
Riza memeluk istrinya yang sedang sibuk membuat kopi. "Kamu nggak kerja Sayang?" Tanya Pria itu sembari mengecup pipi mulus Jihan dari samping beberapa kali. "Nggak. Lagi nggak ada kerjaan di kantor." Jawabnya. Ia mengangkat ekspresso yang tersaji dan menghirup aroma nikmat itu dalam dalam. Sebagai pecinta kopi Jihan selalu mengawali harinya dengan secangkir minuman yang bisa membuatnya semangat. "Mau?" Tanya Wanita itu berbalik sambil menawari suami. "Kamu saja. Jangan banyak banyak minumnya. Nggak baik." Pesan Riza tersenyum kemudian mengecup kening sang istri dengan penuh cinta dan kelembutan.
Jihan tidak menyentuh sarapannya sedikitpun. "Kenapa? Tidak enak? Atau mau ganti yang lain?" Tanya Riza. "Lagi nggak berselera makan aja Mas." Jawabnya. "Ibu harus makan. Nanti sakit lo." Jalwa menasihati. "Makan sedikit saja. Yang penting perut ibu kemasukkan sesuatu." Jaffan menyuapi Ibunya nasi goreng. Meskipun enggan namun Jihan memakannya karena menghargai usaha sang putra sulung. "Kamu sakit?" Tanya Papa di jawab gelengan oleh putranya. "Cuman lagi nggak mood buat makan aja Pa." Kata Jihan sembari menyesap kopinya. "Kebanyakan minum kopi sih. Makannya malas makan. Ayo makan." Riza menghela napas. Karena tak suka nasi goreng Pria itu mengambil dua lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat untuk di suapkan pada sang istri.
__ADS_1
"Mas." Jihan mencekal tangan suaminya ketika pria itu melepas pelukan karena akan masuk ke mobil. "Bawain rujak petis sama seblak ya kalau pulang nanti." Kata Jihan. "Kamu itu. Makan nasi nggak mau malah minta seblak." Riza mengecup kening istrinya. "Ayolah Mas. Daripada aku nggak makan. Iya kan?" Riza tampak mengehela napas melihat tingkah sang istri. "Iya Sayang. Mas belikan." Jawabnya sambil tersenyum kemudian membawa Jihan dalam pelukan hangat. Ia mengecup kening Istrinya kemudian segera berangkat.
Papa mengahmpiri putrinya yang sedang bermalas malasan sambil menonton TV. "Pa. Kalau Jihan mundur dari kerjaan Jihan gimana ya. Maksud Jihan. Jihan urus di rumah saja. Nanti Jihan datangnya kalau ada meeting penting. Soalnya suami sama anak anak pada protes karena Jihan kurang waktu di rumah." Kata Jihan menanyakan pendapat Papanya. "Memang seharusnya kamu itu istirahat. Jangan terlalu keras bekerja. Dari kamu remaja sampai sekarang selalu sibuk. Jadi istirahatlah." Ucap Papa mengelus lembut kepala putrinya. "Hm. Iya deh." Jihan mengangguk setuju dengan pendapat sang Papa.
__ADS_1
Jihan duduk di bawah sembari menikmati seblaknya. "Ini minumnya Bu." Kata Jaffan baru datang menghampiri wanita itu sembari ikut duduk setelah mengecup kening Ibunya dengan lembut. "Makasih sayang." Jihan tersenyum meneguk air dingin dari putranya. "Jangan banyak banyak Dek. Perut kamu sakit nanti." Tegur Riza. "Masih mau Mas." Jawabnya sambil meneruskan makan. "Em...Aku mau berhenti kerja." Ucap Jihan tiba tiba membuat mereka tersenyum. Memang ini yang semua orang inginkan. Mereka hanya mau Jihan di rumah dan istirahat dengan baik. "Makasih Ibu sudah mau menurut." Jalwa memeluk Ibunya diikuti Juma. "Lalu bagaimana pekerjaan Ibu?" Tanya Jaffan. "Akan ada orang yang mengurus. Ibu tinggal memantaunya saja." Jawab Jihan.
"Aku nggak mau Mas." Jihan merengek menolak jamu kunyit asam yang diberikan suaminya. "Ini enak lo. Biar sehat juga. Hari hari kamu selalu makan nggak sehat sama minum kopi juga. Sesekali minum jamu Dek. Diminum ya. Sedikit saja." Bujuk Riza namun Sang istri tetap menolak. "Kalau kamu bilang enak kamu saja yang minum jangan suruh aku." Jawabnya. "Mas sudah minum tadi." Riza mengusap kepala sang istri. "Aku nggak mau." Jihan merebahkan tubuhnya di karpet dengan paha suaminya sebagai bantalan kepala. "Ibu kenapa?" Tanya Juma ikut bergabung bersama kedua orang tuanya. "Nggak mau minum jamu." Jawab Riza. "Yaudah nggak usah di paksa Yah." Remaja itu ikut tiduran di samping Jihan dan memeluk wanita itu erat. "Ibu nggak lagi hamil adek kan?" Tanya Juma membuat Riza membelalakkan mata. Ia baru curiga. Jangan jangan tingkah aneh Jihan akhir akhir ini kerena wanita itu sedang hamil lagi.
__ADS_1