
Carissa menghela napas. Tadi Jihan mengajak untuk bertemu dan jalan jalan bersama. Namun ketika sudah bertemu Wanita dengan banyak anak itu malah melamun. "Aku disuruh datang untuk lihat kamu diam?" Tanyanya kesal. "Enggak." Jawab Jihan menyesap cappucino nya lagi. "Kenapa? Ada masalah?" Carissa menelisik ekspresi sahabatnya. "Nggak. Ayo jalan." Ucapnya meraih tas dan mulai berjalan tanpa mendapat persetujuan.
"Kita mau beli apa sih Ji? Daritadi keliling mulu. Capek tau." Carissa duduk berjongkok sembari memegangi kedua lututnya. "Itu tuh, nggak pernah olahraga makannya begini aja capek." Jihan meledek sambil berkacak pinggang. "Nyalon aja yuk." Ajaknya. Carissa berdiri dengan cepat. Ingin sekali Ia menggigit kedua pipi sahabatnya itu saking gemasnya. Mereka sudah berada di lantai paling atas harus turun ke bawah lagi. "Kenapa nggak bilang daritadi sih." Kesalnya. "Baru kepikiran." Jawabnya santai. "Astaga sadar aku sekarang kalau keluargamu itu super sabar." Gerutunya mengikuti langkah Jihan yang mulai menjauh.
__ADS_1
Jihan sedang spa bersama Sahabatnya. "Anak anak kamu makannya gimana kalo kamu ke salon kaya gini?" Tanya Carissa tau anak anak Jihan yang rewel. "Udah masak tadi. Biar Bibi yang angetin. Kita makan di restoran aja habis ini." Ajaknya langsung di setujui.
Pukul satu siang Jihan baru sampai di rumah. Wanita itu terkejut saat di peluk erat oleh anak anaknya. "Ibu darimana lama banget." Kata Jaffan. "Spa sama tante Carissa. Kalian sudah makan?" Tanyanya. "Sudah Ma. Juma yang nggak mau makan." Jawab Jason. "Kenapa?" Tanya wanita itu. "Nunggu Ibu." Jawab si bungsu sambil tersenyum. "Ada ada aja. Ini untuk kalian. Yang kotaknya putih kasih ke kakek. Ibu mau ke kamar dulu." Kata Jihan.
__ADS_1
Riza mendongak mendengar suara pintu kamar terbuka. "Dari mana aja sih Dek. Mas telpon kok nggak diangkat." Kata Riza memeluk istrinya dengan erat. "Dari Spa sama Carissa." Jawab Jihan melepas Jilbabnya menampilkan rambut sebahunya yang kini berwarna blonde. "Kamu ganti warna rambut?" Tanya Pria itu cukup terkejut. "Iya. Bosen coklat dari lahir. Sesekali." Jihan terkekeh pelan. Sangat cantik, dan makin membuat Riza minder. Jihan seperti idol korea dengan wajah beningnya begitu imut sedangkan dia sudah sangat tua di usia lima puluhan apalagi Riza sendiri tidak pernah berolahraga makannya tubuhnya juga tidak terjaga. "Kenapa Mas?" Tanya Jihan melihat suaminya menunduk. "Kamu nggak suka? Aku nggak cantik ya begini?" Lanjutnya. "Bukan. Kamu sangat cantik. Hanya saja...." Ia membelai pipi sang Istri tak mampu melanjutkan kata katanya. "Jangan berpikir macam macam. Aku cintanya cuman sama kamu. Nggak ada yang lain." Ucap Jihan tau apa yang di pikirkan suaminya. "Terlebih aku tidak bisa memberikan kepuasan." Lirih Riza. "Nggak usah terlalu dipikirkan. Aku terima kamu apa adanya Mas." Jihan memeluk Suaminya dengan erat. "Dan aku janji nggak akan ninggalin kamu." Lanjutnya mencium bibir pria itu dengan lembut.
"Ini kenapa Ma?" Tanya Jason melihat ruam di leher Ibunya. "Salah pakai tissue. Mama lupa pakai tissue nya tante Carissa." Jawab Jihan. "Memangnya tissue kamu habis Dek?" Riza mengusap ruam di leher istrinya. "Habis. Lupa mau beli. Beliin ya Mas." Kata wanita itu langsung mendapat anggukan. "Enak yang keju. Cobain deh Mas." Ia menyuapi Riza kue yang dibelinya tadi.
__ADS_1
Juma datang langsung duduk di tengah tengah memisahkan Ayah dan Ibunya. "Kebiasaan." Gerutu Riza. "Kan biar mudah makannya Yah." Jawabnya sambil tersenyum. "Sudah jangan ribut. Kamu mau makan saja banyak bertingkah." Tegur Jihan mulai menyuapi putra bungsunya. "Juma. Keluarin semua barang kamu dari mobil Ayah. Ayah kesel. Masa segala jenis baju, seragam sama bola juga ada di mobil Ayah." Jihan menatap suaminya heran. Memang akhir akhir ini Ia tak menjemput Putra bungsunya itu melainkan Riza karena sekalian pulang dari kampus. "Kok bisa?" Tanyanya. "Kebiasaan apa apa di taro di mobil sampai rumah nggak di ambil. Bertumpuk sampai baunya astagfirullah." Jawab Riza.
Riza menghampiri istrinya yang sedang duduk di balkon kamar menikmati angin yang bersemilir segar. Pria itu menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Tissue nya aku taro meja Dek." Ucapnya baru kembali dari supermarket membelikan tissue bayi untuk sang istri. Kulit Jihan yang sensitif membuatnya harus menggunakan apa apa yang serba lembut. "Iya. Makasih." Jawab Jihan mengusap lembut kepala suaminya. "Mas. Aku pengen bakso. Tapi Jason sama Julian nggak mau makan kalo beli. Nanti sore aku bikin ya." Riza menatap istrinya. "Memangnya tidak lelah?" Tanya pria itu. "Nggak." Jawab Jihan tersenyum. "Kamu baik banget sama mereka." Menurut Riza kasih sayang yang Jihan berikan pada dua anak itu tak di bedakan dengan anak anak kandungnya. "Mereka titipan sudah seperti anak yang aku lahirkan sendiri. Aku sayang mereka seperti sayang ke anak anak kita." Pria itu mengangguk paham dengan perasaan sang istri.
__ADS_1