
"Mas. Kambingnya jangan di bawa pulang. Di potong di sana saja." Kata Jihan membuat Riza mengerutkan keningnya. "Aku nggak tega. Di potong di sana saja ya." Ucapnya lagi karena tak mendapat jawaban dari sang suami. Riza cemburu tuh. Masa Istrinya sama kambing nggak tega tapi sama suami sendiri kadang teganya kebangetan. Berarti....Ah sudahlah tidak perlu berpikir yang macam macam. Jihan kan pecinta hewan. Jadi harap maklum. "Iya Sayang." Ucap pria itu pada akhirnya sambil tersenyum. "Mas berangkat dulu. Sudah di tunggu pak Samsul sama Papa di depan. Assalamualaikum Dek Sayang." Seperti bisa sebelum pergi Ia meninggalkan jejak di seluruh wajah istrinya hingga membuat kesal karena tak hanya ciuman melainkan air liur juga ikut tertinggal.
Jihan keluar dari kamar anak anak setelah selesai menyusui. Wanita itu menuju lantai bawah menghampiri semua orang yang sedang sibuk menyiapkan bingkisan untuk akikah nanti sore. "Lita sama Gita nanti pulang jam berapa?" Tanyanya sambil duduk di samping Meta. "Jam 11 kayanya. Kamu istirahat saja. Tadi malam pasti begadang jagain anak." Jihan menggeleng pelan sambil mulai membantu. "Mbak Jihan. Ini mau ngundang berapa orang? kok bikinnya banyak banget." Tanya mereka. "Banyak. Untuk keluarga kalian di rumah juga di bawakan dong. Eh...Ada yang lihat Mark nggak?" Jihan heran karena tidak melihat adiknya sejak tadi. "Ikut ustadz Riza potong kambing." Jawab mereka kompak. "Orang tuamu kapan kesini?" gemas meta karena keluarga sahabatnya itu yang tidak ada pedulinya sama sekali. "Nggak tau juga sih. Mereka kan masih umrah." Semuanya menghentikan kegiatannya sejenak kemudian menatap Jihan dengan iba. Keluarganya mendadak berangkat umrah 2 hari sebelum Jihan melahirkan. Tentunya mereka kan tau perkiraan kapan putrinya akan mengalami momen berjuang hidup dan mati. Namun sepertinya memang tidak peduli.
Riza menghampiri dan memeluk istrinya yang sedang mengenakan Jilbab. Wanita itu sangat cantik dengan gamis berwarna pastel yang senada dengan baju Koko yang di pakai Suaminya saat ini. "Ayo. Semuanya sudah siap." Ajak Jihan sambil melepaskan pelukan Riza. Pria itu mengangguk sambil tersenyum. Tau apa yang akan terjadi Jihan dengan cepat membungkam mulut pria itu. "Jangan bikin aku kesal Mas. Aku nggak mau cuci muka lagi." Kata Jihan tak ingin mendapat ciuman ganas dari suaminya. "Satu saja di pipi." Ucap Riza setelah melepaskan tangan istrinya kemudian segera mengecup pipi wanita itu.
__ADS_1
Jihan dan suami menggendong putra putrinya menuju ke bawah. Karena rumah Riza yang tidak terlalu luas. Semua barang di singkirkan agar muat untuk semua orang. Pembawa acara segera membuka dengan salam. Setelah itu pembacaan ayat suci Alquran lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Riza yang merupakan empunya hajat. Pria itu tampak luwes berbicara karena sudah terbiasa. Kemudian masuk ke acara inti yaitu doa dan sholawat sambil pencukuran rambut bayi. Pasangan suami isteri itu membawa Jaffan dan Jalwa mengitari orang orang untuk dipotong rambutnya sedikit demi sedikit lalu di lanjut pengajian sebagai acara penutup.
Semua berkumpul setelah rangkaian acara selesai dengan lancar. Mereka yang masih tersisa duduk bersama Jihan tak terkecuali teman teman Riza dari kalangan Dosen yang turut diundang. "Wah...Matanya biru ya. Cantik sekali." Ucap mereka kagum saat dua bayi itu membuka mata. "Seperti ibunya. Mirip Bu Jihan." Teman Riza yang lain ikut menimpali.
"Terimakasih sudah banyak membantu. Jadi tambah sayang kalian." Jihan memeluk karyawannya. "Kita juga sayang Mbak Jihan." Mereka membalas pelukan Bos yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. "Semuanya itu di bawa pulang. Pulangnya hati hati ya. Sekali lagi terimakasih." Ucap Jihan lagi. "Itu kebanyakan Mbak." Jihan menggeleng sambil tersenyum. "Bawa pulang atau aku marah nih." Mereka akhirnya menurut saja. "Terimakasih Mbak." Kata Mereka di jawab anggukan.
__ADS_1
"Aku juga pulang ya. Anak anak ketiduran." Meta menggendong putrinya. "Ah iya. Hati hati. Semuanya sudah di masukkan ke mobil?" Tanya Jihan memastikan. "Sudah. Terimakasih. Suka banget kasih aku banyak banyak." Meta terkekeh. Ia dan suaminya berpamitan untuk segera pulang sebelum semakin malam.
Jihan dan Suami kembali masuk ke dalam setelah memastikan semuanya pulang. "Astaga punya adek satu begini banget." Jihan kesal melihat Mark tidur sembarangan di lantai. Ia khawatir. Nanti kan bisa masuk angin. "Mark bangun. Pindah ke kamar sana. Nanti sakit tidur di lantai." Ucapnya sambil menggoyangkan bahu remaja itu. "Hm...Iya." Jawabnya segera duduk. "Dek. Makan dulu. Kamu beli makan kan." Riza membawa nampan berisi makan malam untuk istrinya. Ia tau kesibukan hari ini membuat wanita itu lupa makan.
Riza menggelengkan kepala. Kini Ia sedang menyuapi istri sekaligus adik iparnya. Mark ikut makan lagi karena lapar lagi padahal sudah makan tadi sama Papa dan Riza juga. Nah yang membingungkan adalah, Yang menyusui kan istrinya kenapa jadi Mark yang mudah lapar. "Kya...Pedes banget. Kak Riza suapi aku pakai cabai untuk ya?" Tanyanya sambil meneguk air dengan cepat. "Masa sih? Enggak kok." Jawab Riza menahan tawanya. "Oh...Ini Lo mungkin. Di kering tempenya ada potongan cabe." Lanjutnya sambil memisakan cabai yang ada di piring.
__ADS_1