
Jihan duduk bersama anak anak sambil makan cemilan yang di bawakan Mark. "Assalamualaikum." Seseorang memasuki ruangan diikuti beberapa orang lainnya. "Waalaikumsalam." Jawab ketiganya kompak. "Kakak. Kakak sakit ya?" Tanya Gita dan Lita berhambur memeluk wanita itu. "Kamu sakit apa?" Tanya Mata mengecek suhu tubuh adiknya. "Panas." Jawab Jihan. "Ini ruam ruam kenapa?" Wanita itu terus bertanya. "Kulitnya iritasi gara gara ganti detergen kemarin."Riza datang menghampiri mereka. "Pakai obatnya dulu." Pria itu membantu istrinya berdiri. "Nanti aja lah." Ucap Jihan malas. "Sekarang." Tegas Riza menggandeng tangan istrinya untuk pergi ke kamar.
__ADS_1
Riza mengoleskan obat di punggung, leher dan perut istrinya. "Ayo Mas cepet. Aku mau balik lagi nih." Ucapnya tak sabaran. "Sebentar Dek." Pria itu mengecup bibir mungil yang terus protes itu membuat istrinya mendengus sebal.
__ADS_1
Jihan kembali bergabung dengan wajah cemberutnya diikuti suami yang duduk sambil merangkul wanita itu. "Ih. Tangan kamu berat." Kesalnya melepaskan tangan Riza yang bertengger di pundaknya. "Kenapa sih Ji? Cemberut begitu. Aku bawain martabak nih biar moodnya balik." Jihan tersenyum kemudian duduk di bawah mengajak anak anak untuk makan. "Pada nggak mau nih?" Tanyanya di jawab gelengan. "Badannya masih anget." Ucap Meta menempelkan telapak tangannya lagi pada kening Jihan. "Mas. Beli bakso yuk." Ajak wanita itu membuat mereka semua membelalakkan mata. "Memangnya belum kenyang?" Tanya Amir melihat kotak martabak asin dan manis yang hampir kosong. "Belum. Ya Mas." Jihan mengguncangkan lengan suaminya. "Kamu lagi sakit dek." Jawab Riza sambil mengusap bibir istrinya. "Aku pengen Mas. Sudah lama nggak makan baksonya pak Sukur." Riza menghela napas. "Dua hari yang lalu merengek minta bakso Mas belikan itu siapa?" Ucap Pria itu sambil mengelus kepala istrinya. "Baru dua hari yang lalu sudah lupa." Ucap Meta. "Pengen lagi." Mau tak mau Riza mengangguk menuruti kemauan sang istri. "Mas pesankan biar di antar." Putusnya.
__ADS_1
"Selamat malam pak." Ucap Jihan. "Mbak Jihan. Besok bisa bertemu? Ada yang perlu saya sampaikan terkait dengan pembangunan rumah." Tanya Pria di sebrang sana. Riza beringsut mendekat mendengarkan percakapan dua orang yang terpisah jarak itu. Ia nggak mau dong nanti istrinya di rayu pria lain seperti beberapa hari yang lalu saat di mall. "Besok? Jam berapa ya Pak?" Ia balik bertanya. "Jam 8 di cafe dekat klinik." Wanita itu tampak mengangguk setuju kemudian mengakhiri panggilannya setelah sepakat. "Siapa Dek?" Tanya Riza. "Kontraktor. Katanya mau ketemu. Mau bahasa sesuatu." Jawab Jihan Jujur. "Kamu kan sakit." Riza mencari celah agar istrinya tak bertemu pria yang lebih tampan darinya itu. "Siapa tau besok sembuh." Mereka semua hanya menggeleng dengan apa yang barusan Jihan ucapkan. "Lagian kenapa sih sering banget ngajak kamu ketemu." Ucap Riza tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. "Apalagi besok aku kan nggak bisa temani. Dia kalau mau ketemu kamu memang pas kalau aku lagi nggak bisa temani. Bisa banget. Sengaja itu." Lanjutnya sambil memainkan sendok yang ada di mangkuk seperti anak kecil. " Ini ngajak ketemu mau bahas rumah bukan mau kencan. Kamu ribet banget." Jawab Jihan menohok membuat mereka menahan tawa.
__ADS_1
"Kalian tidur disini?" Tanya Riza melihat anak anak tengah memeluk ibunya sambil tiduran di ranjang. "Iya Yah. Kita mau temani Ibu tidur." Jawab Jalwa. "Ibu kan sudah ada temannya Ayah. Kalian kembali ke kamar ya." Keduanya kompak menggeleng. "Dek." Keluh Riza namun istrinya tidak peduli. "Tidur aja kenapa sih. Sama anak sendiri begitu." Nah kan....Jadi Riza yang kena omel. Dengan terpaksa pria itu ikut berbaring menghadap sang istri yang di pisahkan oleh dua bocah yang berada di tengah tengah keduanya. "Gini ya kalau punya anak." Gumamnya memperhatikan Jaffan dan Jalwa yang memeluk Ibunya dengan erat hingga Riza sendiri tak bisa menjangkau sang istri.
__ADS_1