
Pagi pagi sekali Riza sudah berada di depan rumah istrinya. Pria itu menekan bel dan mengucapkan salam beberapa kali namun pintu tak kunjung terbuka. "Waalaikumsalam." Ucap Mark keluar dengan kaos dan celana pendeknya. "Kak Riza. Aku kira siapa. Ayo masuk." Ajaknya sambil melangkah ke dalam rumah. Riza mengangguk kemudian segera ikut masuk. "Mau kemana kak?" Tanya Mark menghentikan langkah pria itu ketika baru memijak tangga ke tiga. "Mau ke kamar." Jawabnya. "Kak Jihan tidak ada." Ucap remaja itu membuat Riza membeku di tempat. "Kemana? Kamu jangan bercanda." Riza masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. "Aku tidak bohong. Kakak berangkat ke Singapura semalam." Ucapnya sambil merebahkan tubuh di sofa. Riza melesat dengan cepat duduk di samping iparnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut. "Kenapa? Kenapa bisa pergi? Dengan siapa? Mau apa? Kenapa tidak mencegahnya?" Tanyanya bertubi tubi. "Dia ingin jalan jalan sekalian mengurus sesuatu entah apa aku juga tidak tau. Kak Jihan pergi sendiri. Untuk urusan mencegah aku dan Papa sudah mencoba. Tapi Kakak tau sendiri lah keras kepalanya seperti apa." Jelas Mark dengan gamblang.
Di negara lain Seorang wanita tengah menikmati sarapan di restoran mewah dekat apartemennya. Tidak hanya sekedar sarapan. Ia juga membaca sesuatu untuk memilih tempat yang akan dikunjunginya hari ini. "China Town menarik." Gumamnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Selesai menghabiskan hidangan, Jihan langsung bergegas memulai perjalanannya. Pertama Ia akan mengunjungi Merlion Park dan di lanjutkan ke tempat tempat berikutnya. Untuk mengurus sesuatu hanyalah sebuah alasan. Yang sebenarnya Ia berlibur untuk menenangkan pikiran saja. Bukan bermaksud lari dari masalah. Namun waktu untuk sendiri rasanya sangat di perlukan agar tidak semakin kacau. Jika hati dan pikiran tenang maka untuk mengambil sebuah keputusan jadi lebih bisa di pertimbangkan dengan baik.
Beda halnya dengan Riza yang cemas, galau, rindu dan merana. Hati dan pikiran pria itu hanya tertuju pada sang istri yang berada jauh darinya. Jangankan bertemu. Untuk sekedar mendengar suara atau mendapat pesan saja tidak. Riza ingin sekali menyusul tapi dia tidak tau apa apa. Jangankan ke Singapura. Ke Bali saja dia tidak pernah. Jika sampai nekat berangkat dan tersesat kan bikin repot. Apalagi di negara orang. Iya kalau ada yang menemukan dan bisa pulang. Kalau tidak bisa kan jadi gelandangan di sana. Mana menurut artikel yang di baca tadi disana mahal mahal. Istrinya memang lebih berpengalaman dalam bepergian. Ia juga sudah tau Jihan pernah mengunjungi banyak negara. Nah yang jadi masalahnya wanita itu sedang hamil dan rindunya Riza itu loh yang tidak bisa di tolerir. Baru semalam tidak memeluk istrinya saja Ia tak bisa tidur sampai adzan subuh berkumandang. Jadinya begini. Mengantuk kala sedang bekerja. Pikiran Riza mulai ngaco. Bagaimana lagi jika istrinya di goda para lelaki yang kulitnya lebih putih, lebih tampan dan lebih kaya darinya. Wajah oriental atau yang berwajah Eropa Istrinya bisa mendapatkan itu dalam sekali kedip. Pesona wanita itu tak terbantahkan. Beruntung dan juga cobaan bisa mendapatkan Jihan. Perjuangannya juga tidak mudah. Apalah daya dia hanya batu kali mendapatkan berlian. "Ya Allah." Ucap sang ustadz sambil meletakkan kepalanya di meja.
__ADS_1
Jihan menaiki MRT setelah menyuruh supirnya untuk memulangkan belanjaan di apartemen. Pukul 7 malam Ia baru sampai di China Town. Wanita itu melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak dengan sisi kanan dan kiri para penjual yang menawarkan makanan dan pernak pernik khas China. Lampu lampu lampion bergelantungan menghiasi malam dengan nuansa merah yang begitu kental.
Jihan duduk sebentar mengamati orang orang yang sedang berlalu lalang. Hatinya cukup terhibur dan lega hari ini. Menahan tangis bukanlah hal yang mudah. Bahkan itu sangat menyiksa. Namun kini Ia sadar jika sendiri itu lebih nyaman dan damai. Mau di paksa. Dia juga sudah berusaha. Namun hati tak bisa dibohongi. "Hanya nyaman." Ucapnya sambil menghela napas. "Jika ada sesuatu itu bukan salahku. Aku sudah berusaha sudah mencoba namun sia sia. Harusnya memang tidak perlu di paksa. Jika memang jodoh tidak akan kemana." Gumamnya pelan sambil menatap langit malam.
__ADS_1