu." Ajak juma sambil menunjuk mobil jeep milik sang Ibu. "Ayo. Jalwa dan Dika ayo ikut." Ajaknya. Gadis itu mengangguk kemudian segera menggandeng tangan sang Ibu. Riza hanya bisa menghela napas melihat istrinya pergi. "Gini banget punya bojo. Pergi juga nggak kasih Kiss ke suaminya." Gumamnya sambil menghela napas. "Bijo apa Yah?" Tanya Jaffan tak sengaja mendengar Ayahnya ngedumel. "Bojo buka Bijo itu artinya Istri." Jawab Riza sambil meneruskan pekerjaannya.


"Jangan takut." Ucapnya melihat Dika mundur beberapa langkah. "Dia jinak. Coba di sentuh dengan lembut." Jihan memegang tangan Dika mengarahkan untuk membelai leher kuda miliknya. "Namanya Lucifer. Dia sangat gagah dan mengerti dengan perasaan pemiliknya." Kata wanita itu menjelaskan. "Yang di tuntun Juma itu namanya Aster. Badannya memang agak kecil. Tapi tenaganya tidak kalah hebat." Lanjutnya kemudian membantu Juma naik. "Mau naik?" Tawar wanita itu namun Dika menggeleng.

__ADS_1


Jalwa dan Dika hanya menyaksikan Juma dan Ibunya saling kejar kejaran naik kuda. "Kakak tidak naik?" Tanyanya sedikit canggung. "Tidak. Aku takut." Jawab Jalwa tanpa menoleh. "Begitu lagi mereka." Ucap Riza tiba tiba datang membuat keduanya terkejut. "Cuci mobilnya sudah selesai?" Tanya Jalwa. "Sudah. Tinggal di masukin ke parkiran." Jawabnya sambil duduk.


Riza menarik tangan istrinya bersembunyi di walk in closet. "Ada apa sih Mas?" Tanyanya namun dengan cepat Ia membekap mulut sang istri saat suara Juma memanggil Ibunya semakin dekat. "Ibu mandi atau dimana sih?" Ucap Bocah itu mencari Ibunya kesana kemari namun tetap tidak bertemu.

__ADS_1


Riza menggendong tubuh ringan Jihan dan mendudukkan di ranjang dengan pelan. Pria itu ikut naik kemudian mulai memijit kaki Istrinya. "Kenapa pijitin aku? Aku nggak capek." Riza menggelengkan kepala tak setuju dengan pernyataan sang istri. "Kamu itu capek tapi tidak pernah mengeluh. Mas tau itu Dek. Kamu urus semuanya hampir sendiri. Tidak mungkin tidak capek." Ucap Riza kini membaringkan istrinya agar lebih nyaman. Ia paham Jihan sangat lelah hanya saja wanita itu tidak pernah berkeluh kesah. Beruntungnya Riza memiliki istri begitu baik seperti Jihan. "Maaf Mas kurang ngertiin kamu. Mas kurang pengertian sebagai suami." Lanjutnya lagi sambil terus memijit. "Mas ada sesuatu untuk kamu." Ia beranjak mengambil sesuatu dari laci kemudian kembali lagi menghampiri istrinya. Riza memberikan sebuah kotak pada Jihan dan seketika di buka oleh wanita itu. Sebuah kalung emas putih dengan bandul berlian. "Meskipun kamu punya segalanya dan itu nggak seberapa bagi kamu tapi itu yang Mas bisa berikan. Bukan barang mewah tapi Mas membelinya ikhlas dan penuh cinta. Itu hasil Mas menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari hasil ruko dan gaji Mas." Jihan tersenyum menatap suaminya. "Aku suka Mas. Terimakasih." Jawab Jihan memeluk Riza. "Sama sama Dek." Jawabnya melepaskan pelukan. Pria itu menangkup wajah sang istri dan memberikan ciuman lama yang begitu lembut.


"Keterlaluan kalian." Kesal Papa melihat kedatangan anak dan menantunya. "Kenapa Pa?" Tanya Jihan. "Kalian kemana saja? Daritadi Juma uring uringan cari kalian." Jawab Pria paruh baya itu. "Ibu." Juma datang langsung memeluk Ibunya. "Ibu kemana saja?" Tanyanya. "Ibu tidur siang." Jawab Jihan jujur. "Pintu kamar Ibu dikunci. Ayah pasti yang kunci." Kata Juma menuding Ayahnya. "Riza kamu juga begitu." Keluh Papa sambil menggelengkan kepala. "Dia kalau tidur rusuh Pa. Ngompol lagi." Jawab Riza. "Juma ngompol cuma sekali." Sahutnya tak terima. "Anak sama Ayah sama saja. Huft." Papa menghela napas tak memihak keduanya. "Sama apanya Pa?" Tanya Riza. "Sama sama nggak mau pisah dari putri Papa. Papa bawa Jihan pergi baru tau." Ancamnya. "Ya jangan dong Pa." Keluh Riza.

__ADS_1


"Liburan yuk ke Amerika. Di California. Disana banyak pantai." Ajak Jihan begitu bersemangat. "Ayo Ma. Mau di Santa Monica atau di Carmel atau nggak di Laguna bagus parah recommended banget itu." Sahut Julian memberi saran. "Nggak nggak. Di pantai? Ayah nggak setuju. Pakaiannya begitu semua. Daripada jauh jauh kesana mending ke puncak aja." Usul Riza menentang. "Apa apaan ke puncak. Feel nya beda Mas." Jawab Jihan sambil berdecak. "Jason, Julian kalian ini. Suka ya lihat yang begitu?" Riza menatap kedua putranya bergantian. "Suka apanya sih Yah. Biasa saja. Disana kita sudah biasa seperti itu." Jihan mengangguk membenarkan putranya. "Kalau dulu biasa lihat sekarang biasakan untuk tidak lihat. Lagian jauh jauh ke sana mau ngapain?" Tanyanya heran. "Banyak hal. Mas mana bisa nikmati sih." Jihan lama lama gemas dengan suaminya.


__ADS_2