Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bisik Orang Orang


__ADS_3

"Dek. Kaos kaki Mas dimana?" Tanya Riza menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan bekal. "Sudah aku siapin di atas sofa. Kalo sepatunya ya di bawahnya itu." Jawab Jihan sambil memasukkan salah buah ke dalam kotak. "Iya." Riza berlalu pergi kembali ke kamar setelah mengecup pipi sang istri. "Kenapa sih. buru buru banget?" Tanya Papa. "Tau tuh. Katanya hari ini ada rapat pagi Pa." Jawab Jihan. Baru saja hendak duduk untuk sarapan dengan yang lain Riza kembali lagi sambil menyerahkan dasinya meminta sang istri untuk memakaikan. "Tadi di suruh mandi malah leha leha. Sekarang ribet sendiri kan. Makanya kalo orang ngomong itu jangan di iya in aja. Heran deh. Enakan anak anak kalo di bilangin daripada kamu." Omel Jihan kesal dengan Riza karena daritadi di suruh mandi malah asyik menunggui nya memasak. Jadi gini kan sekarang. Segalanya serba grasa grusu. "Maaf." Ucap Pria itu. "Mas berangkat dulu." Riza berpamitan sembari mencium pipi istrinya. "Makasih sarapannya Sayang." Ia mengecup pipi Jihan lagi kemudian berpamitan pada semuanya untuk berangkat.


"Suami kamu begitu ya." Kata Papa yang sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit bersama Putrinya setelah mengantar anak anak. "Gitu gimana Pa?" Tanya Jihan sambil memincingkan mata. "Manja." Jawab Pria itu sambil terkekeh. "Bikin kesel. Mau di omeli sudah tua. Nggak di omeli keterlaluan." Jihan tampak menghela napas. "Riza sering tanya kontraktor itu. Memangnya lebih muda atau ganteng dari dia ya? Kelihatannya waspada banget." Wanita itu tampak mengangguk. "Memang ganteng Pa. Umurnya ya seumuran Mas Riza. Dia duda satu anak. Anaknya juga pernah ketemu waktu itu sama aku. Tapi kalo di pikir pikir sama siapa Mas Riza nggak waspada. Kayanya semua laki laki di anggap musuhnya deh." Ucap Jihan sambil terkekeh.

__ADS_1


Papa sedang melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan sementara Jihan menunggu. "Ini hasilnya Mbak. Semuanya baik. Bapak sehat. Gula darah, kolesterol dan asam urat semuanya Ok. Untuk susu dan vitaminnya jangan lupa di minum secara rutin seperti biasa untuk memperkuat dan mencetak pengeroposan tulang. " Kata Dokter setelah selesai. "Baik Dok. Terimakasih banyak." Ucap Jihan sambil tersenyum kemudian berpamitan.


Sore hari Riza baru pulang. Pria itu mencium pipi istrinya dan menidurkan kepalanya di paha wanita itu. "Mas beli kebaya buat kondangan nanti Dek." Ucapnya sambil menatap Jihan yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Kenapa beli? Kan masih punya." Katanya sembari meletakkan benda pipih yang di pegang di atas meja. "Pengen warna beda." Jawab Riza sambil tersenyum. "Kamu sudah makan siang?" Tanya Jihan namun suaminya menggeleng. "Yaudah makan sana. Sudah aku siapin di meja." Riza duduk. "Temani." Ucap Pria itu sembari menarik tangan Jihan agar berdiri.

__ADS_1


Malam hari setelah selesai sholat isya. Jihan menuruni tangga sambil menggandeng tangan anak anak. "Ayo berangkat." Ucapnya menghampiri suami yang sedang mengobrol dengan Papa dan Mark. "Weh...Cantiknya kakak. Ati ati nanti di lirik orang." Ucap Mark memanasi iparnya. "Jangan lemes mulut kamu." Kesal Jihan. "Kita berangkat dulu. Papa sama Mark mau di bawakan apa?" Tanya Riza. "Martabak aja deh." Pria itu mengangguk kemudian mengucapkan salam sebelum pergi.


Sebelum pulang mereka mampir di taman kota untuk membeli pesanan Mark. "Mas. Aku pengen gorengan itu." Kata Jihan menunjuk penjual gorengan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya membeli martabak. "Jangan Dek. Tenggorokan kamu sakit nanti. Kemarin sudah makan pisang goreng banyak lo. Sekarang kok makan gorengan lagi." Jawab Riza. "Ayolah. Aku pengen beli tempe goreng sama tahu isi. Ayo." Jihan menarik lengan suaminya.

__ADS_1


Papa menatap menantunya yang duduk sambil menghela napas. "Yang beli gorengan siapa Za?" Tanya Pria itu. "Istri Pa. Merengek minta gorengan. Padahal tadi Riza sudah bilang kalau nanti tenggorokannya bisa sakit kebanyakan makan yang berminyak." Ucapnya.


Jihan kembali setelah berganti baju sebentar kemudian bergabung dengan mereka yang sedang duduk bersama. "Ganti baju sana loh Mas." Riza menggeleng mengelus kepala sang istri yang duduk di bawah. "Nanti." Jawabnya. "Mau yang coklat ibu." Kata Jalwa. Jihan mengangguk kemudian membuka seluruh dus martabak di atas meja. "Aku gorengnya aja." Wanita itu begitu lahap makan gorengan dengan lalapan cabai. "Jangan banyak banyak. Perut kamu sakit nanti dek." Tegur Riza dan yang lain juga ikut ikutan. "Nggak papa." Jawabnya. Riza tak tinggal diam Ia mengambil cabai hijau itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Mas kok gitu." Kesal Jihan. "Mas nggak mau perut kamu sakit." Ucapnya sambil memeluk sang istri.

__ADS_1


__ADS_2