
Jihan memasuki kamar putrinya. Wanita itu duduk perlahan di tepian ranjang. "Diminum dulu." Ucapnya memberikan jamu kemasan untuk meredakan nyeri haid. Jalwa mengangguk kemudian segera duduk lalu meminum jamu yang di berikan Ibunya. "Dulu Ibu juga seperti Jalwa sering sakit perut waktu haid begini?" Tanyanya sambil bersandar di headboard ranjang. "Tidak juga sih. Tapi pernah." Jawab Jihan mengompres perut putrinya dengan air hangat.
Jalwa meminta Ibunya untuk menemani tidur. Gadis itu sudah mengunci pintu agar ayah dan saudaranya yang lain tidak mengganggu. "Masa muda Ibu bagaimana sih?" Tanyanya berbaring sambil memeluk sang Ibu. "Tidak cerita pun kalian pasti mendengar dari kakek." Jawab Jihan. "Ibu. Rasanya di jodohkan bagaimana? Apa dulu Ibu langsung cinta sama Ayah?" Ia mencari topik lain. "Ya rasanya aneh. Tapi mau tidak mau harus di jalankan. Awal awal Ibu menikah rasanya sangat sulit namun lama lama terbiasa dengan sendirinya. Dulu Ibu itu urakan. Tapi Ibu juga tau tentang hukum jadi Ibu sejak pertama sudah sangat berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Ayah. Ibu masih banyak belajar dan Ayah dengan sabar selalu ada untuk Ibu. Dulu juga Ibu tidak langsung cinta. Semuanya butuh proses mengenal satu sama lain. Ibu baru benar benar yakin kalau Ibu mencintai Ayah itu kamu sama Kakak kamu sudah ada. Tapi tepatnya kapan Ibu lupa." Jihan bercerita panjang lebar pada putrinya.
__ADS_1
"Ibu. Apa Ibu masih menyimpan sakit karena dulu Ibu diabaikan dengan keluarga Ibu?" Tanya Jalwa. Jihan menghela napas. "Yang namanya sakit itu masih ada sayang. Ibu rasa semua orang jika diposisi Ibu juga akan merasa demikian. Namun semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi. Biarlah mereka begitu asalkan kita tidak. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Kita hanya perlu percaya jika semua takdirnya itu baik. Ibu diberikan hidup yang seperti ini pasti juga ada hikmah di baliknya. Terbukti kan sekarang Ibu bahagia. Punya suami dan anak yang sayang dengan Ibu. Punya keluarga yang mencintai Ibu bahkan tidak ada hubungan darah diantara kita." Jelas Jihan sambil mengusap pipi putrinya. "Besok kalau kamu punya anak jangan sesekali menyakiti. Beri kesan yang baik. Sekedar mengomel itu wajar asal tidak berlebihan. Namun jika main tangan jangan sampai. Itu akan memberikan contoh buruk dan juga membuat anak tumbuh terbiasa dengan kekerasan. Juga bukan tidak mungkin akan dilakukannya di kemudian hari. Beri nasihat saja jika salah, anak dengan sendirinya akan mengerti. Jika kamu marah diami saja. Seperti Juma begitu. Nanti dia akan mengoreksi sendiri." Lanjutnya memberi nasihat.
Jihan baru bangun dari tidurnya. Ia beranjak perlahan setelah mengecup kening putrinya yang masih pulas. "Astagfirullah." Ucap Wanita itu terkejut mendapat pelukan erat dari suami dan putra bungsunya. "Ibu dicari kemana mana ternyata disini." Kata Juma masih dengan posisi memeluk Ibunya. "Kalian ini kompaknya kalau bikin kaget saja." Jawabnya sambil menghela napas.
__ADS_1
"Mau susu dingin." Ucap Juma duduk di samping Ibunya. "Kakak ambilkan. Mau apalagi?" Tanya Jason. "Biscuit coklat." Jawabnya menambahkan. "Gigi kamu belum copot juga?" Bocah tampan itu menggeleng menanggapi Ayahnya. "Sini Ayah cabutkan." Juma seketika menutup mulut dengan kedua tangannya. "Kalau nggak copot juga mau makan jadi susah." Lanjutnya. "Jangan di paksa kalo nggak mau." Tegur Jihan melihat suaminya terus mendesak. Pria itu suka menggoda Juma dan Juma juga begitu pada Ayahnya. Jika disuruh memihak maka Jihan tidak akan memilih salah satu dari keduanya.
Jason meletakkan susu kotak dingin dan biscuit coklat di depan adiknya. "Makasih." Kata Juma. "Sama sama." Jawab remaja tampan itu lalu duduk bergabung dengan saudara dan kedua orang tuanya setelah menyajikan semangkuk es doger di depan masing masing orang. "Kalian belajar dari siapa?" Tanya Jihan mulai meminumnya. "Lihat resep di internet. Enak nggak Bu?" Wanita itu mengangguk menanggapi Jaffan.
__ADS_1
"Ibu. Sakit." Juma meletakkan kembali biskuitnya. "Kan Ayah sudah bilang di cabut saja sekalian." Jawab Riza. "Di potekin aja kecil kecil. Jadi Juma ga perlu gigit." Jihan membagi biskuitnya menjadi beberapa bagian lalu menyuapkan pada putranya. "Kalau makan nasi gimana kamu, makan Ayam, makan daging? Sakit dong. Nanti biar Ayah yang habiskan." Riza mulai menggoda putranya. "Kan di suapi Ibu. Juma ga perlu gigit." Jawab bocah tampan itu. "Kalau begitu makan sendiri. Jangan minta di suapi Ibu." Riza menggenggam tangan istrinya mencegah wanita itu untuk melanjutkan menyuapi Juma. "Mas. Sudah tua juga nggak mau ngalah sama anak." Tegur Jihan. "Belain terus saja Juma." Riza cemberut memalingkan wajahnya. "Tantrum kaya anak kecil. Kamu tuh Mas." Ia tak habis pikir dengan suaminya yang ngambekan.