Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Geli


__ADS_3

Riza pagi pagi sudah di buat panik oleh istrinya. Baru saja ditinggal membeli sarapan sebentar wanita itu sudah tidak ada di dalam rumah. "Mark. Kak Jihan dimana?" Tanya Pria itu menghampiri iparnya. "Kayanya di halaman belakang. Aku dengar suara tawa dari sana. Ini aku juga mau kesana." Jawabnya.


Riza ketar ketir melihat istrinya sedang mengangkat pot tanaman. "Dek. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Pria itu buru buru menghampiri sang istri dan mengambil pot itu dari tangan Jihan dengan segera. "Kamu kalau di kasih tau tidak pernah menurut. Mas kan sudah bilang jangan banyak bertingkah." Ucapnya menggandeng tangan istrinya. "Tadi kita sudah larang Ayah. Tapi Ibu tidak menurut." Nah kan sekarang si kecil juga ikut ikutan. "Tuh. Anak anak saja tau masa kamu di bilangin susah banget." Riza mengecup kening istrinya pelan dan membawa wanita itu untuk duduk.

__ADS_1


Jihan menyuapi kedua anaknya sedangkan dia di suapi sang suami. "Kamu makan sarapannya Mas. Aku bisa makan sendiri kok." Pria itu menggeleng pelan menanggapi sang istri. "Mas makan nanti saja." Ucapnya sambil tersenyum. "Baru juga sembuh sudah berulah. Aku kunci kakak di kamar mau?" Ucap Mark dengan garang. "Berani kamu?" Jihan menatap adiknya dengan nyalang. "Hehe...Nggak lah. Masa sama kakak tercinta berani. Mana ada." Ucapnya sambil terkekeh pelan.


Dua bocah itu duduk mengapit Ibunya memberikan jarak pada sang Ayah untuk menempel. "Kalian ini." Gumam Riza karena duduknya tergeser. Jihan tertawa kecil melihat suaminya yang cemberut. "Masih sakit ya Ibu?" Tanya Jaffan. Jihan menggeleng pelan. "Sudah tidak Sayang. Setelah ini kita bisa liburan." Ucapnya membuat Riza yang sedang minum seketika tersedak. "Hati hati Mas. Siapa sih yang mau minta." Wanita Itu menepuk punggung suaminya pelan. "Apa kamu bilang Dek? Liburan? Nggak ada liburan lagi. Nggak ada keluar keluar. Di rumah saja. Biasakan itu. Mas khawatir setengah mati karena kamu." Ucap Riza menatap sang Istri begitu serius. "Mas. Kamu kan sudah bilang kalau katanya aku sembuh boleh ke Thailand, Brunai dan...." Jihan terus mengoceh sementara Riza hanyut dalam pikirannya. Pria itu tak menyangka jika Jihan mendengar apa yang disampaikan waktu itu. "Iya. Tapi Dek....Kondisi kamu tidak memungkinkan. Mas tidak mau terjadi sesuatu yang buruk. Cukup Mas menderita waktu itu saja. Melihat kamu terluka sangat menyakiti hati Mas. Jangan lagi." Riza menatap wajah istrinya begitu sendu kemudian mencium kening wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


Riza gemas melihat istrinya tak berhenti mengunyah. Pria itu menciumi wajah Jihan dengan rakus. "Ih. Jangan cium cium. Geli tau." Kesalnya mendorong tubuh pria itu. "Masa di cium suami nggak mau Dek." Keluhnya dengan wajah memelas. "Nggak Mau. Geli." Jawab Jihan karena jambang halus yang tumbuh di dagu Riza. "Cukur sana kak." Ucap Mark menepuk bahu kakak iparnya. "Lihat di cium aku nggak mengeluh." Mark menciumi wajah Jihan. Anak anak juga namun wanita itu tidak protes. "Iya Ayah. Sama kita Ibu mau." Jaffan dan Jalwa memeluk Ibunya Posesif.


Malam hari Riza menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu ikut membaringkan diri menghadap sang istri yang tidur terlentang menatap langit langit kamar. "Suhu AC nya terlalu dingin Dek?" Tanyanya sambil mengelus wajah cantik Jihan untuk memastikan agar sang istri merasa nyaman. "Tidak." Jawabnya sambil menghela napas. "Kenapa? Ada yang sakit? Ada yang tidak nyaman?" Riza mulai panik. "Tidak Mas. Aku baik baik saja." Jihan tersenyum memiringkan wajah menghadap siami. "Kamu membuat Mas takut Dek." Ucapnya. Pria itu tampak kurus. Bukan hanya Riza tapi orang orang terdekatnya juga sama. "Kalian terlalu memikirkan ku sampai lupa diri sendiri." Riza meraih tangan sang istri dan menciumnya berkali kali. "Semuanya akan baik baik saja jika kamu baik Dek. Kami sangat menyayangi kamu. Kami semua lega akhirnya Allah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul lagi." Ucapnya sambil tersenyum. Ia mencium bibir, hidung, kedua mata dan pipi istrinya dengan lembut. "Tidurlah. Mas mencintaimu." Ucap Riza merengkuh tubuh Jihan sambil mengusap punggung wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2