
Hari ini Jihan dan keluarga ada acara buka bersama di pondok pesantren. "Ibu mana?" Tanya Riza menghampiri anak anak dan mertuanya yang sudah menunggu di ruang tengah. Pria itu baru kembali menyiapkan mobil dari depan. "Tadi pamitnya mau mandi." Jawab Jaffan.
Riza menghela napas menghampiri istrinya yang masih duduk santai di sofa sambil memainkan ponsel. "Astagfirullah, kamu belum mandi juga Dek?" Ucap pria itu sambil berkacak pinggang. "Jam berapa Sih?" Tanyanya tanpa memandang sang suami. "Jam 4 ayo buruan mandi." Perintahnya. "Nanti dulu. Masih balas chat Carissa." Jawab Jihan masih enggan berdiri. "Mandi." Tegas pria itu merampas ponsel sang istri.
Jihan baru selesai mandi langsung masuk ke walk in closet nya. "Gamis sama jilbab kamu Dek." Ucap Riza enggan menatap sang istri yang masih mengenakan handuk. Ia tak mau puasanya batal gara gara itu. "Kenapa Mas?" Tanya Jihan. "Nggak Papa. Kamu cepetan siap siap. Mas tunggu di luar." Jawabnya buru buru pergi membuat Jihan kebingungan.
Riza yang sedang memeriksa ponsel istrinya mendongak menatap wanita cantik dengan gamis berwarna peach yang Ia siapkan tadi. "Ayo berangkat." Ucapnya berdiri di depan sang suami. Pria itu mengangguk. "Semuanya aman. Ini ponsel kamu." Ucapnya mengembalikan pada sang istri. Jihan berdecak kebiasaan Riza untuk selalu memeriksa pesan dan panggilan tak pernah berubah. Pria itu semakin tua malah semakin posesif.
__ADS_1
Beberapa rombongan mobil tampak terparkir mulus di halaman pondok. Jihan yang baru turun langsung di gandeng oleh suami dan putra bungsunya. "Assalamualaikum." Ucap Riza memberikan salam. "Waalaikumsalam." Jawab para pengurus pondok pesantren bahagia melihat kedatangan keluarga pemilik tempat mereka mengajar. "Perkenalkan ini Jason dan Julian putra kami." Karena melihat mereka asing dengan kehadiran dua putra kembarnya Riza buru buru mengenalkan.
Jihan dan keluarga di ajak berkeliling untuk melihat hasil pembangunan pondok pesantren dan mes yang baru untuk santri wati. "Assalamualaikum Mbak Jihan." Dua orang remaja laki laki menghampiri Jihan yang sedang berjalan menggandeng tangan putra bungsunya. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan tersenyum ramah. "Ini untuk Mbak Jihan." Keduanya memberikan paper bag berukuran besar pada wanita cantik itu. "Terimakasih." Mereka mengangguk kemudian bergegas pergi setelah berpamitan. Riza hanya bisa beristigfar dalam hati. Ini yang membuatnya kesal jika Jihan ikut. Istrinya selalu saja di goda oleh bocah ingusan yang mondok disini.
"Ibu." Dika berlari memeluk Jihan. "Hey...Jangan menangis. Jangan cengeng begini. Kamu tidak malu di lihat teman temanmu?" Ucapnya sambil mengusap air mata remaja yang kini tubuhnya sudah lumayan berisi. "Dika kangen Ibu." Wanita itu mengangguk sambil tersenyum mengajak remaja itu untuk duduk.
Buka puasa sedang berlangsung. Juma duduk bersama Ibunya karena akan makan satu piring dengan wanita itu. "Mau lauk apa?" Tanya Jihan menawari dengan lembut. Juma memperhatikan makanan di depannya tampak tidak berselera. "Nggak mau. Minum saja." Jawabnya pelan. "Juma nggak boleh begitu. Harus makan. Menghormati orang yang sudah susah susah masak untuk kita." Bisik Jihan mengambilkan nasi dan Ayam bakar untuk di makan bersama putranya. "Mbak Jihan, ini masih banyak kok ambil sedikit." Ucap Ustadzah. "Ini sudah cukup ustadzah." Jawabnya mulai menyuapi Juma.
__ADS_1
"Ibu pulang dulu." Jihan masih di luar mobil bersama suaminya berpamitan pada Dika. "Terimakasih." Remaja itu memeluk Riza dan Istrinya bergantian. "Sama sama Nak." Ia mengusap kepala remaja itu dengan lembut. "Lebaran nanti kamu pulang ke rumah Ibu. Bilang ke ustadz atau ustadzah agar di jemput." Dika mengangguk sambil tersenyum. Ini adalah puasa pertamanya dan menjadi sangat berkesan dengan keluarga baru.
Jihan menghela napas. "Ngambek?" Tanya Wanita itu melihat Juma cemberut. "Biasa lah Bu. Cemburu dia." Jawab Jalwa sambil tertawa. "Jangan ngambekan nggak baik." Tegur Jihan. "Juma nggak ngambek Bu. Juma cuman kesal Ibu pamitannya lama." Paling bisa menjawab. Bocah itu tak kehabisan kata untuk menanggapi Ibunya.
Pukul sembilan malam Jihan baru sampai di rumah. "Kalian lama kemana saja?" Tanya Papa melihat anak, menantu dan cucunya baru pulang. "Mampir beliin Juma coklat." Jawab Jihan. "Kakek mau?" Tawar bocah tampan itu. "Nggak ah. Kakek sudah tua ogah makan yang manis manis."Jawab Papa. "Minta Dek." Jason menengadahkan tangannya. "Ambil sendiri " Jawab Juma tumben tidak pelit seperti biasanya. Jihan duduk sibuk membuka hadiah yang santriwan dan santriwati berikan tadi. "So cute." Ucap wanita itu menunjukkan mug keramik mungil dari kotak yang baru saja Ia buka. "Dari Mahes." Riza berdecak membaca ukirannya. "Dasar genit." Gumamnya. "Siapa yang genit?" Tanya Jihan menatap tajam sang suami. "Santrinya Dek." Jawab Pria itu membuat semuanya tertawa. "Ibu dapat music box." Kata Jaffan yang ikut membantu membuka hadiah. "Oh lihat lukisannya sangat bagus." Julian menunjukkan lukisan cantik Mamanya yang sedang tersenyum. "Kalau ini dari Angga." Lanjutnya membaca tulisan yang ada di pojok bingkai.
"Juma makannya comot begini." Jihan membersihkan bibir dan tangan putranya dengan tissue basah. "Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur." Lanjutnya mengingatkan. "Ok Bu. Juma tidur sama Ibu." Jawabnya mengecup pipi dan kening wanita itu. "Hampir tiap hari kamu tidur sama Ibu." Kata Riza berdecak. Bocah tampan itu tak menanggapi lalu meminum es teh milik Ibunya. "Jangan banyak banyak." Tegur Julian.
__ADS_1