Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Riza duduk di dekat istrinya. "Maaf Mas nggak pernah cerita tentang ini ke kamu. Dulu saat Mas masih ngajar di pesantren Mas pernah akan melamar seorang gadis. Dia adalah Adella yang kamu sebut sebut sebagai mantan tapi juga tidak benar benar mantan. Mas minta izin ke guru Mas yang merupakan teman dekat bapak. Beliau tidak menjawab namun hanya memberikan secarik amplop usang yang berisi surat wasiat tentang perjodohan Mas dengan Adek. Awalnya memang berat, namun demi sebuah pesan dan amanat Mas menjalaninya. Mas sampai di sini untuk bekerja sekaligus membahas perjodohan dengan Ayah. Mas sedikit ragu awalnya. Namun setelah bertemu kamu Mas yakin kamu orang yang baik dan Mas memantapkan hati untuk menjalankan perjodohan ini. Adella menikah setelah beberapa tahun kita menjalani rumah tangga. Mas dapat undangannya namun Mas tidak datang. Dia di lamar oleh pengusaha kayu di desa. Hidupnya mapan dan bahagia hingga dia dikaruniai seorang anak laki laki yang usianya 13 tahunan. Dia bercerai karena sebuah perselingkuhan yang suaminya lakukan. Adella membesarkan anaknya sendiri dan merantau ke kota untuk melupakan masa lalunya. Dia bekerja di perusahaan kamu. Waktu itu kita bertemu tanpa sengaja di depan cafe lalu kita duduk bersama. Mas tidak melakukan apapun Dek. Mas murni hanya mendengarkan ceritanya saja." Jelas Riza panjang lebar namun sama sekali tidak direspon istrinya.


Jihan sibuk menyemprotkan parfum kemudian memoles lipstik dengan warna merah bata di bibir mungilnya. Tidak seperti biasa yang natural. Ia terlihat tampil berani dengan make up flawless tapi juga tidak tebal. "Aku mau ke perusahaan ada meeting." Ucapnya sambil berjalan ke arah lemari sepatu. Ia memilih sepasang high hills berwarna hitam dan segera memakainya. "Dek. Jangan begini." Ucap Riza mencekal tangan istrinya saat wanita itu hendak melangkah pergi. "Aku juga tidak mau begini. Kamu yang memaksa." Jawabnya melepaskan tangan suami kemudian berlalu pergi.


"Ibu mau kemana?" Tanya Jaffan melihat Ibunya sudah rapi dengan pakaian formal. "Ada meeting di perusahaan. Ibu harus hadir." Jawab Jihan sambil meletakkan piring yang sudah diisi makanan di depan suaminya. "Juma berangkat sama Ibu kan?" Tanya bocah tampan itu. "Iya. Ibu antar Juma." Jihan tersnyum menatap putranya.


Selesai mengantar putranya Jihan langsung ke perusahaan. Wanita itu berjalan tegap menuju ke lift sambil sesekali tersenyum menanggapi semua sapaan karyawannya. Jihan menyipitkan matanya melihat salah satu dari dua wanita yang sedang berbincang. Dia adalah Adella sosok yang menjadi prahara dengan suaminya beberapa hari ini.

__ADS_1


Satria berjalan tegap menghampiri bosnya yang sedang duduk di kursi kerja. Pria itu menghela napas sambil meletakkan beberapa Map di meja. "Meeting nya diundur 15 menit lagi. Masih disiapkan semuanya." Ucap Satria kemudian duduk di sofa. "Hm." Jawab Jihan singkat sembari melihat laporan. "Gimana sama suami kamu? Masih belum membaik?" Tanyanya. "Dilihat dari ekspresiku bagaimana?" Jihan balik bertanya. "Belum." Gumam Satria melihat dari raut wajah bosnya.


Jihan mendengarkan presentasi dari beberapa orang. Mendekati acara ulang tahun perusahaan semua perwakilan dari divisi sibuk menyalurkan ide untuk merayakannya. Dari semua ide tidak ada yang menarik perhatian sang CEO. "Gimana?" Tanya Satria meminta respon dari bosnya. Jihan menghela napas. "Coba bikin yang lebih manfaat jadi sejalan sama Visi Misi kita." Ucap Jihan kemudian menjelaskan semua kemauannya.


Satria mengikuti langkah cepat bosnya yang keluar dari ruangan meeting. "Jadi bagaimana?" Tanya Pria itu meminta keputusan dari Jihan. "Haus. Minum dulu." Ucapnya membelokkan langkah menuju kantin. Jihan mengambil beberapa kaleng soda dari lemari pendingin kemudian duduk. "Tidak boleh minum itu." Ucap Satria namun tidak di pedulikan. Jihan langsung meneguknya dengan cepat dan beralih ke kaleng kedua. "Ambil ide yang ke tiga tadi. Suruh semuanya siapkan tempat. Jangan sampai mengecewakan." Ucapnya dalam satu kali tarikan napas. "Tidak boleh minum itu." Kata Satria. "Boleh. Berani adukan ke siapa? Silahkan aku nggak peduli." Jawab Jihan kesal.


"Pelan pelan Juma." Tegur Jihan karena tangannya di tarik si putra bungsu memasuki rumah. "Mandi dulu terus ganti baju. Ibu juga mau mandi." Ucap wanita mengecup kening putranya. "Oke." Jawab Juma membalas ciuman sang Ibu dan bergegas menaiki tangga.

__ADS_1


Jihan sampai kamar langsung menyiapkan baju ganti untuk suaminya ketika pulang nanti. Wanita itu mengabaikan pintu walk in closet yang di buka seseorang. "Sudah pulang Dek?" Tanya Riza sambil memeluk istrinya. "Baju ganti kamu." Jihan memberikan baju yang telah Ia siapkan pada sang suami lalu bergegas pergi.


Guyuran air shower yang deras menyamarkan air mata dan suara tangis Jihan. Ia tak bisa menahan lagi terlalu lama. Air matanya memaksa untuk di keluarkan. Ia rapuh, namun harus selalu bersandiwara menjadi wanita tegar yang seolah olah semuanya baik baik saja. Ia cemburu, kesal dan kecewa dengan suaminya. Mungkin ini hal sepele namun jika menyangkut kepercayaan bagi Jihan itu suatu yang besar.


Gimana nih.....


Mau konfliknya berakhir bagaimana tergantung komen.

__ADS_1


__ADS_2