
Jihan baru datang dengan suami sembari menggendong putra bungsunya. "Kenapa bisa begini?" Tanya wanita itu menghampiri Jafar. "Tekanan darahnya naik tiba tiba." Jawab Jafar lalu menjelaskan kronologinya. Jihan mengangguk kemudian segera duduk sambil memangku Juma. "Sabar." Ucap Riza menggenggam tangan istrinya untuk memberi kekuatan.
Jihan bergegas menghampiri dokter yang menangani Ayahnya. "Bagaimana Dok?" Tanya wanita itu dengan cemas. "Kondisinya sudah stabil. Bisa dipindahkan ke ruang perawatan sambil menunggu siuman." Semuanya merasa lega mendapat kabar baik yang baru saja dokter sampaikan. "Terimakasih." Ucap Bunda memeluk putrinya dengan erat.
Ayah Jihan sudah membuka mata setelah beberapa jam mengarungi alam bawah sadarnya. Pria itu tersenyum menatap anak dan cucu cucunya yang berkumpul. Ia teringat di suah masa lalu. Tindakannya bisa dibilang kejam. Dulu saat terjadi sesuatu pada putrinya tak ada satupun dari keluarga yang menemani. Dan sekarang Jihan, putri yang dulu Ia tak pedulikan selalu ada untuknya. Bagaimana Jihan bisa melaluinya dulu pasti begitu berat. Tidak ada satupun keluarga yang datang saat Ia membutuhkan support. Membutuhkan doa dan dukungan untuk berjuang antara hidup dan mati.
__ADS_1
"Juma pulang sama kakak dulu ya." Kata Jihan takut anaknya akan kelelahan jika terus disini. "Nggak mau. Maunya sama Ibu." Jawabnya.
"Juma pulang sama kakak. Kamu nanti rewel disini kasihan Ibu." Jalwa menuturi adiknya. "Nggak. Juma nggak akan rewel." Jawabnya cepat. "Kalian pulang saja kalau gitu. Temani kakek. Jangan lupa untuk ingatkan minum vitaminnya. Ibu pulang besok." Ucap Jihan. Mereka mengangguk kemudian mencium dan memeluk Ibunya sebelum pergi.
Jihan menghampiri Ayahnya. "Makan dulu Yah. Ayah harus minum obat." Ucap wanita itu sambil mengambil mangkuk bubur yang ada diatas nakas. "Iya." Jawabnya sambil mengulas senyum di bibirnya yang pucat. Jihan mulai menyuapi Ayahnya dengan telaten. Tampak tulus dan tidak keberatan sama sekali dari raut wajahnya. "Terimakasih." Ucap Ayah Jihan sambil meneteskan air mata. "Terimakasih sudah mau mengurus orang tua yang jahat dan tidak berguna ini. Terimakasih sudah membalas kejahatan kami dengan perlakuan yang mulia. Ayah minta maaf untuk segalanya." Jihan hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menatap pria yang terbaring lemah di depannya.
__ADS_1
Malam hari Juma sudah tertidur pulas di pangkuan Ibunya. "Nggak mau lepas sama kamu ya." Kata Jafar sambil mengusap pipi keponakannya dengan lembut. "Nggak. Tidur juga sama aku." Jawab Jihan. "Tidurin di sofa dek. Capek kamu pangku Juma terus." Ucap Riza yang baru kembali dari toilet lalu duduk di samping istrinya. "Biarin. Nanti bangun." Jawab Jihan sambil mengusap punggung Juma.
Riza meletakkan putranya di sofa dengan hati hati lalu menyelimutinya. "Sudah jam 12 kamu nggak tidur Dek?" Tanyanya. "Belum bisa tidur." Jawab Jihan yang kini sudah menyandarkan kepala di bahu sang suami. Ia benar benar tak nyaman berada di rumah sakit. Namun Ia sebagai anak juga memiliki kewajiban untuk menunggui orang tuanya yang sedang sakit. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang Ia berbuat baik kepada orang tuanya. "Tidur. Sejak siang sama sekali kamu nggak tidur." Ucap Riza sembari memeluk sang istri.
Pagi hari Juma dan Riza sudah berangkat. Hanya Jihan dan Bundanya yang masih berada di ruangan rawat inap. "Kamu mau makan apa sayang? Sejak tadi belum sarapan." Tawar Bunda barangkali putrinya ingin sesuatu. "Tidak. Masih belum lapar." Jawabnya. "Jihan ke depan dulu mau ambil obat." Lanjutnya berpamitan.
__ADS_1
"Kakak." Ucap Mark langsung memeluk Jihan saat wanita itu keluar dari ruangan. "Kamu kenapa disini? Sakit?" Tanyanya khawatir. "Ingin bertemu dengan Kakak." Jawabnya masih dengan posisi yang sama. "Kakak maafkan aku." Lanjutnya sambil berderai air mata. "Maaf telah mengabaikan kakak. Mark minta maaf. Mark telah sibuk hingga lupa diri siapa yang berperan penting dalam hidup Mark selama ini. Tanpa Kakak juga Mark tidak akan mungkin bisa hidup seperti sekarang." Lanjutnya mengungkapkan semua yang ada di perasaanya. "Tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan hubungan. Saudara satu darah juga bisa berpeluang menjadi musuh. Apalagi hubungan seperti kita Mark. Kakak sudah berusaha agar hubungan kita selalu terjaga dengan memberikan kesempatan kedua. Saat itu kamu datang dan menangis lalu mengucapkan kata yang persis sama seperti sekarang. Kemudian hari kamu mengulanginya lagi. Hari ini juga kamu berkata demikian. Kakak tidak bisa menjamin besok kamu tidak melakukan hal yang sama." Ucap Jihan melepaskan pelukan Mark. Wanita itu tersenyum kemudian menepuk bahu adiknya sebelum melangkah pergi.