
Jihan sedang memasak makanan sahur dibantu Bibi dan Jalwa. "Ayam bakar sudah matang itu tolong tata di piring ya." Kata Jihan di angguki putrinya. Gadis itu memindahkan ayam bakar yang dibuat tadi ke dalam piring besar. "Ibu. Om Mark kok tidak pernah kesini?" Tanya Jalwa. "Sudah punya keluarga sendiri. Sibuk. Jalwa nanti kalau punya keluarga juga pasti akan merasakannya." Jawab Jihan. "Enggak ah. Ibu sudah berkeluarga juga tetap ada waktu untuk yang lain. Jalwa nanti kalau sudah berkeluarga juga akan begitu. Nggak akan mengabaikan Ibu dan yang lain." Jihan hanya bisa tersenyum. Pemikiran anaknya ini semoga menjadi kenyataan. Dulu Mark juga bilang begitu tapi kenyataannya lain. "Ibu." Gadis itu menggenggam tangan sang Ibu membuat Jihan menghentikan kegiatannya. Ia memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat. "Jalwa tau masalah apa yang mengganggu Ibu akhir akhir ini sampai kondisi Ibu sering drop. Jalwa tak sengaja mendengarnya. Sikap Om Mark yang berubah juga sudah menjadi Jawaban. Ibu jangan khawatir. Tidak ada kepedulian darinya pun sudah ada anak anak Ibu, kakek dan Juga Ayah. Jadi Jalwa mohon jika ada apa apa jangan di pendam sendiri. Cerita pada kami segala keluh kesah Ibu. Kami sayang Ibu. Kami cinta Ibu melebihi apapun." Ucap Jalwa sambil menangis. "Terimakasih Sayang. Ibu hanya tidak ingin membebani kalian." Jawab Jihan sambil mengusap air mata putrinya.
"Anaknya sudah di bangunkan?" Tanya Jihan melihat suaminya keluar dari kamar. "Kenapa menangis?" Tak menjawab Riza malah memberikan pelukan kepada istrinya. "Tidak apa." Jawab wanita itu membuat suaminya menghela napas. Ia sudah tau tanpa mendapat jawaban langsung dari sang istri. Tak lain tak bukan pasti tentang Mark. "Jangan di pikirkan." Ucap Riza mencium bibir istrinya dengan rakus. "Mas." Tegur Jihan saat pangutan terlepas. "Nanti setelah Imsak kan sudah tidak boleh Dek. Anggap saja ini sahurnya Mas." Jawab Riza tersenyum menatap sang istri.
__ADS_1
"Jason. Bangun Sayang. Waktunya sahur." Ucap Jihan menepuk punggung putranya pelan lalu memberi kecupan sayang pada pelipis remaja itu. "Iya Ma." Jawabnya buru buru duduk lalu mencium pipi Mamanya. "Cuci muka dulu. Mama mau bangunin yang lain." Jihan bergegas pergi setelah mengusap kepala putranya.
Riza menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di ruang makan. Pria itu menggendong Juma yang masih setengah tertidur. "Bangun Sayang. Keburu Imsak nanti." Ucap Jihan mengambil alih putranya dari sang suami. "Juma ngantuk Bu." Jawabnya mengalungkan lengan di leher sang Ibu. "Ayo sahur. Ibu suapi." Jihan duduk memangku putranya. Ia makan sambil menyuapi bocah tampan yang masih terlihat sangat mengantuk itu. "Lihat sendoknya. Nanti kena mata." Kata Jaffan tertawa melihat adiknya begitu malas untuk sahur. "Mas suapi Dek." Riza kasihan melihat istrinya kerepotan mulai menyuapi wanita itu makan.
__ADS_1
Jihan sibuk di dapur di bantu Suami dan Putrinya juga. "Jangan pakai gula itu. Pakai gula yang ada di kotak biar sehat dan nggak diabetes." Tegur Jihan saat Riza hendak mengambil gula dari toples. "Oh. La ini untuk apa Dek?" Tanyanya kebingungan. "Itu jarang di pake sih Mas. Bibi yang beli." Jawab Jihan. Riza mengangguk kemudian segera menuangkan gula yang di maksud ke dalam tepung yang sudah di ayak Jalwa.
"Yah. Masa muda Ayah gimana?" Tanya Jalwa di sela mengaduk adonan membuat Riza mengernyitkan keningnya. "Bagaimana gimana?" Tanyanya balik. "Ya waktu Ayah kecil sampai bujang." Jawabnya. Pria itu tampak mengangguk paham. "Ayah SD nya di Madrasah. SMP dan SMA nya mondok sampai lulus. Setelah lulus Ayah nggak langsung kuliah. Ayah tetap mondok 3 tahun. Di umur Ayah yang ke 21 Ayah baru kuliah lanjut sampai S2. Waktu Ayah kuliah sudah keluar dari pondok jadi bisa tinggal di rumah menemani Ayah yang sendiri. Ibu Ayah meninggal ketika Ayah masih seusia kamu. Kalau Mbah kung kamu meninggal saat Ayah menyelesaikan studi Ayah. Beberapa tahun Ayah mengajar di pesantren tempat dulu Ayah menimba ilmu sambil menggarap sawah. Kemudian Ayah merantau kesini saat menerima panggilan kerja dari kampus lewat Opa kamu. Tak lama setelah itu Ayah menikah dengan Ibu. Iya nggak Dek?" Tanya Riza menggoda istrinya. "Mana aku tau. Lupa." Jawab Jihan sibuk memasukkan adonan ke dalam loyang. "Ibu dari muda cuek begitu ya Yah?" Tanya Jalwa berbisik. "Iya. Butuh penantian panjang sampai kata cinta keluar dari mulutnya. Tapi Ayah nggak menyerah dan tetap menunggu. Butuh perjuangan luar biasa untuk mendapatkan hati Ibu." Jawabnya juga berbisik. "Sudah, aduk yang benar jangan bergibah." Tegur Jihan pada suami dan putrinya membuat mereka tertawa bersamaan.
__ADS_1