
Jihan tetap diam padahal Riza sudah berkali kali minta maaf. "Mama sakit?" Tanya Jason melihat Mamanya yang tidak seperti biasa. "Tidak. Mama sehat." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Oh. Jason kira Mama sakit." Ucap remaja itu sambil melanjutkan sarapannya. "Ibu nanti jadi antar Juma sekolah?" Tanya si bungsu sembari makan di suapi Ibunya. "Jadi dong. Nanti Ibu jemput sekalian." Juma tersenyum senang karena sudah lama Ia tidak diantar Ibunya ke sekolah.
Mobil Jihan berhenti di sekolah Juma. "Ibu. Juma turun dulu. Ibu nanti jemput Juma kan?" Tanyanya memastikan. "Iya. Ibu nanti jemput kamu." Jawab Jihan mengecup kening putranya. "Love you Ibu." Ucapnya bergegas turun setelah mengecup kening Sang Ibu. "Love you too sayang." Jawab Jihan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Mata Jihan tak sengaja menangkap seseorang yang tak asing baginya. Dua orang sedang mengobrol begitu akrab sambil tertawa bersama. Satunya Riza dan satu lagi seorang wanita berjilbab yang kira kira berumur 40 an. Wanita itu membelokkan mobilnya untuk memastikan. Ia berhenti tepat di parkiran dekat jendela sehingga bisa melihat dengan jelas keduanya karna sedang duduk di depannya dengan pembatas kaca transparan.
"Bang Satria." Ucap Jihan memasuki ruangan sekretarisnya. "Bikin kaget." Ucap Pria beberapa tahun lebih tua darinya itu tidak formal saat mereka sedang berdua. "Carikan aku info tentang orang ini." Ucap Jihan sambil menunjukkan foto di ponselnya. "Itu kan suamimu." Jawab Satria heran. "Oh salah. Yang ini." Jihan mengganti fotonya. "Aku dengar namanya Adella. Cari cepat. Aku bawakan kamu cappucino dan cake. Lima menit aku tunggu." Ucapnya meletakkan kotak di atas meja lalu duduk di sofa.
__ADS_1
Satria menghampiri Bosnya yang duduk sambil minum dengan tenang. "Gimana?" Tanya Jihan menegapkan duduk nya. "Dia kerja disini beberapa minggu lalu. Dia janda dari Jogja. Alamatnya sama seperti alamat rumah orang tua suamimu. Dari berbagai sumber sih dia dulu pernah hampir dilamar suamimu tapi entah kenapa batal." Jelas Satria membuat Jihan memanas. Riza bilang Ia adalah perempuan satu satunya dan Jihan adalah cinta pertamanya ternyata bualan belaka. Ternyata dulu Riza pernah akan melamar seseorang. Namun karna tidak mendapat restu orang tua mungkin tidak jadi. Atau jika tidak karna dulu Riza akan di jodohkan dengannya jadi pria itu tak bisa bersatu dengan cinta pertamanya.
Riza masuk ke dalam kamar bertepatan dengan Jihan yang keluar dari kamar mandi. "Dek. Mas bisa jelaskan yang tadi." Ucapnya berjalan mendekat. "Mau jelasin apa?" Tanya Jihan sambil bersedekap dada. Kemudian menyuruh suaminya untuk berhenti. "Kamu egois tau nggak, maunya menang sendiri. Berasa paling benar sendiri. Kamu ketemu mantan tanpa bilang ke aku. Dan lihat aku pun kamu seolah olah nggak kenal aku. Kamu berasa benar begitu. Aku ketemu teman aku cewek dan izin ke kamu tetap salah. Dia janda Mas. Kamu posisinya punya istri. Kamu tau hukum dan kamu langgar sendiri. Aku nggak habis pikir. Dia orang yang pernah akan kamu lamar kan? Tapi karna di jodohin sama aku akhirnya batal. Kamu nggak bisa bersatu sama Dia. Katanya aku cinta pertama kamu. Bulshit. Semuanya bualan kamu Mas dan bodohnya aku percaya." Jihan keluar kamar meninggalkan suaminya setelah mengeluarkan semua isi hatinya.
__ADS_1
Malam hari Jihan dan Riza sama sama tidak bisa tidur. Wanita itu perlahan menyingkirkan lengan Juma yang memeluknya kemudian turun dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati hati.
Riza menghampiri istrinya dan duduk si samping wanita itu. Keduanya sama sama diam tak saling membuka pembicaraan. "Kita ketemunya nggak sengaja Dek." Ucap Riza namun Jihan tak peduli. Bukan itu poin pentingnya. Tapi izin dari suami dan sikap suaminya tadi lah yang menjadi titik utama kekecewaan. "Jangan bicara dulu sama aku Mas. Aku pengen tenang. Aku nggak mau kalau emosi malah keluar kata kata yang menyakitkan di aku dan kamu. Biarin aku sendiri." Jihan memberikan pengertian pada suaminya kemudian kembali masuk ke dalam meninggalkan Riza yang masih duduk di tempat.
__ADS_1